Tags

, ,

Hai Magazine ternyata juga nulis resensi Questioning Everything. Saya jelas punya kedekatan emosional dengan majalah anak muda paling legendaris di Indonesia ini. Meski kalau buat usia sekarang udah nggak relevan dan males bacanya, tapi jaman SMP-SMA dulu kita mah konsumen loyal. Tuh, ada segepok di rumah.

Menurut kabar burung, cuma dua kali juga Hai ngangkat resensi buku di rubrik Stuff itu. Questioning Everything, sama satu lagi novelnya Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Sisanya gadget semua. Selamat datang generasi jaga counter Jogjatronik!

IMG_1294

Penulis: Luqman Hidayat

Nasib kurang baik dalam beberapa tahun belakangan ini sedang menerpa industri yang mengutamakan produk rilisan fisik. Banyak yang bilang, minat untuk membeli segala bentuk karya fisik seakan menurun. Membahas soal isu tersebut, kehadiran buku ini seperti menjawab_membongkar informasi rilisan fisik.

Lantas apakah generasi muda sekarang masih menaruh minat untuk menghasilkan sebuah karya fisik?

Lewat buku hasil kolaborasi dari dua pemuda asal Yogyakarta, yang juga merupakan motor utama dari pergerakan Warning Magazine, salah satu media cetak yang dikelola secara indie sejak 2012 di kota pelajar tersebut, terlihat lah semangat para pegiat kegiatan jurnalistik dalam skala lokal yang nyatanya masih terus bergeliat.

Banyak banget “harta karun” yang tersaji dari buku setebal 350 halaman ini. Konten utama yang dihadirkan di dalamnya adalah kompilasi dari 27 interview yang paling berkesan bagi kedua penulis selama mereka melakukan reportase untuk Warning Magazine.

Bahan-bahan interview yang dsajikan juga cukup menarik, ada kisah dari band sekelas Sheila On 7 sampai Banda Neira, dan juga fakta-fakta seru yang terungkap langsung dari dedengkot punk mancanegara seperti Doom dan Anti Flag di bagian kedua buku tersebut.

Nggak melulu soal band, pada bagian pertamanya ada juga obrolan tentang film, sastra, dan segala jenis budaya populer lain yang dirangkum menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Beberapa nama narasumber di dalamnya juga cukup menarik perhatian. Mulai dari legenda hidup sastra negeri ini seperti Remy Sylado, jurnalis musik seperti Wendi Putranto, hingga sineas seperti Nia Dinata yang mampu menawarkan informasi baru buat kita tentang bidang yang mereka jalani.

Nah, dalam beberapa interview ada sejumlah kalimat yang layak sensor, namun dibiarkan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Background tempat interviewnya pun juga beraneka ragam, sehingga kita yang membaca juga bisa membayangkan seperti suasana mereka ketika bertemu dengan para narasumbernya.

Mau tau bongkaran karya rilisan fisik, informanya lo bisa dapat di buku tersebut!

 

Advertisements