Tags

, ,

Sekitar setahun berlalu sejak keluarga saya memutuskan berhenti langganan surat kabar ini. Jadi pas mereka memuat resensi Questioning Everything, saya malah nggak tahu. Kabarnya, penulisnya anak Balairung. Dia mengkritisi aspek penjilidan dan ukuran huruf. No komen kalau itu, huihihihi..

questioning-everthing_kr_-23-april-2016

Judul: Questioning Everything (Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja)
Penulis: Tomi Wibisono dan Soni Triantoro
Penerbit: Warning Books
Terbit: Maret 2016
Tebal: xx + 358 halaman
ISBN: 978-602-0857-12-1

Dalam jurnalisme, ada beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam proses pengumpulan data. Di antaranya adalah dengan observasi dan meminta press rilis, jika ada. Namun, saya rasa, kedua hal tersebut tidaklah cukup jika tidak diikuti dengan proses wawancara kepada pihak-pihak terkait. Sebab, bagaimanapun wawancara adalah bukti autentik bahwa sang jurnalis telah benar-benar melakukan reportase.

Maka, ada yang unik dari buku yang berisikan 27 wawancara terbaik WARN!NG Magazineini. Ini karena Questioning Everything ditulis dengan format tanya-jawab, persis seperti sebuah transkrip wawancara. Oleh para penulisnya, pemilihan format tanya-jawab itu dimaksudkan agar data yang disajikan terlihat transparan dan objektif. Lebih jauh, dengan format penulisan seperti itu pembaca juga bisa merasakan kedekatan dengan narasumber yang bersangkutan.

WARN!NG Magazine sendiri sebetulnya adalah majalah musik yang berdiri di Yogyakarta. Namun, wawancara-wawancara dalam buku ini tidak melulu soal musik, melainkan juga film, buku, bahkan hingga isu sosial dan politik. Ini bisa dilihat dari latar belakang narasumber dan tentunya isi dari wawancara-wawancaranya itu sendiri.

Pada bab wawancara dengan Remy Silado, misalnya. Hal-hal yang dibahas tidak hanya soal Remy sebagai penulis dan pakar bahasa, tapi juga Remy sebagai musikus. Tak hanya tentang proses kreatif Remy sendiri dalam bidang musik dan sastra, melainkan juga pendapat Remy soal dunia musik, sastra, dan jurnalisme saat ini.

Kemudian, pada bagian wawancara bersama Joshua Oppenheimer, isu yang diangkat tak hanya soal film secara umum. Melainkan juga menyangkut-pautkannya dengan sejarah politik Indonesia. Begitu pula pada bagian wawancara dengan Puthut EA, substansi yang diangkat tak saja soal tulis-menulis, tapi juga media digital. Oleh karenanya, tidak salah rasanya jika ada yang menyebut jika buku ini memiliki isi yang cukup kaya.

Poin menarik lain juga ada pada sketsa-sketsa dalam buku. Dengan kata lain, buku ini tidak hanya menyuguhkan konten berupa tulisan tapi juga sketsa-sketsa dari beberapa perupa, seperti Oik Wasfuk, Dimas Haryo, dan Fighters Studio. Hanya saja, masih ada yang cukup disayangkan pada buku ini dari segi fisik. Pertama, soal penjilidan, di mana pengelimannya masih kurang rata dan rapi. Kemudian, ukuran huruf juga terbilang relatif kecil. Tapi untungnya, tata letak halamannya rapi, sehingga masalah ukuran huruf itu tadi tidak terlalu bermasalah.

Advertisements