Tags

, , ,

Pic: Tokobuku-bekas.blogspot.com

Pic: Tokobuku-bekas.blogspot.com

Akibat bulan Januari – Maret kemarin jadi salah satu masa tersibuk saya sepanjang usia (menghabiskan film-film wajib 2015, ikut penelitian hip hop Jogja, mempersiapkan perilisan buku Questioning Everything, dan pemanasan kerja di media baru), saya terpaksa menunda meneruskan seri bacaan Cerpen Pilihan Kompas.

Tatkala memulai lagi pun kudu melompat langsung dari seri tahun 2009 ke 2012. Saya tidak punya seri 2010 dan 2011 (buat yang punya dan tidak kepakai, saya menerima hibah). Jadi agak pangling karena ternyata ada cukup perubahan yang tidak saya lewati transisinya pada dua seri “yang hilang” itu. Paling kelihatan, kuantitas per-cerpen kian dibatasi (rata-rata tidak lebih dari 2000 kata). Ini jadi tantangan lebih untuk para cerpenis Kompas agar mampu menyiasati ruang yang makin sekedarnya itu guna tetap mampu menampung  keutuhan narasi, plot, dan pesannya.

Ada 20 karya cerpen yang diturutkan dalam Laki-Laki Pemanggul Goni, namun tak satupun yang  saya favoritkan. Malahan idola saya justru adalah bagian epilog yang ditulis oleh Maman S Mahayana, pengajar Universitas Indonesia dan dosen tamu di sebuah universitas terkemuka di Korea Selatan. Tak main-main, ia menulis hampir 70 halaman. Seperempat dari buku itu sendiri. Semua cerpen diulas satu-satu. Dievaluasi satu-satu. Hampir selayaknya sebuah resensi panjang. Sehingga di sini saya tidak hanya belajar menulis sastra, tapi juga penulisan kritik.

Oke, jadi kali ini saya mengudar ide-ide penelaahan Maman ini saja. Misalnya, ia sempat mengomparasikan “Laki-laki Pemanggul Goni” dari Budi Dharma selaku jawara dengan cerpen-cerpen bikinan Putu Wijaya. Jikalau Putu Wijaya piawai dalam menciptakan pembukaan yang mampu memaku pembaca dengan kalimat-kalimat pendek, maka Budi Dharma sanggup melakukan hal yang sama dengan kalimat-kalimat panjang.

Maman juga cukup royal menyanjung Seno Gumira Aji Dharma. Cerpen besutan Seno yang bertitel “Mayat yang Mengambang di Danau” memang membuat pembaca sanggup menyelami model bertutur yang kaya dan penuh wawas. Ia memaparkan proses pemburuan ikan di danau dengan jeli plus referensi yang meluap-luap.

“… tidak bisa lain, Seno termasuk salah satu dari sedikit cerpenis yang membaca! Cerpennya tak sekedar berkisah tentang sesuatu, tapi juga mengungkap informasi lain yang menuntut bacaan”.

Tak perlu geleng-geleng kepala. Memang adalah sebuah kelebihan bagi Seno sebagai sastrawan yang juga pernah melakoni kerja profesional wartawan. Dalam konteks kepengarangan Seno, bahkan Maman melemparkan pertanyaan retoris,”Apa yang belum dilakukan Seno Gumira Ajidharma dalam kancah kesusastraan Indonesia?”

Ada. Maman sendiri percaya. Ia kurang—tapi masih mungkin—mencetak sebuah mahakarya yang lebih fenomenal dari semua yang sudah dimilikinya. Sesuatu yang sudah digapai oleh Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, magnum opus yang sanggup memaknai kembali kebangkitan nasional.

Maman lantas juga los saja untuk mengkritisi deretan cerpen lain yang cenderung mengandalkan permainan metafora atau wewangian bahasa. Kisah-kisah yang menjauhkan diri dari persoalan sosiologis dan mengangkat kehidupan di atas realitas. Tidak salah, namun jadi perkara jika pengarang terlalu asyik masyuk mengurusi perkara bahasa. Sebuah wujud penyelewengan dari petuah Chairil Anwar: menggali kata hingga ke putih tulang!

Beberapa cerpen yang kena damprat Maman misalnya adalah “Renjana” karangan Dwicipta. Garis besar ceritanya ihwal romansa antara seorang aktivis dan kekasihnya. Dwicipta dirasa terlalu memaksakan diri untuk menciptakan nuansa bebungaan lewat deretan kalimat panjang yang kadang sulit dipahami karena banyak mengusung makna yang abstrak. Penggelembungan bahasa. Padahal, terlalu memusatkan perhatian pada aspek bahasa bisa memesongkan pengarang dari kebersihan dan kerapian kalimat.

Salah satu contoh kekeliruan yang diambil Maman dalam “Renjana” adalah kalimat ”telinga dan benakku masih memperdengarkan gemuruh..” Wueeladalah, memperdengarkan dan mendengar itu beda lho. Merujuk kalimat di atas, berarti yang membuat gemuruh itu benak dan telinga. Padahal logikanya ya telinga yang menerima gemuruh.

Wah, serem banget ya si Maman. Ia sendiri selalu memegang pedoman “sampaikanlah kejujuran meski pahit sekalipun” dari agama islam. Berarti kita ambil hikmahnya saja, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadikan pelajaran ya! (ending najis khas media baru saya).

 

 

 

 

Advertisements