Tags

, , ,

42img883

Pic: Banpustaka

 

Menuju Jurnalisme Beretika dibuka dengan sebuah konklusi dini bahwasanya apa pun wujud tantangan yang dihadapi wartawan Indonesia pada abad ke-21, pasti bermuara pada dialektika dikotomis antara idealisme wartawan dan praktik institusionalisme pers. Singkat kata, idealis atau kompromis.

Idealisme wartawan merujuk pada profesionalitas kinerja individual dan pergulatan etis wartawan ketika mengonstruksi fakta dan realitas menjadi sebuah sajian yang disebut ungkapan jurnalistik. Sementara itu, praktik institusionalisme pers memompa peran lembaga penerbit pers tempat si wartawan bekerja dalam kaitannya dengan tuntunan bisnis dan politis. Intinya, loyal terhadap kebenaran nurani atau loyal terhadap kelangsungan media massanya.

Mulanya agak bingung mau di bawa ke arah mana inti gagasan dan persoalan yang dibawa Wahyu Wibowo di buku ini. Setibanya di sekitar 30 persen isi, akhirnya mulai ada titik terang bahwa buku ini menggarisbawahi persoalan ihwal kerap diidentikannya kebebasan pers dengan kebebasan menerbitkan media massa.

Padahal kebebasan pers hendaknya dimaknai sebagai kebebasan yang eksistensial, yaitu kemampuan wartawan untuk menentukan dirinya sendiri. Berbeda dengan kebebasan sosial sebagai ruang gerak yang diberikan oleh masyarakat terhadap individu.

Gagasan otonomi pers seringkali disalahtafsirkan menjadi kebebasan pers. Kita cenderung mengikuti konsep otonomi dan kebebasan pers yang dianut oleh Amerika Serikat. Padahal landasannya lain.

Paradigma kebebasan pers di Amerika Serikat dibangun dari sejarah perlawanan terhadap campur tangan pemilik modal. Perjuangan kebebasan pers di Amerika Serikat pada awal 1960-an berangkat dari kegerahan jurnalis terhadap kontrol superketat yang dilakukan para pemilik modal dan para industrialis pers.

Sementara kebebasan pers di Indonesia tidak dilandasi semangat otonomi dalam rangka melepaskan diri dari cengkeraman pemilik modal, tetapi lebih dimotivasi oleh praktik ideologisasi yang dilakukan pemerintah sesuai dengan konteks zamannya. Jika kebebasan pers di Amerika Serikat berarti tindakan resistan dari loyalitas pers terhadap pasar,  kebebasan pers di Indonesia justru memunculkan ruang untuk bisnis dan menyasar pasar lewat aktivitas dan perusahaan pers.

Ini nampak dari bagaimana kebebasan pers pada era reformasi dapat dianggap sebagai indikator demokrasi, yakni tumbuhnya perbedaan pendapat secara sehat, tapi indikasi tersebut justru mencerminkan bahwa makna kebebasan pers lebih ditafsirkan semata-mata demi kepentingan pasar. Pasca dikekang dengan konstruksi misi pers pembangunan yang berarti tidak menyiarkan konten-konten yang berpotensi menciptakan ketidakpuasan terhadap negara, pers hari ini justru berlomba-lomba mengimplementasikan jargon bad news is a good news. Yups, 180 derajat.

Yang dibutuhkan Indonesia lantas adalah kesadaran wartawan untuk menjaga jarak dengan kepentingan bisnis, dan berprioritas menjalankan tugas utamanya pada masyarakat. Ini lantas membuka wacana dan dialog baru tentang ketidakrelevanan bahwasanya pers pancasila kemudian sekedar ditafsirkan sebagai jalan tengah dari ekstremitas pers otoritarian dan liberal.

N.B: Tulisan ini ditulis pas lagi sakit demam. Makanya jadi serius 😦

 

Advertisements