Tags

, , , , ,

Hasil gambar untuk big short poster

Adam McKay

Drama, Comedy

The Big Short mengingatkan saya kembali terhadap penggunaan relevan dari istilah “film berat”—jika memang selayaknya ada—yang mana seringkali salah dilampirkan ke sembarang film bertempo lambat. Yang lambat bisa jadi menjenuhkan, tapi sesungguhnya belum tentu berat. The Big Short punya irama yang cepat dan penyutradaraan atraktif, tapi saya akui butuh upaya lebih untuk diikuti. Sekedar menelusuri plot secara linear sih sangat memungkinkan, tapi untuk menikmati detil-detil ceritanya agaknya butuh pemahaman dan penguasaan referensi terhadap topik film yang bersangkutan.

Inilah yang disebut dengan kendala bahasa. Film yang aslinya berdurasi dua jam ini membengkak menjadi tiga jam ketika saya tonton. Satu jam ekstra habis untuk saya sebentar-sebentar menekan pause dan mengulik-ulik Wikipedia mencari tahu istilah ekonomi yang bertebaran di film: Credit Default Swap (CDS), tranche, Collateralized Debt Obligation (CDO), subprime mortgage, orgasm control, short selling, nipple stimulation, hedge fund, dll. (Jengkelnya, tiap searching satu istilah ekonomi, di dalam uraiannya melibatkan istilah lain yang harus di searching lagi, dan begitu seterusnya tiada akhir).

Repot adalah niscaya. Tapi tak bisa disangkal, kenikmatan tersendiri tatkala mendapat pemahaman istilah demi istilah tersebut untuk saling melengkapi penafsiran akan kepingan-kepingan yang membangun seantero cerita. Serasa main gamehouse. Puyeng tapi nagih.

The Big Short mengangkat momentum krisis finansial global di tahun 2007-2008 yang salah satu dalangnya adalah terjadinya gelembung ekonomi (economic bubble) pada sektor properti atau pasar kredit perumahan (perkara ini juga disajikan di tahun 2015 lewat 99 Homes dalam pendekatan berbeda).

Bisnis kredit perumahan sebelumnya dipuja-puja sebagai sektor perekonomian yang sangat solid dan kokoh. Pakar, bankir, dan seluruh dunia pun terlena. Rumah adalah kebutuhan primer yang apa saja akan dilakukan setiap orang untuk memilikinya. Gagasan ini menjamin industri tersebut, tapi eksploitasi pencarian keuntungan pada premis “apa saja akan dilakukan orang untuk memilikinya” ini lantas menjelma menjadi akar permasalahan.

Sejumlah pihak memanfaatkan mimpi setiap individu untuk memiliki rumah pribadi dengan membangun usaha bernama CDO. Fungsinya adalah meningkatkan—secara rekayasa—status finansial para pengguna kredit guna “mempermudah” jalannya transaksi kredit perumahan. Sekilas tampak mulia, namun adalah konsekuensi natural—tapi tak disadari—bahwasanya bisnis perumahan itu lantas bertumpu pada orang-orang yang sebenarnya tidak cukup punya daya finansial untuk membayar kredit. Solid di permukaan, rangup di dalamnya. Menunggu ambrol. Kebohongan dan keserakahan adalah sumbu dari bom waktu, dan BOOM!!! Wall Street luluh lantak, contoh riil adanya peluang pertumbuhan kapitalis sanggup menghancurkan dirinya sendiri.

Walau hanya untuk sejenak.

Syahdan, tokoh-tokoh utama dalam The Big Short adalah segelintir individu yang telah menyadari permasalahan itu sebelum bom waktunya meledak. Tapi mereka bukan superhero yang berupaya untuk menghentikan krisis yang berujung pada hujan pengangguran dan tunawisma tersebut. Mereka adalah pebisnis. Satu-satunya kekuatan spesial mereka adalah daya penciuman bau keuntungan dari fenomena ini.

Karya layar lebar yang mengeksplorasi subjek bidang yang spesifik dan jarang diangkat selalu menarik. Apalagi dieksekusi dengan storytelling yang unik. Dialektika berkonteks elit bersilang dengan sentuhan humor dan kasual. Jadinya ya tetap pusing sih, tapi juga minta ampun kerennya.

Dan kredit istimewa untuk kata mutiara dari Mark Twain yang ditampilkan di awal film:

It ain’t what you don’t know that gets you into trouble. It’s what you know for sure that just ain’t so.

Artinya,”Jangan gampang percaya. Apalagi dengan apa-apa yang enggak kelihatan”.

 

 

Best Line:

Vennet: I’m sorry. Do you smell that? What is that?

Collins: What?

Vennet: What’s that smell?

Moses: Cologne?

Vennet: No..

Chris: Opportunity

Vennet: No.. money

After Watch, I Listen : Courtney Barnett – Dead Fox

 

Advertisements