Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk spotlight poster

 

Tom McCarthy

Drama

Spotlight berkisah ihwal proses liputan investigasi dari The Boston Globe terhadap kasus pencabulan anak secara masif dan berpola oleh puluhan pastur di area Boston. Reportase impresif tersebut adalah yang membawa Spotlight, tim investigasi milik surat kabar saingan The Boston Heralds itu untuk diganjar penghargaan Pulitzer Prize di tahun 2003.

Spotlight adalah jawara Oscar pertama di kategori Best Picture yang juga hanya memenangkan satu kategori lain (Best Original Screenplay) sejak 1952. Alhasil, bisa dibayangkan kekuatan naskah dan ceritanya untuk lantas sanggup menandingi konstentasi atraksi visual The Revenant dan Mad Max: Fury Road. Singkat berkomentar, saya melihat Spotlight sebagai sebuah film yang sangat rapi dan disiplin. Menuntun kita begitu terjaga pada perkembangan kasus tanpa terinterupsi dramatisasi pastur atau korban. Layak untuk dikatakan apabila penyusunan plot film ini tak ubahnya metode penulisan artikel feature yang baik: memaku perhatian audiens dari awal sampai akhir dengan dialogis dan hidup, tanpa kehilangan fokus pada alur dan sudut pandang.

Sekian saja untuk masalah estetika. Lepas darinya, film ini mampu memberikan gambaran akan sebuah praktik jurnalisme investigatif yang berhasil. Sebuah praktik yang—tidak usah ngomongin era sekarang—di kisaran tahun yang sama (awal – medio 2000an) saja cukup langka dilakoni oleh media nasional.

Taruhan saja, andai Spotlight  dinaungi media Indonesia, diterimanya info mengejutkan bahwa diindikasikan sekitar enam persen (90 orang) dari populasi pastur di Boston pernah melakukan pelecehan seksualinsya allah—akan langsung diikuti publikasi besar-besaran tanpa verifikasi lebih jauh.

Sementara Spotlight—yang sesungguhnya—secara umum berupaya memenuhi apa yang dibutuhkan dalam metode reportase investigatif orisinal. Ada paper trail atau pencarian jejak dokumen publik maupun pribadi, pencetusan hipotesis untuk lantas diuji dan dianalisis, wawancara mendalam, hingga—yang mendekati muskil—verifikasi dari pihak seberang (ketika Walter “Robby” Robinson [Michael Keaton] mengajukan daftar pastur yang diduga sebagai pelaku pada sang pengacara yang dahulunya mewakili gereja).

Goenawan Mohamad menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan”. Ada suatu kejahatan yang ditutup-tutupi. Robert Greene yang disebut Bapak Jurnalisme Investigasi Modern juga membatasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting untuk kepentingan masyarakat tapi dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Ada tiga elemen di sana. Satu, liputan adalah ide orisinil dari wartawan dan bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindak lanjuti media. Kedua, subjek investigasi merupakan kepentingan bersama. Ketiga, ada pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari publik.

Dan Spotlight sanggup meyakinkan penonton bahwa leluasanya peluang seorang pemuka agama—yang kerap terkultuskan sebagai Tuhan itu sendiri—untuk berlaku pedofil adalah sebuah kejahatan.

Ini terkait dengan salah satu prinsip elemen jurnalisme yang dirumuskan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenthel, yakni “memantau kekuasaan dan menyambung lidah yang tertindas.” Untuk dapat berperan sebagai anjing penjaga, pers mensyaratkan keterampilan khusus, temperamen khusus, dan rasa lapar yang khusus.

Kunci keberhasilan wartawan adalah langkah kaki. Simak bagaimana Michael Rezendes (Mark Ruffalo) dalam film ini jatuh bangun mendekati Mitchell Garabedian, meneriaki sopir taksi, atau memburu berkas-berkas dokumen keterlibatan Kardinal yang lantas menjadi senjata pamungkas dari kasus ini.

Teknik mendapatkan dokumen memang seringkali diremehkan, padahal sebegitu penting. Michaekl Hiltzik, reporter investigatif bisnis pemenang hadiah Pulitzer yang bekerja untuk Los Angeles Times menukaskan bahwa inti hubungan dengan sumber adalah membuat mereka mengarahkan Anda agar mendapatkan dokumen resmi. “Mereka tak bisa menyentuh kami karena semuanya sudah tertulis di dokumen. Jika hal ini terdokumentasi, semua gertakan dan ancaman tak ada pengaruhnya. Kau punya pijakan yang mantap,” tandasnya.

Sikap skeptis yang ditunjukan oleh tim Spotlight terhadap tiap-tiap narasumbernya juga merupakan senjata resistan penting dari seorang jurnalis investigatif. Latar belakang dan agenda setiap narasumber perlu diendus. Agaknya berulang kali pula terdapat adegan upaya mereka menjaga independensi, seperti yang dilakukan Marty Baron (Liev Schreiber) pada kardinal:

Kardinal: “Aku rasa kota ini berkembang saat institusi pentingnya saling bekerjasama.”

Baron: “Terima kasih. Secara pribadi aku berpendapat bahwa suatu koran akan berfungsi secara maksimal jika ia bekerja secara independen.”

Dan menurut Kovach, perkara independensi adalah masalah paling prioritas di jagat media Indonesia. Bukan cuma masalah suap menyuap. Jakob Oetama mengatakan bahwa salah satu halangan kegiatan investigasi di Kompas adalah iklim ewuh pakewuh terhadap mereka yang dianggap terlibat dalam kejahatan. Keadaan itu yang menghambat harian tersebut dalam mengejar dan menyelidiki hipotesis yang sudah bercokol di kepala.

Tapi tak berarti liputan Spotlight di film ini tanpa cela. Ada kekeliruan—entah secara faktual atau hanya adaptasinya di naskah—terkait adegan Rezendes mewawancarai salah satu korban laki-laki di kantor Garabedian. Saya ingat bahwa menurut Andreas Harsono, ada semacam kode etik internasional —yang tidak banyak wartawan profesional tahu—yang mewajibkan kehadiran sosok wanita dalam sebuah proses liputan kekerasan seksual yang melibatkan unsur trauma. Alasannya mungkin agak seksis, tapi tak bisa dibohongi apabila fakta menyebutkan memang hampir seluruh kekerasan seksual dilakukan oleh laki-laki. Sosok laki-laki lantas rentan menumbuhkan kembali memori buruk akan peristiwa yang dialami korban.

Anyway, good work, Spotlight!

 

 

Best Lines :

Judge Volterra: Tell me, where is the editorial responsibility in publishing records of this nature?

Mike: Where’s the editorial responsibility in not publishing them?

After Watch, I Listen : The National – Fake Empire

 

Advertisements