Tags

, , ,

Hasil gambar untuk creed poster

Ryan Coogler

Drama, Sport

Seorang kawan mengaku menangis empat kali menonton film spin-off dari sekuel Rocky ini. Satu kawan lainnya tidak mau disebut menangis, hanya berlinang air mata dua kali. Yah, begitulah cara mereka merekomendasikan film ini.

Alhasil, saya secara spontan menghitung berapa adegan di film ini yang benar layak ditangisi. Terhitung ada beberapa. Terutama di bagian pertandingan terakhir, yang aneh ketika saya merasakan sentuhan harunya tanpa bisa menyadari dari mana asalnya. Pada akhirnya saya memang tetap tidak mengeluarkan air mata. Mungkin terlalu sibuk berpikir keras mencari-cari sumber gejolak trenyuh itu.

Yang pasti bukan karena naskah. Creed mengisahkan pertemuan Rocky Balboa (Sylvester Stallone) dengan Adonis Johnson Creed (Michael B. Jordan), putra dari bekas rival sekaligus mentornya, Apollo Creed. Merasa berhutang budi dengan Apollo di masa silam, Rocky menyanggupi permintaan untuk melatih Adonis yang berambisi menjadi petinju papan atas. Plotnya tak banyak berkelit dari patron ala Rocky: introduksi – kejayaan sementara -kalah/konflik – berlatih – pertarungan klimaks. Muatan citra petinju sebagai jalan hidup mereka yang bertumpu pada otot, pelarian dari kiprah akademis yang tersisih pun sudah terdaratkan di sekuel-sekuel sebelumnya.

Baru tatkala menonton untuk kedua kalinya, saya mulai mampu mengidentifikasi kekuatan utama Creed. Yang pertama adalah musik. Score di Creed tidak memberi kebaruan, tapi sakti mandraguna. Ini sudah sedari era “Eye of The Tiger”. Sebuah lagu glam – hard rock yang jelek, tapi entah kenapa bisa begitu berenergi di Rocky III dan Rocky IV. Sama dengan Creed dengan gelimang musik klasik dan orkestra yang sedikit cheesy namun sanggup meninggalkan nyeri manis di batin. Dan Coogler sejak awal telah sadar akan peran musik latar di film-film Rocky. “The music was a big focal poin,” tukasnya.

Selain musik, sosok Rocky sendiri adalah dalang utama atas keperkasaaan Creed. Penokohannya begitu solid. Agaknya, ini juga merupakan hasil panen dari hikayat karakter Rocky yang dipupuk sejak sebelum-sebelumnya.

Kadang kala saya suka membandingkan sekuel-sekuel akhir Rocky dengan serial-serial akhir animasi Dragon Ball. Ada sensasi yang sama ketika menyaksikan laku sebuah tokoh utama dalam kisah-kisah yang telah dibangun sangat panjang. Menghasilkan dampak nostalgia yang mengharu biru dan patetis. Seringkali menyimak sikap atau pernyataan-pernyataan bijak Rocky di Creed kunjung mengingatkan pada kenangan akan sosoknya yang sesekali masih ceroboh dan fluktuatif di era silam. Nostalgia itu yang mendorong kita untuk terus respek dan mencintai Rocky, kendati ia tak lagi melayangkan satu pukulan pun.

Bisa jadi memang sudah sejak Rocky 3 semestinya Stallone tidak lagi menggeluti urusan belakang layar. Lontarkan saja urusan naskah dan penyutradaraan pada yang lain (toh pakemnya sudah paten), dan fokus menjadi Rocky. Akting prima niscaya yang ia dapat. Terbukti di Creed. Contohnya, ia menampilkan salah satu ekspresi paling menohok untuk adegan seseorang yang mendapat klaim dirinya mengidap kanker (SPOILER ALERT! – terlanjur). Di tengah, saya sampai berpikir akan jadi langkah gila untuk mematikan karakter utama ikonik di spin-off.

Terlebih, tiap kali bel akhir ronde di pertandingan terakhir berbunyi, sosok Stallone yang muncul untuk memberikan wejangan pada Adonis selalu menyayat hati. Hasilnya adalah salah satu laga paling menguras emosi di antara seluruh pertandingan pamungkas pada sekuel Rocky. Padahal bukankah apa yang terjadi dalam sesi pertarungan akhir di seluruh film Rocky seringkali berimpak pada kesan kita terhadap sekujur filmnya?

 

Best Line:

Rocky Balboa: You can’t learn anything when you’re talking. That’s a fact of life. As long as you’re talking, you’re not listening.

After Watch, I Listen : Miguel – “A Beautiful Exit”

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements