Tags

, , , ,

Hasil gambar untuk brooklyn poster

John Crowley

Drama, Romance

Dekade 50-an, daratan Amerika Serikat menjadi dunia menjanjikan untuk masyarakat Eropa. Tak terkecuali Eilis Lacey (Saoirse Ronan), seorang gadis pedalaman Irlandia yang bersiap menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan menerjunkan diri dalam gelombang imigrasi jauh ke Brooklyn, New York. Tentu, selamat jalan untuk ibu, kakak perempuan, dan kampung halamannya.

Semua berjalan seperti halnya yang lazim dialami individu yang melakukan urbanisasi. Perjuangan adaptasi dihantam debur rasa keterasingan. Perlahan, Lacey baru beranjak menemukan kenyamanan, utamanya pasca bertemu Anthony “Tony” Fiorello (Emory Cohen) yang dengan segala skema romantikanya mampu mengundang pancaran aura positif dari Lacey. Di puncak kebahagiaannya, Lacey mesti balik ke kampung halaman lantaran kakak perempuannya wafat tiba-tiba. Pelik. Sesampainya kembali ke Irlandia, rencana kepulangan yang hanya sebentar menjadi kian panjang akibat berbagai hal, termasuk pertemuannya dengan Jim Farrel (Domhnall Gleeson) yang jatuh hati tanpa tahu bahwa sudah ada cinta yang mengikat Lacey di negeri seberang. Eilis pun terjebak bukan hanya pada dua pria, melainkan juga antara rumah dan masa depan.

Pendekatan akan masalah ruang dan imigrasi ini membuat Brooklyn menjadi film romantis terbaik tahun ini. Saya sendiri menyukai banyak karakter minor yang mengiringi kisah Lacey. Misalnya, adik bungsu dari Tony yang ceplas ceplos, atau supervisor yang ujug-ujug selalu muncul dengan pose khas untuk mengomentari kinerja Lacey. Peran mereka pinggiran tapi tidak tertebak, dan seringkali menimbulkan kejenakaan.

Dan favorit saya adalah karakter dua teman wanita kemayu yang tinggal bersama Lacey di boardinghouse. Di awal, keduanya bergelagat tipikal antagonis yang pasti akan melancarkan aksi bullying terhadap Lacey —yang tipikal Cinderella. Nyatanya, mereka juga banyak membantu dan mengasuh Lacey. Tabiat pencibir itu tidak dipancing lebih jauh menghasilkan karakter antagonis yang keji, melainkan hanya sebagai sepotong watak yang umum saja. Sangat manusiawi, dan kocak. Terutama salah satu dari keduanya yang hobi ngakak hingga kesulitan menahan tawa, anjing banget.

Performa Cohen sebagai Tony juga maksimal, disokong aksen Italia dan gayanya yang mengesankan. Ia tampak keren meski tidak digambarkan keren, dan punya pembawaan yang relevan untuk memberi rasa nyaman bagi Lacey. Sayang, ini tidak diimbangi dengan karakter Gleeson. Saya selalu saja bosan dengan interaksi antara Lacey dengan Farrell. Dalam praduga positif, penonton mungkin sedari awal memang dipandu untuk hanya mencintai Tony, sehingga akan berharap-harap cemas dengan kemungkinan Lacey untuk meninggalkannya demi Farrel.

Brooklyn dijamin lebih emosional bagi mereka yang menjalani kisah kasih perantauan. Sebagai sosok yang tidak pernah berdomisili ke luar Jogja, saya bisa dibilang belum pernah mengalami hal-hal itu, tapi tidak menghalangi untuk berempati. Batin yang canggung dan was-was di awal menginjakan kaki ke tanah yang baru, berlinang air mata mendapat kabar dari orang tua, senangnya menerima sapaan oleh orang dari kampung halaman yang sama, hingga momen-momen homesick yang sanggup menurunkan performa kerja dan kuliah.

Di sisi lain, Brooklyn mengingatkan nilai sebuah “perpisahan jarak” yang sesungguhnya di masa lampau. Setengah abad yang lalu, betapa mudahnya kita kehilangan sentuhan dari tempat kita berasal atau kenalan dan keluarga. Sesuatu yang dimuseumkan teknologi. Tony bisa begitu mudah kehilangan istrinya hanya karena jarak, sementara kini LDR bukan lah apapun selama masih punya nomor kontak, atau pacar Anda masih suka nge-post foto makanan di Path. Bahkan, hari ini ada dokter orang dewasa hilang kontak saja sudah dituduh diculik.

By the way, film ini juga jadi salah satu yang bertanggung jawab atas alasan saya untuk membatalkan proyek mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri. Terutama di adegan Ibu Lacey yang terisak-isak di telepon usai memastikan dirinya akan menunggu akhir sebatang kara.

 

Best Line:

Tony: I wanna ask you something and you’re gonna say, ‘Oh it’s too soon. I don’t really know him well enough. We only been out a couple of times’ Oh it’s nothing so bad. I’ts just something that most guys, they…

Eilis: Please just asks. You’re beginning to terrify me

After Watch, I Listen : The Cranberries – Ode To My Family

 

Advertisements