Tags

, , ,

 

Hasil gambar untuk jurassic world poster

Colin Trevorrow

Action, Adventure, Sci-fi

Jurassic World sempat menjadi film berpenghasilan terbesar sejak lima tahun terakhir sebelum disalip oleh fanatisme umat pada Star Wars : The Force Awakens. Saya sendiri menyesal luput menonton Star Wars : The Force Awakens gara-gara menunda-nunda. Tapi dengan ijin apriori, tidak yakin rasanya sebuah film perang luar angkasa akan menggeser posisi Jurassic World sebagai film blockbuster favorit saya tahun ini. Yah, mungkin karena setidaknya dinosaurus lebih ilmiah.

Masih ingat dengan pulau Isla Nubar? Komodifikasi akan kerja kloning gen dinosaurus semakin pesat. Pulau penuh tragedi itu kini menjadi kebun raya dinosaurus terbuka bernama Jurassic World. Seperti halnya Jurassic Park (1993), kekacauan dimulai ketika dinosaurus yang paling berbahaya di pulau tersebut lolos dari kandang. Tokoh monster dalam Jurassic World adalah seekor dinosaurus multi gen (hibrida dari Raptor, T-Rex, indomie rasa ayam bawang, dan katak) yang bengis nan tangguh, namun punya nama menggelikan: Indominus Rex. Sementara tokoh utama manusianya adalah Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) selaku manajer operasional Jurassic World, dan Owen Grady (Chris Pratt), mantan angkatan laut yang alih profesi menjadi pawang raptor.

Kukuh sebagai salah satu ikon four-quadrant movie, karakter anak kecil tak pernah ketinggalan dimunculkan di sekuel Jurassic Park. Kali ini lewat Gray (Ty Simpkins), yang sedang berwisata di taman tersebut ditemani kakaknya, Zach (Nick Robinson). Tidak ada hal yang bisa diceritakan dari keduanya selain bahwa emosi yang dibangun oleh kedua aktor tersebut begitu lemah.

Untungnya, para dinosaurus di Jurassic World tampil jauh lebih prima dibanding tokoh-tokoh manusia (yang memerankan manusia). Elemen keseruan dalam Jurassic World dipompa seperti seharusnya sebuah film yang ingin menjadi monster di skala blockbuster. Banyak adegan yang terlihat sekali gelagatnya untuk sengaja ingin menciptakan momen gempar:

  • Adegan Owen menyelamatkan seorang pemberi makan raptor.
  • Adegan Indominus Rex mengelabui penjaga untuk keluar dari kurungan.
  • Adegan raptor dilepas untuk memburu Indominus Rex.
  • Adegan Claire memanggil T-Rex (Saking hanyutnya, saya sampai lupa kalau T-Rex belum keluar sama sekali).
  • Adegan pamungkas ketika Mosasurus menyambar tiba-tiba (SPOILER ALERT! – terlanjur).

Semua itu ampuh di saya.

Adegan per adegan itu menggerogoti usia saya untuk kembali pada kenangan menghafalkan nama-nama dinosaurus dari ensiklopedia kesayangan. Sudah lama sekali sejak saya terakhir merasa dibuat seperti anak kecil oleh media (secara rohani ya, bukan fisik).

Sebagai film keluarga, disebarkan juga kritik-kritik kehidupan yang tersampaikan dengan lumayan ringan, tapi tidak terlalu norak. Misalnya akan obsesi militer untuk merekrut raptor sebagai senjata hidup, dengan motif “Kesetiaan mereka tak bisa dibeli. Kita ingatkan siapa mereka. Bunuh yang melawan. Biarkan hanya yang setia.”

Karakter Indominus Rex sendiri dibangun dari nilai-nilai menyimpang. Sebagai produk, superioritas Indominus Rex berangkat dari etos korporat yang merujuk pada hasrat ketamakan konsumsi pasar untuk selalu mendambakan yang “bigger, better, stronger, and faster”.

Dan sedikit paradoks sebenarnya, karena hanya film yang ditopang prinsip serupa yang mampu mengurung mahkluk jutaan tahun silam ke dalam layar lebar.

 

Best Line:

Masrani: You created a monster!

Henry Wu: Monster is a relative term. To a canary, a cat is a monster. We’re just used to being the cat.

After Watch, I Listen : Avenged Sevenfold – “Shepherd of Fire”

 

Advertisements