Tags

, , ,

Hasil gambar untuk the end of the tour poster

James Ponsoldt

Drama

Terdapat dua film yang saya bisa menikmatinya melalui persepsi kerangka referensial,—teori studi audiens dari Elihu Katz, 1993—di mana kisah dalam film seolah terhubung pada kehidupan personal. Yang pertama adalah Almost Famous (2000), film tentang perjalanan seorang jurnalis musik belia meliput tur sebuah band rock untuk majalah Rolling Stone. Ada banyak adegan atau situasi psikologis di film itu yang terasosiasi langsung dengan realitas yang biasa saya hadapi.

Dan tahun ini saya merasakan sensasi menonton yang serupa lewat The End of The Tour.

Sama dengan Almost Famous, film ini juga berangkat dari kisah nyata. Berpusat pada David Foster Wallace, penulis inovatif terkemuka yang tewas gantung diri pada tahun 2008 silam. Namanya melejit sejak menerbitkan Infinite Jest, sebuah novel distopia Amerika Utara yang menampilkan dialektika postmodernisme dengan paparan latar yang sangat detil. Sudah menjadi ciri khas Wallace, ada ratusan catatan belakang (endnotes) di dalamnya, sehingga buku itu juga dikategorikan sebagai novel ensiklopedis. Cerdas dan modern, menimbulkan citra keren untuk kaum remaja laki-laki yang mengonsumsinya kala itu (Semua pria yang saya kencani pasti punya buku itu di raknya,” ujar seorang pelayan toko buku pada Jason Segel, pemeran Wallace). Majalah Time pun memasukannya pada senarai 100 Buku Novel Berbahasa Inggris Terbaik Sejak 1923.

Sifat Wallace yang introver membuat tak banyak yang benar-benar mengenalnya. Semenjak ia berkalang tanah, salah satu sosok yang paling kerap menjadi rujukan seputar dirinya adalah David Lipsky (Jesse Eisenberg). Dia adalah kontributor majalah Rolling Stone yang mengajukan diri—dan berhasil—untuk melakukan liputan panjang dengan Wallace terkait tur Infinite Jest di tahun 1996.

Lipsky: How many times have we interviewed a writer in the last 10 years? Take a guess.

Rolling Stone Editor: Uh, how many?

Lipsky: Zero, I checked.

Namun, liputan yang total berlangsung lima hari tersebut tidak jadi diterbitkan oleh Rolling Stone. Lipsky lantas mengeksekusinya menjadi sebuah buku bertajuk Although Of Course You End Up Becoming Yourself: A Road Trip with David Foster Wallace. Terbit dua tahun pasca Wallace berpulang, buku itu meraih status penjualan terbaik dari New York Times.

Film The End of The Tour mengadaptasi kisah proses kerja liputan Lipsky terhadap Wallace tersebut. Tak ayal, ditaksir sekitar 80 persen isinya hanya dialog. Entah dalam mobil, mal, meja makan, atau pesawat terbang. Entah bagian dari wawancara atau obrolan natural. Penonton tak ubahnya alat rekam merek Sony milik Lipsky di film itu yang menjadi saksi percakapan remeh temeh perihal junk food dan perilaku anjing, hingga perkara substansial seperti hakikat penulis untuk mengenyam rasa sepi. Intim dan mendalam.

Mulanya, mungkin kita akan menghakimi Wallace sekedar sebagai penulis idealis yang merasa bahwa fotonya yang akan terpampang pada Rolling Stone membuatnya menjadi seperti seorang pelacur. Namun, seiring kian dekat interelasi keduanya, Lipsky sukses mengundang pernyataan-pernyataan yang memperlihatkan kerapuhan Wallace menghadapi kemungkinan popularitas dan cengkeraman depresinya. Film ini juga seperti penelusuran atas bagaimana komplikasi psikologis dapat menggiring seorang penulis genial untuk memutuskan mengakhiri lembaran hidupnya dalam lilitan kasau di pekarangan rumah.

The End Of The Tour jelas melelahkan untuk mereka yang tidak biasa menyimak film lempeng seperti ini, apalagi jika minat pada wilayah literatur dan sastra pun nihil. Tagline-nya yang berbunyi “Imagine the greatest conversation you’ve ever had” niscaya akan terbaca “Imagine the borest 105 minutes you’ve ever had.

Dari hemat saya, dialog pada The End of The Tour—mau tak mau—memang kuat. Tapi belum tentu saya sendiri juga akan tahan andai performa dari duet Eisenberg dan Segel tak benar-benar mempesona. Mereka sedemikian sanggup menghidupkan dialog yang ada sehingga kita tak berakhir hanya seperti anak magang media yang dimintai jasa transkrip interviu.

Ada banyak contoh konversasi inspiratif di film ini. Salah satunya ketika Wallace mengungkapkan metafora antara kebiasaannya menonton televisi dengan masturbasi. Tidak buruk sekedar sebagai pemuas, tapi jika dilakukan 20 kali sehari, berarti ada masalah di sana. Masalah dalam hubungan kita terhadap seksualitas berpasangan sebagaimana masalah dalam hubungan kita terhadap dunia di luar semesta kotak ajaib.

Kembali ke kerangka referensial, saya sungguh seperti bisa melihat diri sendiri di layar ketika menonton film ini. Saya merasa sangat teridentifikasi oleh gestur dan gaya wawancara yang ditampilkan Eisenberg. Mulai dari gerak-geriknya yang kadang canggung, refleknya dalam memotong pembicaraan, tawa kecil basa-basinya, sedikit gugup ketika ditanya balik, hingga suara tipisnya yang kadang tak terlalu jelas karena terlalu pelan ditambah pelafalan tergesa-gesa. Semua adalah kebiasaan saya ketika berhadapan dengan narasumber. Apalagi film ini saya tonton tepat di tengah waktu penggarapan proyek sebuah buku kumpulan wawancara dengan sejumlah pelaku kreatif, termasuk beberapa penulis mahsyur nasional. Ini bisa jadi bahan evaluasi, wakakakak.

Bahkan, metode pencatatan deskripsi latar ruang liputan yang dilakukan Lipsky—dengan merekam lisan apa yang ia temukan—untuk menjadi bahan tulisan pun juga biasa saya lakukan. Bedanya, jaman sekarang tentu saya memilih menggunakan video perekam di ponsel.

 

 

Best Line:

David Foster Wallace: I’m telling you. That this was not a Lost Weekend sort of thing. Nor was it some lurid, romantic, “writer is alcoholic” sort of thing. What it was, was a 28 years old person who had really exhausted a couple other ways to live.

After Watch, I Listen: Kurt Vile – Pretty Pimpin

 

 

Advertisements