Tags

, ,

images

“Cerpen, Membuat Robot Punya Hati,” ialah tajuk epilog di antologi cerpen Kompas satu ini. Penulisnya adalah Kusmayanto Kadiman, sosok Menteri Riset dan Teknologi 2004-2009. Apa gerangan sebuah proyek apresiasi sastra—yang erat terikat dengan humanisme—kali ini melibatkan orang yang percaya dirinya robot sebagai kurator? Sebelum dianggap lelucon, redaksi pun mengonfirmasi di awal bahwa beliau, yang mungkin lebih banyak berurusan dengan logaritma daripada aksara ini merupakan pembaca setia cerpen Kompas yang rajin dan reaktif. Beliau kerap mengirim drone komentar dan saran ke redaksi Kompas. Dan ini dirasa menjadi bukti bahwasanya beliau punya minat dan dedikasi mewakili kebutuhan awam untuk menilai karya-karya di dalamnya—diimbangi dengan pasangan kuratornya yang memang kritikus sastra tulen, Budiarto Danujaya.

Tapi ya paling Itu diplomatis saja sih. Pokoknya dia orang penting yang kebetulan suka baca cerpen Kompas. Gitu aja.

Syahdan, entah ada hubungannya atau tidak antara masuknya orang iptek sebagai juri dengan deretan cerpen terpilih yang lantas banyak diisi oleh nama-nama baru, sebagian lagi android. Terhitung signifikan. Hampir 75 persennya terdengar asing buat saya. Tak ada nama-nama langganan pengisi beberapa seri cerpen Kompas sebelumnya seperti Seno Gumira Ajidharma, Puthut EA, Ugoran Prasad, atau Triyanto Triwikromo.

Satu yang paling mencuri perhatian adalah Sungging Raga. Di bagian biodata, tertulis ia kelahiran 1987. Artinya, cerpennya yang terpilih di bunga rampai ini terbit di usianya ke 22. Woi, umur segitu saya baru kelar baca Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. (Wkwkwkwk anjing, kalimat barusan kok kesannya aku udah umur berapa)

Biodatanya yang sepi atribut dan prestasi juga malah menunjukan bahwa ia memang potensi baru saat itu. Belakangan, ia sudah jadi sosok diperhitungkan di percaturan cerpenis.

Dan pada dasarnya bukan perkara usia, melainkan cerpennya sendiri yang membuat saya terkesan. Judulnya “Senja di Taman Ewood,” dan kisahnya perihal sepasang muda-mudi yang membangun rutinitas menikmati senja, hingga suatu ketika salah satu menjanjikan pada pasangannya untuk menjadi senja itu sendiri. Senja yang merah pekat.

Apakah ia berhasil? Itu terjawab di bagian penutup yang mencengangkan. Sehingga spoiler di sini akan menjadi bencana. Kelebihan “Senja di Taman Ewood” adalah mempertahankan nuansa plot yang kalem dan romantis—alih-alih horor—untuk tiba-tiba meledak di akhir. Hanya dengan satu paragraf pendek.

Kalau saja aku bisa bertanya kepada penyair dan penulis cerita yang suka membawa obyek senja, mungkin mereka tahu, mungkin mereka pernah beberapa kali menjadi senja sehingga senja selalu hidup dalam tulisan mereka. Tetapi, itu tidak mungkin.

Advertisements