Tags

, , ,

6579331

Tanpa ripuh bahas ini-itu atas bab Prolog-nya yang filosofis bin ruwet, langsung saja bahwa cerpen favorit saya di bunga rampai kali ini adalah “Senja di Pelupuk Mata” karya Ni Komang Ariani. Cerpen yang mengisahkan pasutri berusia lanjut. Mereka menghadapi sisa hidupnya berdua, sepeninggal anak-anaknya yang telah lepas menuju kehidupan rumah tangga masing-masing. Terdengar biasa? Sangat.

Sebetulnya “Senja di Pelupuk Mata” boleh jadi kalah jauh dari sang jawara, “Smokol” (buat yang belum tahu, judul antologi cerpen Kompas memang selalu diambil dari cerpen yang didaulat sebagai yang terbaik. Bosan menjelaskan ini sebenarnya, tapi harus ikhlas). “Smokol” mengandung gagasan makna yang berlapis. Memadukan cakrawala kuliner dengan ilham politik. Salah satu cerpen dengan kedalaman ruang tafsir paling mengagumkan yang pernah saya baca.

Akan tetapi, “Senja di Pelupuk Mata” kadung tak mau angkat kaki dari pikiran.

Benar-benar seperti di pelupuk mata. Lakon yang konkret bukan kepalang. Orang tua yang hidup dalam ketuaan dan masa renta, tertinggal jejak oleh putra-putrinya yang baru seperti kemarin masih merengek minta ikut ke pasar atau ke tempat kerja selalu terjadi. Tahapan hidup tiap insan yang mendekati keniscayaan. “Senja di Pelupuk Mata” mendekatkan ketakutan itu.

Putri sulung mereka dipersunting bule dan diboyong ke Amerika Serikat. Sejak menikah, ia tak pernah pulang. Tak ada kesenggangan barang sekedar mempertemukan orang tuanya dengan sosok cucu.

Putri kedua naik ke pelaminan setahun kemudian, dan pindah ke Jakarta. Tak cukup jauh untuk pulang 3-6 bulan sekali, namun lambat laun menjadi 2 tahun sekali.

Sementara sang putri bungsu untunglah hanya menikah dengan warga satu kampung. Menuai asa untuk tetap ada, kendati hanya menyapa. Namun, perlahan tapi pasti berakhir bagai anak yang tinggal di beda pulau. Pulang hanya demi memenuhi syarat keabsahan mudik lebaran.

Ni Komang Ariani memang agak sedikit melarat-larat meramu narasinya. Sang tokoh suami—atau berarti Ayah dari ketiga putri itu—tiba-tiba ngidam ke Tanah Lot. Sementara kondisi ekonomi tak mau berkawan. Anak-anaknya telah abai bahwa orang tua yang masih melanjutkan kehidupan tak berarti lilin yang diam dan membosankan untuk tinggal menunggu mati. “Hidup dan nyawa kita lebih penting dari keinginanmu itu,” jawab istrinya menerangi keinginan sang suami.

Beberapa bisa menangis, meski ini kisah melankolia yang tak sepenuhnya segar. Namun, memang ada subyektifitas kadar tinggi dari cernaan saya ke cerpen tersebut. Entah, mungkin momennya tengah tepat-tepatnya. Ada beberapa keputusan personal dari saya akhir-akhir ini yang beririsan dengan kegundahan yang dibawa narasi tersebut. Tenang, tidak akan saya ceritakan biar tidak semakin melarat-larat.

Pokoknya, apa yang dilakukan orang tua hanyalah membesarkan untuk ditinggalkan. Dan adalah kita kita yang dibesarkan untuk meninggalkan. Lantas, Anda sudah sampai di mana? Semua ada gilirannya.

Mengapa setelah tua kita menjadi tak berharga, tak menarik tak diinginkan. Mungkin dengan rasa yang samalah aku meninggalkan kedua orang tuaku saat menikah. Dengan langkah-langkah panjang, tanpa sekali pun menoleh.

Advertisements