Tags

, , , ,

3780512

Ini adalah seri antologi cerpen Kompas yang pertama saya amankan untuk masuk di keranjang borongan belanja. Pasalnya, nama-nama yang tercantum begitu membuai. Ada Ugoran Prasad, Eka Kurniawan, Djenar Maesa Ayu, serta dua sastrawan yang baru saja jadi korban wawancara Warning Magazine: Puthut EA dan Seno Gumira Ajidarma—sebagai jawara. Barisan penyelianya pun tak kalah kondang, yakni Ayu Utami dan Sapardi Djoko Darmono. Los Galacticos nih.

Selain nama-nama di balik pena, ada benang merah dalam bunga rampai ini yang menurut Ayu Utami adalah problema, namun (sempat) justru oasis di mata saya. Lewat tajuk prolog “Mengapa Realisme Tak Cukup Lagi?”, penulis—yang kata orang—pelopor sastra wangi ini mengkritisi bagaimana wadah cerpen Kompas masih selalu jadi korban penggiliran cerpen-cerpen dengan jalan realis. Konsekuensinya, butuh manuver bercerita yang gres dan segar supaya cerpen-cerpen realisme sanggup tetap mengasyikkan.

Nah, sebagai penggemar berat pendekatan realisme dalam narasi di bidang kesenian—entah sastra, film, atau lirik lagu—judul prolog Ayu malah membuat saya makin tergiur dengan isi kelima belas cerpen di dalamnya. Terbayang nikmatnya kisah-kisah keseharian pada konteks sosial politik yang dekat dan konkret. Namun, faktanya lain. Dibanding dua antologi sebelumnya, Sepi Pun Menari Di Tepi Hari (2004) dan Ripin (2005-2006), tak cukup banyak lagi naskah yang berkesan.

Apa daya jika apa yang ditakutkan Ayu kejadian juga:

“Jika tangkapan musim ini tak mengandung ikan-ikan istimewa dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang lebih menarik bagi saya adalah pertanyaan: mengapa ikan-ikan itu tidak tampak istimewa lagi?”

“Mengapa, misalnya, di dunia ini ada hal-hal yang tak boleh diulang?”

Tapi di antara ikan-ikan menggelepar itu, tetap ada dua-tiga yang amisnya menggugah selera. Ikan pilihan saya adalah “Koh Su” karya Puthut EA. Jika dulu ia mengukus persoalan lewat karakter sambal dalam cerpen bertajuk “Sambal Keluarga”, pion dalam “Koh Su” adalah nasi goreng. Ada banyak similaritas antara “Sambal Keluarga” dan “Koh Su”. Wacana yang lebih besar disuling ke dalam kesederhanaan topik kelezatan kuliner. Rerincian dan deskripsi yang mengenyangkan pada “Sambal Keluarga” juga dihidangkan kembali pada “Koh Su”, berkisah tentang penantian penting untuk melahap nasi goreng legendaris.

Sayang, Puthut EA alpa membeberkan kejorokan Koh Su dalam meracik nasi gorengnya. Kan ada teori Dapur Blawur (enggak usah dicari di google): warung makan itu semakin enak semakin jorok. Apalagi nasi goreng. Kayak yang di daerah Pogung itu.

“Pak Pardiman, penjual kopi yang sangat terkenal di kota ini juga melukiskan hal yang hampir sama ketika aku dan teman-temanku menanyakan rasa nasi goreng Koh Su saat kami ngopi di warungnya. ‘Ini nasi goreng Koh Su. Ini surga. Jaraknya hanya segini…’ sambil berkata seperti itu Pak Pardiman mendekatkan jempol tangan kanannya dan telunjuk tangan kanannya.”

Advertisements