10. IsyanaSarasvati – Keep Being You

Sebelum album Explore! rilis, nama Isyana Sarasvati sudah melangit utamanya berkat sepasang single: “Tetap DalamJiwa” dan “Keep Being You”. Yang merajai memang “Tetap Dalam Jiwa”, namun pop-R&B lokal semahal “Keep Being You” lebih sukar ditemui. Andai terlestarikan, tak butuh waktu lama bagi Isyana mencapai jenjang dilematis: korban obsesi Go International.

9. Ari Reda – Tuhan Kita Begitu Dekat

Sinestesia dari Efek Rumah Kaca lumayan sukses mengalihkan perhatian publik dari banyak karya lain yang juga rilis di ujung tahun. Salah satu dampaknya, album kedua Ari Reda sejak 33 tahun silam, Menyanyikan Puisi menjadi sedikit terlambat masuk ke radar pasar. Padahal, jika Anda lebih cepat tahu ada puisi garapan Abdul Hadi. W.M yang didendangkan sekhusyuk ini, 2015 rasanya terlalu mubazir untuk ditinggalkan. “Tuhan / Kita begitu dekat / Sebagai api dengan panas / Aku panas dalam apimu,”mengalun dengan kesejukan sufistik, merugilah mereka yang mengimani musik dan agama sebagai air dan api.

 

8. Raisa – JatuhHati

Apa bedanya jatuh hati dan jatuh cinta? Raisa mengungkapnya di single lepasnya yang membuat adem sirkulasi musik radio awal tahun 2015. Sebuah lagu dengan komposisi ideal untuk mengakomodir karakter vokal Raisa yang berbalut engahan. “Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu / Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia,” lantunnya, meneduhkan hati yang akhir-akhir ini tersiksa suhu udara.

7. Sigmun – Devil In Disguise

Angin panas dan debu gurun tak cukup menyisir bayangnya yang tercecar oleh sorot matahari. Tak ada yang berharap melihat rautnya, mereka hanya ingin tahu maksud kedatangannya. Masa lalunya adalah segala kemungkaran semesta. Terjebak pada dusta untuk barangsiapa yang mencoba bersekutu. Hanya lewat “Devil In Disguise”, kita sanggup membenamkan diri pada naras-narasi surealisme semacam itu.

6. Kelompok Penerbang Roket – Mati Muda

“Mati Muda” melesat begitu saja seperti mengendarai raga “Paranoid” dari Black Sabbath kendati tetap mengusung atmosfir rock lawas Indonesia, terutama di bagian racau “parapapa..papapapapa…” Pesan liriknya cukup jelas (“Berseragam berlagak jagoan, mau jadi apa? / Seperti tentara kau menyerang, dan akhirnya celaka”), namun salah siapa jika lagu ini sepertinya juga tak kalah seru untuk dijadikan anthem ajang tawuran itu sendiri.

 

5.Sore – Gesneriana

Lantaran yang keluar adalah Mondo Gascaro, departemen lirik Sore adalah hal yang paling terakhir untuk dikuatirkan. Semua tetap permai di balik naungan Ade Paloh. Apalagi jika topiknya adalah putrinya sendiri (Gesneriana Nazra Paloh): “Dan aah, tak elak / ku pun tersedak / menyaksi wajah mungil yang…”. Sound gitar yang redam menumbuhkan cita rasa british ala The Smiths dengan vokal yang saking sengaunya seperti tak benar-benar terucap. Laksana dengung nina bobo dalam bunga tidur. “Gesneriana” mungkin satu-satunya lagu di Los Skut Leboys yang tak butuh perhatian lebih untuk dapat menikmatinya, namun juga tak lantas lekang.

 

4. Stars and Rabbit –The House

Petikan gitar mengendap-endap mengiringi vokal Elda yang molek bagai prolog dongeng. Kocokan gitar lalu ambil giliran dan verse dihuni lagi oleh manuver vokal Elda yang kali ini terdengar lebih khidmat dari biasanya. Menginjak menit 2.25, kita bisa membayangkannya menari-nari beratap bintang jatuh di padang rerumputan. Sebelum Constellation rilis, nomor-nomor seperti “Man Upon The Hills”, “Like It Here” dan “Rabbit Run” sudah menjadi favorit banyak mbak-mbak indie menggemaskan. Namun, “The House” dibangun dari material yang telah dipenuhi kesadaran atas potensi musik Stars And Rabbit.

3. Barasuara – NyalaSuara

Seluruh lagu di Taifun adalah kelas satu, namun “Nyala Suara” selaku nomor pertama punya peran lebih. Barasuara seperti enggan membangun nuansa perlahan dan langsung memaksa orang mencintai Taifun dalam lima menit. Kekayaan musikal Barasuara—termasuk hawa eksotis—dipadatkan dengan cermat di “Nyala Suara”. Siapa kira setelah tensi seolah sudah beruap-uap di menit 03.42, seketika masih muncul riff hard rock yang menggelegar? Semoga tak terlalu dini untuk eargasm. Bahkan di luar aransemen yang ganas, larik simpel “Baramu padam” di verse faktanya juga begitu lama padam dari kepala.

2. Silampukau – Doa 1

Kerasnya industri musik yang seakan begitu akrab dengan Jakarta-Bandung-Yogyakarta faktanya justru paling akurat diceritakan kembali oleh orang Surabaya. Sudah berapa banyak musisi yang berakhir putus kuliah atau berparuh waktu sebagai penjaga distro? Semua telah terwakilkan dalam ‘tek-tok’ porsi vokal menggelitik antara kedua punggawa Silampukau pada “Doa 1”, dan kita hanya sanggup pasrah ikut mengamini. Album Dosa, Kota & Kenangan membacakan narasi-narasi menarik dari lingkungan Surabaya. Namun, karya terbaik mereka ternyata justru lahir ketika bicara wacana yang lebih besar, tanpa referensi khusus tentang Surab…, oh tapi entah si Ahmad yang disebut-sebut itu siapa.

1.Efek Rumah Kaca – Merah

 

“Dan kita dorong mereka / badut jadi kepala / politik terlalu kaotis /dan kita teramat praktis / Lalu dukung mereka / cendikia jadi pertapa / politik terlalu iblis / dan kita teramat manis / Aku akan menjadi karang di lautan mereka / aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka”

“Sampai kapan kau biarkan dia tak berperan / ditelantarkan harapan, dia kesakitan / Terburai berantakan, tak karuan / marah di mana-mana / Sampai kapan kau ikhlaskan, dia dihancurkan / lumpuhkan alam pikiran, dan sekujur badan / terhampar masa depan, temaram / lara di mana –mana / Keajaiban dan khayalan taruh di awan / kenyataan dalam pelukan / kelembaman pada tekanan / raih elan kepalkan tangan”

“Fatalis, main yang aman-aman / Seolah apolitis, takut pada keadaan / Mukjizat, hanya di jaman nabi / tak bisa langsung sehat, dihadapi dikelahi / Ada-ada saja, sifat kawan kita / Dipelihara dan budidaya / Macam-macam saja, kelakuan kita / semoga masih bisa bahagia”

*Potongan lirik berlapis dan berjebah makna yang lebih  berkena diulas dalam diskusi aktif atau ruang tukar pikiran intim warung kopi daripada sebuah artikel dengan abjad terbatas

 

Advertisements