10. Faith No More – Superhero [Sol Invictus]

“Superhero” diluncurkan di situs Marvel, direktori orang-orang berkekuatan super mencari-cari masalah. Faith No More sendiri hampir menjadi pahlawan kesiangan. Koor berenergi dan refrain berguguran di lagu ini sudah sangat dinanti pasca alternative metal membelot menjadi agresi musik busuk di dekade 2000-an.

9. Grimes – Kill V Maim [Art Angels]

Rata-rata kritikus yang menghubungkan refrain lagu ini dengan chant cheerleader K-Pop pasti belum pernah naik angkot berfasilitas musik koplo 64kbps. Grimes sendiri mungkin tidak pernah, tapi imajinasinya yang menuntun ke sana. Vokal girly-nya justru menambah ancaman kaos di arena. Awas kena senggol!

8. Donnie Trumpet & The Social Experiment – Sunday Candy [Surf]

Surf menyuguhkan materi lagu yang suam, namun tak ada yang sehangat “Sunday Candy”. Berkisah ihwal sembahyang bersama nenek di Minggu pagi, Chance The Rapper melantunkan bait-bait ode (“I got a future so I’m singing for my grandma / You singing too, but your grandma ain’t my grandma”) sementara biduan Jamila Woods membungkus refrain soulful yang legit.

7. Miguel – Coffee [Wildheart]

Satu-satunya alasan rasional mengapa lagu ini tidak mendapat pemutaran lebih tinggi di radio adalah liriknya: “Wordplay, turns in to gun play / And gun play turns into pillow talk / Pillow talk turns into sweet dreams / Sweet dreams turns into f*cking in the morning.”—kendati dirilis dua versi. Andai yang terjadi berbeda, dipastikan banyak wanita mulai lebih suka pulang pagi dibanding pulang malam.

6. Kurt Vile – Pretty Pimpin [B’lieve I’m Goin Down]

Pemain indie folk produktif ini membuka album keenamnya dengan kisah kehilangan identitas: “I woke up this morning / Didn’t recognize the man in the mirror / Then I laughed and I said, “Oh silly me, that’s just me” / Then I proceeded to brush some stranger’s teeth / But they were my teeth, and I was weightless.” Namun, sebingung apapun, ia masih kenal betul cara paling menawan untuk membawakan petikan gitar necis yang konstan.

5. Tame Impala – Let It Happen [Current]

Kala kini musisi cenderung memboyong sebanyak mungkin manusia dalam produksi, Kevin Parker memilih menggarap album Current seutuhnya sebatang kara. Lantas bayangkan prosesnya seorang diri melewati menit-menit pembuatan lagu semacam ini. Studio menjadi lantai dansa dengan lubang-lubang galaksi atau langit-langit yang melumer. Dan kami menyerahkan diri pada synthesizer yang agung sepanjang lima menit terakhir.

4. Blur – Go Out [The Magic Whip]

Hingga album kedelapan Blur—dan deretan proyek lainnya—kita masih sulit sekali melihat Damon Albarn gagal. “Go Out” tak beda jauh dengan musik-musik 90an mereka, namun terdengar lebih relevan, seolah zaman yang mengikutinya. Albarn tetap bernyanyi secara serampangan (dan putus-putus, “To the lo-o-o-o-ocal, by myself”) dibalas serupa oleh sabet-sabetan gitar noise Graham Coxon. Semua berderap bergantian dalam ketukan ritme yang ajaib. Untuk berulang-ulang kalinya harus dikatakan: selamat jalan Oasis!

3. Adele – Hello [25]

“Hello, it’s me,” sapa suara yang paling dirindukan oleh industri musik. Sosok protagonis di percaturan diva ini mencoba membenahi kegagalan romantikanya yang bernilai 30 juta kopi lewat balada nostalgia bertajuk “Hello”, meski tetap dengan spektrum patah hati serupa. Vokal primadona yang melanglang (“Hello from the other side / I must have called a thousand times,”) lagi-lagi harus membawa masalah besar bagi para pencatat rekor musik dunia.

2. Kendrick Lamar – The Blacker The Berry [To Pimp My Butterfly]

Insiden penembakan Trayvor Martin di tahun 2012 membuahkan gelombang sajak-sajak ofensif dari jagat hip hop terhadap aksi rasisme kulit putih. Namun, tiba-tiba vokal Kendrick Lamar yang berdebu malah menggugat krida bangsanya sendiri. “I’m the biggest hypocrite of 2015!” serunya disusul rap agresif tipikal ketegangan rasial yang berujung pertanyaan instropeksi terdahsyat: “So why did I weep when Trayvon Martin was in the street? When gang banging make me kill a nigga blacker than me?

1. Courtney Barnett – Pedestrian At Best [Sometimes I Sit and Think, and Sometimes I Just Sit]

Ilustrasinya seperti ini:

Anda adalah sosok kolektor musik yang tak kenal payah menjamah seluk beluk Soundcloud, iTunes, Youtube, Songkick, hingga belantara Torrent. Di suatu pagi yang cerah Anda menyusun playlist musik andalan di iPhone kesayangan seharga sepeda motor. Dan karena ini adalah tahun 2015 maka isinya pepak akan rap asal glamor, sampah elektronik, deretan single pop serba featuring, pembodohan Billboard, sisa-sisa hits Ed Sheeran dan ya, Meghan Trainor. Berhari-hari lewat hanya hitungan. Di suatu pagi lain yang lebih cerah, kotoran mata yang tersisa mengganggu pandangan Anda, dan salah klik streaming jadi keniscayaan. Takdir berkata Anda tak sengaja memutar “Pedestrian At Best”, lagu yang entah apa. Volume tak tertahankan. Tensi darah meronta-ronta. Dua putaran refrain terlewati. Sebuah bangku kerja di pojok kamar menjelma Darth Vader yang mesti ditaklukan. Dua tangan ternyata cukup kuat mengangkatnya, pun untuk menerjunkannya ke tubuh sang iPhone yang terkapar dengan wallpaper album Purpose dari Justin Bieber. Berkeping-keping di ujung refrain ketiga.

Advertisements