Tags

, , , , , , , , ,

 

10. The Dead Weather – Dodge And Burn

images
Led Zeppelin ialah band rock terdahsyat yang pernah menginjak bumi. Sementara hanya Jack White yang selalu bisa mempertontonkan warisan mereka kembali dengan kaidah beragam. Tak melulu karena dia pencipta riff terbaik yang tersisa. Bisa juga melalui bermain drum di sebuah supergrup dengan penyanyi wanita bervokal dedar. Dodge And Burn adalah album The Dead Weather yang mengandung puting beliung. “I Feel Love (Every Millions Times)” datang bagai “Immigrant Songs”, sementara “Buzzkill(er)” dan “Cop and Go” memaksa Anda berdansa dalam kobaran api.

 

9. Hiatus Kaiyote – Choose Your Weapon

images
Berulang kali orang masih bicara ihwal raihan nominasi Grammy Awards—atas nomor “Nakamarra” di tahun 2013 silam—ketika mendengar nama Hiatus Kaiyote tanpa banyak yang sadar mereka telah merilis lagi album menawan. Choose Your Weapon membangun medan soul versus jazz dengan parit-parit eksperimental ringan. Ada groove-groove Funkadelic yang sengit di “Swamp Thing”. Di sisi lain, “Shaolin Monk Motherfunk” laksana kumpulan biksu trippy yang tengah bertarung dengan rombongan penari samba.

8. Rae Sremmurd – SremmLife

imagesDuo kakak-beradik Khalif “Swae Lee” Brown and Aaquil “Slim Jimmy” Brown ialah eksponen anyar paling bertalenta dari gelimang laras hip hop tahun ini. Vokal berwarna anom dari keduanya yang paralel sukses membuahkan hook-hook apik [Simak larik repetitif “Somebody come get her, she’s dancin’ like a stripper” – “Come Get Here”] dengan karakter musik trap yang solid. Rae Sremmurd (dibalik dari nama label mereka, EarDrummers) menjadi mesin rap yang perkasa sejak album perdana.

7. Deafheaven – New Bermuda

6a5cb4c4New Bermuda ialah kelangsungan pesona dari album Sunbather yang dihujani banyak anugerah album metal terbaik di tahun 2013 dan mendaulat Deafheaven sebagai punggawa teratas aliran musik blackgaze. Materi berupa lima lagu panjang ini menerjang dengan ombak riff ganas serta vokal yang mencabik-cabik dalam relung atmosfir yang dreamy. Sebuah paket musik cadas yang gemilang dalam bermain-main dengan kebisingan yang gelap. Menenggelamkan sekalian menghanyutkan.

6. Miguel – Wildheart

wildheartDibalik tongkrongan dan pose yang problematis antara seksi atau cabul di kovernya, Miguel bernyanyi “I’m talking, lips, tits, clit, slit, lips, tits, clit, slit” dan “I want to fuck like we’re filming in the Valley” di “The Valley”, nomor R&B psychedelic yang menyinggung industri porno. Inilah bagaimana R&B biasa menunjukan rasa cinta pada kaum hawa. Namun, Miguel bisa lebih berbahaya. “Coffee” atau “Waves” mustahil tak memakan korban. Sejak “Beautiful Exist”, komposisi artsy di Wildheart membuat R&B bukan lagi monopoli kakek-kakek telat puber.

5. Grimes – Art Angels

Grimes_-_Art_Angels

Realitanya adalah musikus bernama asli Claire Elise Boucher ini jua yang sampai pada wilayah semacam ini. Album sebelumnya, Visions—di mana kita bisa menyimak Grimes bersuka ria dalam dunia dream popnya yang asing dan sulit kita jamah—tiba-tiba seperti meretas keluar. Tetap suka ria, asing, namun lebih ekstrover. Art pop yang centil dan hiperaktif bagai anak gadis di bawah umur yang menggila. Cek “World Princess II” yang layak keluar dari musik latar video games Pokemon. Grimes terdengar jenius di Art Angels, alih-alih kelihatan tolol seperti “Barbie Girl” dari Aqua.

4. Donnie Trumpet and the Social Experiment – Surf

26987eaa17ab4b4d7e6f97da27fd486797f9abcc8830bc69175eb31b041190ef_largePentrompet Nico Segal alias Donnie Trumpet telah bersekutu dengan Chance The Rapper–dalam The Social Experiment—dan menghasilkan kolaborasi idiosinkrasi yang sedemikian cemerlang. Sebuah kolektif lintas rona (hip hop, jazz, pop, soul) yang menempatkan semua pada tempatnya, termasuk ruang-ruang senyap yang nyaman. Materi Surf secara utuh mengalir teduh dan hangat. Menyuguhkan penjelajahan musikal mengesankan, hingga di sesi-sesi rehat seperti “Question” atau solo tiup “Nothing Came to Me”. Surf menyiratkan bahwa tahun 2015 belumlah klimaks dari laju kembang musik hip hop.

3. Courtney Barnett – Sometimes I Sit and Think, and Sometimes I Just Sit

imagesCourtney Barnett mengajak kita mengobrol di album ini. Topiknya apa pun jadi. Tentang kelaparan di atas plafon (“An Illustration of Loneliness (Sleepless In New York)”), pertimbangan membeli rumah berharga murah (“Depresston”), atau menghindari makanan non-organik (“Dead Fox”). Ia dipercaya sebagai penulis lagu berotak encer hanya dengan modal omong kosong ala naskah film Quentin Tarantino. Impresi yang dicari, bukan konklusi. Termasuk jika Anda terkesima mendengar “Pedestrian at Best” tanpa tahu apa yang sebenarnya ia bicarakan, itu bukan salah Anda.

2. Adele – 25

adele-announces-25-release-date-cover-artTeenage Dream dan 1989 digemari orang karena punya banyak hits. Sementara jutaan orang membeli 25 hanya semata ingin mendengar Adele bernyanyi, terlepas seburuk-buruknya tidak ada hits di dalamnya (yang sayangnya itu tidak mungkin terjadi: “Hello”, “Send My Love [To Your New Lover]”, “All I Ask”, “Sweet Devotion”). Itulah mengapa kiprah penjualan dan reputasi 25 dipercaya memupuk intensi laku konsumen musik untuk kembali membeli album fisik. Entah berapa lama utopia sesaat itu dapat bertahan, akan tetapi balada-balada pelumat hati dan vokal karunia dewata selalu ditakdirkan bernafas panjang. Sebagian mengkritisi 25 karena seperti ketakutan meninggalkan formula kedigdayaan 21. Namun, setialah pada kredo bahwasanya tidak semua adalah “hal-hal yang tidak boleh diulang” dalam sebuah proses kekaryaan. Maksud saya, apa salahnya seorang penyanyi pop terbaik di generasinya mengulangi lagi album pop terbaik di generasinya?

1.Kendrick Lamar – To Pimp a Butterfly

5c45787f8bcd449a46bc3d1b50e65cc8.640x640x1“I” merupakan lagu rap renyah yang paling dirayakan di penghujung tahun 2014, namun membuat dipertanyakannya niatan Kendrick Lamar untuk menjadikan hip hop lebih berarti. Tak lama, “The Blacker The Berry” rilis dan seketika menghamparkan pagar penyekat tegas antar etnis warna kulit. Pigmen adalah asas instropeksi kita semua! To Pimp of Butterfly berisi rap menghunjam-hunjam dan spoken words yang merongrong untuk didengar. Lantun pembuka “Every nigga is a star” menjadi peringatan bahwa jutaan kulit hitam yang merekam musik hip hop di tahun 2015 hanya akan berakhir di tong sampah. Apalagi tak ada yang sehitam album ini. Simak lirik-lirik perjuangan identitas seperti “King Kunta” atau “Nigga, we gon’ be alright!” pada “Alright” yang bahkan menjadi anthem sejumlah gerakan protes kaum Afrika-Amerika. “How Much a Dollar Cost” pun menjadi pilihan paling aman untuk jadi lagu favorit seorang Barrack Obama. Datanglah era di mana dunia lebih butuh Tupac Shakur dibanding Jay-Z, Kanye West dan Eminem. Mungkin terlalu muluk untuk mendapatkan empati dari sawo matang dan sekitarnya, namun To Pimp of Butterfly mengingatkan siapa pun bahwa musik secara historis adalah bahasa terbesar kulit hitam.

Advertisements