10. A-Tseng Fikrie & The Ladies – Sasa Bagara Malas Malas

ArtsengEntah apa karena kembang tujuh rupa sedang tak musim (apa ada musimnya?), duo folk mistis Rabu (Wednes Mandra dan Judha Herdanta) tiba-tiba menjelma menjadi anggota sekte musik yang menyembah Puisi Mbeling (Remy Sylado) dan slogan belakang truk-truk antar kota. Atmosfer psychedelic 60-an dan classic rock bersenggama di materi seperti “Tresna Srenggala” dan nomor sains fiksi seks, “Teman Seks Alien”. Bayangkan juga andai Iron Maiden memainkan sebuah lagu berjudul “Ani Hijab Sexi”. Salah satu album paling underrated tahun ini, atau jangan-jangan sedang ada konspirasi atas nama moralitas.

9. Polka Wars – Axis Mundi

uRVIaa4HMemahami metafora dan tesis-tesis dualisme di Axis Mundi bukanlah tiket wajib untuk menikmati materi-materi seperti “Mokele” atau “This Providence”. Sentuhan post rock plus ambience dan baroque yang ada juga tak perlu dikuatirkan, selain membuat materi di dalamnya kian terdengar mahal. Vokalis yang berganti-ganti—dan untungnya memang semua bisa bernyanyi—pun cenderung lebih membangun dinamika dibanding meruntuhkan karakter. Polka Wars sudah mengerti betul apa yang mereka lahirkan. Capaian sederhana namun langka bagi eksponen pendatang baru.

8. Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah

KPR-Teriakan-Bocah

Terang saja mereka begitu meroket. Trio asal ibukota ini menawarkan pilihan warna musik cadas paling brilian tahun ini. Gemuruh rock Indonesia 70-an yang membawa kita kembali gagah menenteng majalah Aktuil atau mengelukan AKA dan Duo Kribo. Penuh antusias dan meledak-ledak. Pendekatan liriknya pun sesuai, ihwal melelah kemerdekaan kawula muda. Namun, Teriakan Bocah tetap mampu terdengar belia dibanding sekedar nostalgia. Durasi total materinya pendek. Dalam satu jam, kita bisa mengalami tiga putaran kegaduhan bagai anjing jalanan yang lapar akan keganasan hidup.

7. Sigmun – Crimson Eyes

12191490_994660117243657_3327223746221715518_n
Crimson Eyes laksana transformasi lebih gelap dari album Detourn (2013) milik The S.I.G.I.T. Keduanya menempa heavy metal dan psychedelic rock kehormatan Black Sabbath dan Led Zeppelin, serta vokal ala Robert Plant—kendati lengkingan Haikal Azizi juga menyelami Geddy Lee. Selain artwork kover yang lebih memikat—juga bergaya visual mirip Detourn—Sigmun tetap punya patron kokoh atas elemen stoner rock dan komposisi rumitnya. Bagi perjalanan Sigmun sendiri, Crimson Eyes mendatangkan dahanam yang lebih solid dari karya-karya terdahulunya.

6. Stars And Rabbits – Constellation

ac-starsandrabbit-300x224Vokal kenes yang tipikal dari Elda Suryani memang telah menemukan rembulannya, mengingat sebelumnya sedikit terdengar seperti siswi SD yang kebanyakan menonton sinetron Tersanjung kala masih di Evo. Desau “aiyayaya.. aiyayaya” di “Man Upon The Hill” bahkan kini justru mengandung karisma. Suara Elda merupakan aset emas di bumi folk lokal, tapi petikan gitar Adi Widodo juga lebih berperan dari kelihatannya. Intro “Rabbit Run” misalnya, sudah bisa dibilang ikonik. Ya, terkadang kita dibuat jengkel dengan musik-musik infantil yang sok imut, tapi itu bukan kejadian di Stars And Rabbit. “Like It Here”, “The House”, hingga “Oldman Finger” mengantar kita pada daratan yang rasanya masih asing diinjak oleh bebunyian folk.

5. Sore – Los Skut Leboys

4f8bdf2efdcb6e2bd4d73614ebfafe31Berkunjung dengar sampai nomor kedua (“Gesneriana”), terilhami bahwasanya Sore tak punya masalah estetika atas mundurnya Mondo Gascaro selaku arsitek penting karya-karya sebelumnya. Tak ada perubahan mengecewakan termasuk bahwasanya album Sore masih selalu mesti didengar secara intens untuk menggali karunianya perlahan. Temukan “Tatap Berkalam” yang aduhai atau “There Goes” dengan folk Amerika bercecah pengaruh The Beatles dan The Kinks. Ada juga “Al Dusalima” yang bernuansa melayu, juga “Fiksinesia” dengan atmosfir post rock membuai. Semua menyelubung lirik-lirik puitis kecuali “Map Biru” yang sedikit lebih gamblang (“Ku berjalan sendiri menanti / di hamparan kerumunan Gatot Subroto / nasib hamba tak tau rimbanya“). Tiga belas tahun berkarya, bernas adalah kaleidoskop Sore.

4. Efek Rumah Kaca – Sinestesia

sinestesihhaSinestesia punya latar menjanjikan untuk mencuri banyak perhatian:

Sebuah band dengan reputasi semampai menggarap album anyar penuh penantian yang berjeda tujuh tahun dari album sebelumnya. Beberapa bulan pasca single perdananya yang cukup fenomenal baik secara pesan lirik maupun kuantitas klik unduh (“Pasar Bisa Diciptakan”, bagian dari “Biru”) telah dipublikasikan, sang album penuh dirilis secara mengejutkan di penghabisan tahun dengan konsep lagu-lagu berdurasi panjang—diberi tajuk atas nama-nama warna—yang masing-masing terbagi oleh beberapa fragmen. Belum lagi akan prestasinya kemudian di peringkat penjualan iTunes. Anehnya, lewat semua kejutan-kejutan itu, materinya sendiri masih bisa memeranjatkan.

3. Silampukau – Dosa, Kota & Kenangan

Silampukau-Dosa-Kota-Kenangan1Kala indra belantika sibuk menyorot “Tetap Dalam Jiwa”, kompetisi antara Barasuara dan Sore, serta prediksi-ekspetasi album anyar Efek Rumah Kaca, Silampukau perlahan sudah mengubah banyak hal dari tepian. Mereka menghidupkan kembali unsur naratif dalam musik folk, jadi bahan obrolan sastrawan, hingga mencantumkan lagi kota Surabaya dalam pemetaan kancah musik sekalian objek sosiologis. Nyanyian Eki Trisnowening dan Kharis Junandaru yang dialektis demikian mustajab merapalkan lirik-lirik yang mungkin layak dijamah di tataran kritik sastra. Dengarkan saja musik instrumental sampai ajal andai Anda tak terpesona dengan lirik-lirik semacam “Si Pelanggan” (“Dulu, di temaram jambon gang sempit itu / aku mursal masuk keluar / dan utuh sebagai lelaki”) atau “Malam Jatuh di Surabaya” (“Maghrib mengambang lirih dan terabaikan /Tuhan kalah di riuh jalan”).

2. Barasuara – Taifun

1440x1440sr

Barasuara bernyanyi “Bara dalam sekam” (“Nyala Suara”), namun Taifun bukanlah api dalam sekam, melainkan pesona yang ekstrover. Aransemen yang brilian, harmonisasi vokal yang merdu, dan sound yang gahar sanggup membuat terpukau meski hanya lalu dengar. Lirik-lirik bergaya mantra dilafalkan mengiringi bangunan rupa musikal yang tak mudah diterka, menumbuhkan pertanyaan atas apa yang sesungguhnya dibawakan Barasuara. Mereka bisa sesyahdu “Sendu Melagu”, bisa semegah “Bahas Bahasa”, bisa sedahsyat “Api dan Lentera“, dan seringkali melakukannya serentak dengan begitu rapi. Banyak album berkelas rilis di tahun ini, namun belantika sudah terlanjur merah menyala.

                          1. Joey Alexander – My Favourite Things

Jatah ulasan ini pun tak akan cukup menampung seantero catatan prestasi dan penghargaan yang ditorehkan oleh My Favourite Things. Kala publik (dan penggemar Agnes Monica) sibuk memperdebatkan esensi dan syarat pemenuhan label go international, bocah ini pasti belum peduli dan paham dengan itu. Namun, ia sudah memberikan contoh yang seketika menutup perdebatan. Dibuka dengan komposisi ulang “Giant Step” milik John Coltrane, bakal-bakal virtuoso telah meriuh rampai. Akan tetapi, kepiawaiannya tak berseteru dengan tiap not-not terpilih sebagai wadah emosinya. Jari-jari Joey seakan memang menikmati bermain canda di atas tuts dengan dinamika tempo yang dijalankan sempurna. Ia bersenang-senang hingga balada “Over The Rainbow” yang seperti dimainkan oleh seorang kawakan jazz yang telah khatam manis getir kehidupan. Album ini bukan hanya trofi untuk musik jazz lokal, tapi juga belantika musik Indonesia seutuhnya. Tidak, lebih luas lagi, musik jazz dunia.

Advertisements