Tags

, , , , , ,

Lagi diserbu deadline proyek-proyek tulisan. Jadi lagi macet bikin celotehan-celotehan buat blog kafir ini.  Kasih tulisan lawas aja nih.

Ini ditulis tiga tahun lalu pas abis wawancara sama WOTA JKT48 cabang Yogyakarta. Buat tugas kuliah mata kuliah apa itu lupa, tapi terus ditarik dimuat juga buat Warning Magazine. Tapi kalau tulisannya jelek jangan dimaklumi. Berarti emang jelek.

Pic: Warningmagz.com

Pic: Warningmagz.com

Meski hanya kenal Nabilah, Melodi, dan “Heavy Rotation”, saya selalu lebih ikhlas menyimak JKT 48 daripada rentetan boyband-girlband terkini Indonesia. Pola panggung mereka memang sama-sama melenggak-lenggokan tubuh dan mimik mulut yang dipandu vokal rekaman mereka sendiri, namun terdapat diferensi tanggung jawab yang diemban. JKT 48 tak diharuskan untuk dapat menyanyi, bermain musik, atau menulis lagu yang elok. Dibandingkan sebagai musisi, JKT 48 lebih mengonsepkan diri mereka sebagai ‘idol’. Idola, harfiahnya jalur tempuh mereka lebih bebas menyeruak batas untuk dapat digemari dan disanjung-sanjung banyak orang. Semoga John Lennon hingga Benyamin S pun akan maklum.

Perihal yang membuat saya kagum, JKT 48 adalah sebuah fenomena segar. Selain mengintroduksi konsep idol group ke tanah air, JKT 48 sukses meraih jutaan penggemar. Hampir sama dengan antusiasme dalam sepakbola, penggemar JKT 48 tak kenal batas. Ada anak usia empat tahun, duda beranak empat, orang Jawa, blasteran arab, preman, burjois, mahasiswa terpelajar, yang tidak terpelajar, dan macam manusia lainnya. Namun fenomena fanatisme seperti ini selalu dicantoli impresi negatif. Tak tanggung-tanggung popularitas JKT 48 seperti kompilasi dari kekerasan yang kerap menjadi bahan kritik humanis Indonesia. Sebut saja eksploitasi anak, pengumbaran seksual, trafficking, hingga akulturasi budaya luar, dan tak lalai, kapitalisme selalu hadir. Tiba-tiba muncul sekelumit narasi di kepala saya.

Awuran jalan cerita di kepala saya seperti ini. Yasushi Akimoto mungkin sudah bosan menulis naskah stasiun televisi, sementara dia hampir jatuh miskin, dan istrinya berniat menceraikannya hidup-hidup jika ia tak segera kembali kaya raya. Yasushi Akimoto lalu mencoba-coba menjadi wiraswasta, dan membuka usaha Idol Group dengan brand AKB 48. Laris manis, Akimoto lalu membuka cabang 48 family dengan brand yang beragam, yakni SKE 48, SDE 48, NMB 48 dan lainnya. Budaya masyarakat Indonesia yang latah pun dilihatnya sebagai peluang bisnis yang menggoda. Tak banyak ba-bi-bu, ia segera mencanangkan semangat Go Internasional, dan hadirlah JKT 48. Konsepnya tak ada beda, segmen tetap mantap menunjuk kaum adam dengan taglines “ Idols You Can Buy”.

Dilakukanlah seleksi per-tahunnya untuk memilih generasi produk JKT 48 yang akan dijual. Parameter kelulusannya pun masih misterius tergantung selera Yasushi. Apakah yang dapat mengeluarkan suara yang jempolan? atau memiliki potensi musikalitas yang cerah? Sepertinya bukan. Jika melihat produk yang terdahulu, kriteria masih pada level kemulusan, kemanisan, dan keidealan bodi. Seleksi juga tak mengenal usia, mungkin itu sengaja untuk memperluas jangkauan segmen, atau supaya mereka dapat dibayar sedikit. Demi mempertahankan kualitas produknya, Akimoto Yasushi juga menetapkan regulasi bertajuk Golden Rules :

Golden Rules :

1. Dilarang merokok dan minum-minum
2. Dilarang berpacaran
3. Dilarang ke diskotik
4. Jika bepergian harus didampingi pengawal wali
5. Tidak boleh membubuhkan tanda tangan di sembarang tempat (kecuali di
merchandise resmi 48 family)
6. Pendidikan tetap yang utama
7. Dilarang memakai pakaian yang mencolok dan make up tebal

Tak puas dengan sekedar lagu, album, video, dan penampilan layar kaca, Akimoto Yasushi meracik strategi penjualan baru yang dinamai Theatre JKT 48. Sebuah pertunjukan rutin per-hari yang direalisasikan demi menggenjot citra keintiman “Idols You Can Buy”. Lewat Theatre JKT 48, konsumen juga diberi hak mengonsumsi produk tersebut dengan wujud interaksi langsung. Sebut saja Hi Touch, Handshake dan berbagai fanservice lainnya. Tak heran, Theatre JKT 48 kemudian mengandung nilai eksklusifitas yang selalu diburu konsumen. Tiket yang tak mudah dibilang murah pun selalu ludes terjual. Walau tak seekstrim tiket naik haji, namun konsumen tetap harus order sejak beberapa waktu sebelumnya.

Buah tangan Akimoto ini kemudian perlahan mengokupasi konsumennya. Misalnya konsumen kini mulai besar hati memakai kata wota sebagai panggilan mereka. Padahal usut punya usut, wota diartikan sebagai seseorang yang terlalu menggilai suatu objek. Meski tak gamblang, namun wota erat maknanya dengan freak, nerd, atau padanan kasarnya, alay. Dapat juga wota dianalogikan dengan panggilan metroseksual. Umumnya orang tak suka dipanggil metroseksual meski menyadari dirinya memang metroseksual.

Dalam perusahaan Suzuki misalnya, kita dapat menemukan pengendara militan Satria FU yang membentuk komunitas Satria FU, begitu juga penggemar Shogun atau Katana. Sama halnya dengan JKT 48, tiap konsumen memiliki produk favoritnya sendiri, yang kemudian melahirkan fanbase Nabilah, Melodi, Stella dan yang lainnya. Itulah yang kemudian memudahkan kinerja Akimoto. Ia jadi dapat melihat mana produk yang unggul, dan mana yang sebaiknya berhenti diproduksi dan diregenerasi. Makin terang pula parameternya dalam membagi produk JKT 48 pada tim dan aktivitas yang berbeda.

Dinamika favoritisme produk tersebut bahkan menciptakan pasar bebas di lingkaran jual beli produk JKT 48. Produk yang dimiliki konsumen dapat dijualbelikan kembali dengan harga yang berbeda. Layaknya teori penawaran-permintaan, semakin banyak permintaan, semakin melonjak harganya. Maka harga produk sejuta rakyat seperti Nabilah dan Melodi pun jauh berbeda dengan produk trainee. Misalnya harga photo pack Melody dan Nabilah dapat menyentuh kisaran 300 ribu rupiah. Di sisi lain, hanya dibutuhkan kocek 20 ribu hingga 30 ribu rupiah untuk meniduri photo pack Diasta. Akimoto Yasushi memang dahsyat.

Harga BBM naik diikuti melonjaknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari, bisa jadi harga produk JKT48 akan menyusul. Apakah saya peduli dengan itu? Sepertinya tidak, selama tak ada keluarga saya yang terlibat disana. Sama tak pedulinya dengan apakah ada peningkatan pasokan jumlah bokep hentai atau peningkatan omset rumah bordil bergaya jepang. Saya pernah merasakan betapa menyenangkannya mengidolai seorang idola. Maka tak ada minat untuk bergabung dengan JKT haters dan berkata “Hentikan”, atau “Nabilah minta di****t”. Saya hanya mencoba mengais ingatan kembali bagaimana kobaran neoliberalisme tak pernah bisa padam di keseharian kita, terlebih oleh dunia hiburan. Kali ini mereka membara kembali dalam rupa “Idols You Can Buy”.

Suatu ketika, teman saya seorang anak punk penikmat Anti Flag dan Bad Religion mengungkap keluh ketika harus meliput konser JKT 48 di Yogyakarta yang berpotensi menurunkan kredibilitasnya sebagai pemberontak. Esoknya, ia bercerita tentang kecengangannya saat segambreng member JKT 48 itu on stage. “Anjing, persis kayak di Doli (daerah pelacuran di Surabaya)”, gumamnya seketika saat itu. Esoknya lagi, tiba-tiba saya memergoki “Heavy Rotation” terpampang ganjil di playlist Ipad nya. Esoknya lagi, ia hilang keluar kota. Cih, pasti ke Surabaya.

FYI: Paragraf terakhir ini disensor di Warningmagz.com

Advertisements