Tags

, , , , , ,

1982579

Setiba edisi ini, Kompas mengubah nama antologinya. Jika tahun-tahun sebelumnya memakai tajuk Cerpen Pilihan Kompas, maka kali ini menggunakan tajuk Cerpen Kompas Pilihan. Pergeseran kata itu menandai perubahan mekanisme kurasi.

Sebelumnya, redaksi Kompas sendiri yang menentukan belasan cerpen terbaik di tiap terbitannya. Makanya, namanya Cerpen Pilihan Kompas. Kini, pihak luar—pada edisi ini adalah Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto—yang diserahi tanggung jawab untuk menyelia dan memilih cerpen-cerpen yang masuk. Makanya, namanya Cerpen Kompas Pilihan. (Iyaaa Son. Ndak usah dijelasin segitunya! Emang kita kagak bisa mikir???)

Kurang penting ya? Oke, sesungguhnya yang membuat saya awalnya tertarik dengan edisi bunga rampai ini adalah rasa penasaran akan cerpen “Ripin”, yang menggondol posisi jawara. Penulisnya adalah Ugoran Prasad, vokalis Melancholic Bitch, band di balik lagu paling keren yang pernah lahir dari Yogyakarta dan sekitarnya, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”. Seorang bintang rock—saya tahu ia tidak akan sepakat disebut begitu—yang juga punya reputasi mumpuni di bumi sastra. Curang.

“Ripin” dan Ugor adalah daya goda belinya, tapi pada akhirnya cerpen favorit saya di antologi ini jatuh pada “Nistagmus” karya Danarto.

Periode 2005-2006 ialah tempo berhilirannya air mata ibu pertiwi. Tahun 2005, kita—dan dunia—baru saja tersentak oleh bencana tsunami maut di Aceh (Desember 2004). Trauma belum sirna, giliran Yogyakarta diterpa bala getaran tektonik mematikan pada Mei 2006. Tentu ini lantas berpengaruh terhadap tema-tema narasi kesenian, baik musik, teater, sinema, atau sastra di masa berkabung itu. Namun, saya kira hanya Danarto seorang yang bisa kepikiran mengisi latar tragedi itu dengan tokoh yang sedemikian nadir: penulis obituari.

Bermodal itu, tak sulit kiranya lagi baginya untuk mengembangkan narasi. Banyak hal menarik yang sanggup terkisah dari seorang penulis obituari. Jadi obyek guyonan hingga diasingkan bagai koresponden malaikat pencabut nyawa. Bangunan alur sudah memikat bahkan sebelum akhiran tragis membandang. “Nistagmus” mampu mengingatkan kembali bekas-bekas kebesaran semesta tanpa terlambungkan ke badai sentimentalitas.

Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya allah.. tanggal akhir hayat, Ahad, 26 Desember 2004

Advertisements