Tags

, , , ,

11371128_919811174752956_1389067958_n

 

Aturan pribadi saya melarang diri baca novel dulu tidak pernah berlaku untuk karya-karya Voltaire, penulis pujaan sejak dalam pikiran. Kisah-kisah substansial berlumas satire selalu membuat karya-karyanya laksana tulisan sesosok dewa usil yang lagi bosan melihat umat manusia abad pertengahan kelampau posesif sama sesembahannya. Zadig yang saya baca adalah terbitan Oak dengan Widya Mahardika Putra sebagai penerjemah. Sesungguhnya saya lebih mengharapkan terbitan Zadig dengan terjemahan dari Ida Sundari, penulis Dongeng Filsafat Perancis yang memang sudah nampak diamini sebagai juru bicara Voltaire cabang Indonesia. Tapi ini tak perlu jadi masalah bangsa, karena saya juga tidak menemui keluhan-keluhan berarti dari versi Oak ini.

Judul bahasa Indonesia buku ini kalau tidak salah “Zadig: Suratan Takdir”. Tokoh utamanya adalah Zadig, seorang bijak berhati dan berbudi pekerti sempurna yang entah kenapa terus diterpa kesialan-kesialan dalam petualangan hidupnya. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga, sudah sembuh masuk Gerindra. Takdir dan kodrat garis tangan manusia menjadi pencarian makna kehidupan Zadig. Sedikit saya menengarai ada banyak kontradiksi konteks yang disengaja dalam pesan-pesan di kisah tersebut.

Zadig masih tipikal fiksi-fiksi Voltaire. Serupa cerita rakyat dengan tokoh-tokoh protagonis bulat dan muatan moral di sana-sini. Bukan jenis bacaan fiksi realisme yang detil dan kompleks, melainkan prosa berhalaman tipis dengan ritme cepat dan dramatis. Cuma sayangnya saya tidak menemukan sensasi dan kesan membumbung sebagaimana kala membaca Si Lugu (L’Ingenu).

Akan tetapi, Voltaire tetap jadi kesayangan di hati. Jadi yang punya Candice atau buku-buku Voltaire lain, saya minat tuh. Jarkom ya. Nanti saya tukar pake buku Raditya Dika.

Ecrasez I’infame

Advertisements