Tags

, , , ,

6036860

Pic: Goodreads.com

Setiap Gramedia mengadakan ajang cuci gudang, rekening saya mengering. Yang terakhir, saya gelap mata dengan buku-buku kumpulan cerpen Kompas di sana. Pas rasanya, di waktu saya memang tengah ingin mulai membuka kiprah sebagai pembaca cerpen. Pas juga karena harganya tidak terlalu mahal, cuma 25-40 ribuan. Artinya, untuk 1 bukunya saya cuma perlu tidak makan 2-3 kali.

Kemudian, saya beli delapan.

Sesungguhnya lambung paling malang adalah lambung orang-orang yang membaca – Lambung saya

Seperti biasa, tajuk buku kumpulan cerpen Kompas selalu dicomot dari tajuk cerpen yang ditimbang sebagai yang terbaik di tahunnya. Untuk yang tahun 2004 ini memasang judul Sepi Pun Menari di Tepi Hari karangan Radhar Panca Dahana, mantan pemimpin redaksi Hai, Jakarta Jakarta, dan Kompas sendiri.

Mayoritas cerpen di dalam antologi ini mengusung topik feminis dan budaya patriarki. Ini tak lepas dari zamannya, era menjamurnya sastra feminis yang dimekarkan oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, juga polemik diskursus sastra wangi dan sastra porno. Itulah mengapa kovernya bibir merah merekah berias taring. Tapi andai saja ini terbitan sekarang, barang mungkin publik mengira isinya cerpen-cerpen vampir kasmaran.

Secara garis besar, topik perempuan dan kungkung norma-normanya di Sepi Pun Menari di Tepi Hari dapat dikenal lebih dekat lewat dua kategori. Sebagian merangkul khazanah penindasan seksualitas, sebagian lagi mencoba menguliti nilai-nilai ruang rumah tangga. Yang disebut terakhir salah satunya adalah “Jaring Laba-Laba” karya Ratna Indraswari Ibrahim—yang sudah usia kepala enam kala buku ini rilis. Ini adalah cerpen favorit saya di buku ini. Mengisahkan posisi perempuan yang tersengkang dalam kerangka keluarga sederhana: Ayah – Ibu – Anak. Dina, seorang wanita yang digambarkan lincah dan progresif (bersemangat menuntaskan program magister pendidikannya) mesti terjerat pasung dalam kehidupan rumah tangganya. Bukan karena perselingkuhan, kelainan seksual, problem finansial, perbedaan agama, atau drama apapun. Tapi memang demikian adanya. Statusnya sebagai seorang istri dan ibu secara natural telah memenjarakannya. Seolah begitu lazim terjadi di keluarga manapun, termasuk yang semestinya harmonis. Bedanya, ia menyadarinya.

“Saya seperti nyamuk yang dilahap oleh laba-laba, dan laba-laba itu adalah kau dan anakmu”

Advertisements