Tags

, , , ,

1435069954_20100126024627_buku-minggir

Pic: Kitareview.com

Saya kecolongan. Niat menjaga jarak dengan segala literatur beraroma radikal yang bisa menyesatkan kans memenangkan beasiswa LPDP—gara-gara keceplosan salah pilih kutipan—telah kebobolan. Iktikad awal beli buku terbitan Resist Book ini supaya dapat referensi pernyataan-pernyataan heroik diplomatif semi-bullshit tentang kaum muda yang teladan, setia pada bangsa, dan bla bla bla. Yang didapat justru persuasi-persuasi demonstrasi dan kudeta.
Resist just being Resist, sementara penguji tes LPDP juga bakal tinggal komentar, “Ealah bocah, lha malah separatis.”

Untungnya—kalo emang kudu dibilang “untung” sich—ini nih buku terbitan Resist Book paling bete’in yang pernah gue baca sampe sekarang, so gak terlalu menginspirasi gitu deh. Liat aja tuh gaya bahasanya. Sok-sok pengen asik gitu sama anak-anak remaja, jadi pake bahasa mirip-mirip kayak majalah Hai atau Kawanku jack, eh jadinya malah nggak kuku. Ya kayak paragraf yang lagi kamu baca ini loo. Coz yang diremajakan cuman bahasa doang, bukan model pdkt-nya. Ya udah dech, malah jadi kayak dengerin senior-senior sekolah yang songong-songong itu kalo lagi ngomporin kita-kita nyuruh tawuran ke SMU sebelah. Palingan terus junior-juniornya cuma nyinyirin di belakang,”Ngemeng apaan masnya tadi? Kagak jelas banget euy”, “Diiyain aja”. Persis kayak kovernya, jayus betul.

*Balik ke bahasa yang benar, daripada keterusan*

Saya juga tahu tulisan-tulisan Eko Prasetyo selalu bernada propaganda. Seperti segan menyerahkan takdir opini pembaca dalam paparan fakta-fakta dan analisis, melainkan serta merta mencoba menggiring langsung. Ia mengisahkan kaum marhaen, kaum murba, kaum reformis, hingga Soeharto sebagai orang pertama di dunia yang tercatat mencuri uang rakyatnya sendiri versi PBB dengan perspektif satu arah. Begitu pun upayanya mengampanyekan Tan Malaka, Mohammad Natsir hingga Semaoen sebagai hero kawula masa kini. Saya sebelumnya tak pernah ada masalah dengan karakter tuturnya tersebut. Namun, tatkala terlalu eksplisit dan terkesan agresif, batin terdalam secara alamiah merespons dengan naluri-naluri skeptis dan kecurigaan akan pernyataan-pernyataan yang terlayang. Apalagi jika disajikan dengan gaya cakap anak SMU yang kebanyakan nonton Crow Zero. Bikin woles aja coy.

Advertisements