Tags

, , , ,

Buku Biografi SID

Pekan lalu saya menggarap sebuah artikel wawancara panjang WARN!NG dengan Jerinx, penggebuk drum Superman Is Dead sekaligus salah satu bintang rock paling merampok perhatian belakangan ini. Saya harap judul “Bala Prahara” bisa merepresentasikan garis besar yang hendak kami tonjolkan, perihal sosoknya sebagai figur seniman yang punya kapasitas dan jejak rekam unggul mendatangkan wacana-wacana besar sosial-politis di masyarakat. Membuktikan bahwa di zaman serba tak mau tahu ini masih selalu ada kabar buruk untuk penguasa-penguasa lalim. Yah, eksistensinya selaku simbol gerakan perlawanan Bali Tolak Reklamasi sedikit banyak mengingatkan pada tokoh Katniss Everdeen di sinema The Hunger Games.

Kami menggunakan topik buku biografi perdana Superman Is Dead (SID) sebagai basis dialog wawancara. Buku itu mengusung ide narasi yang unik dan menendang pantat (kickass!), yakni pengisahan tiga tuduhan besar yang dialamatkan pada awal kiprah trio punk rock asal Bali tersebut. Judulnya pun tanpa tedeng aling-aling: Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral!.

Bab pertama adalah “Rasis!”, tentang isu—yang malahan sudah layak disebut mitos—bahwa salah satu tato di tubuh Jerinx bertuliskan “Fuck Java” (Bahkan Pramoedya Ananta Toer saja saya pikir akan berpikir dua kali untuk menulis itu). Ini kontroversi pertama yang menganugerahi SID gelar musuh publik, dan kesulitan-kesulitan menggelar konser di Pulau Jawa tanpa probabilitas baku hantam. Dan bab ini berhasil meyakinkan bahwa mitos memang selalu tidak benar adanya.

Bab kedua adalah “Pengkhianat!”, yang berangkat dari momen teken kontrak SID dengan label Sony Music Indonesia di album Kuta Rock City. Maraklah SID menerima sikap-sikap ofensif dari banyak pihak di komunitas punk atau kancah musik independen.

Bab terakhir adalah “Miskin Moral!”, tentang citra bengal SID karena kebiasaan mereka menenteng dan meneguk bir Bintang sebelum naik panggung. Adalah perkara apakah itu sekedar strategi branding atau memang tradisi mendarah daging mereka.

Sayang, pembagian porsinya tidak berimbang. “Rasis!” dan “Pengkhianat!” masing-masing ada 80 halaman, sementara “Miskin Moral“ hanya sekitar 30 halaman. Masalahnya bukan semata porsi, namun saya memang kesulitan menelan nilai menarik dari topik Miskin Moral selain penegasan atas betapa noraknya publik kita (musisi rock bawa bir aja kena sorotan negatif? Motley Crue mungkin bakal dianggap teroris). Saya merasa diskursus itu tak cukup kuat dikembangkan sebagai sebuah kontroversi—termasuk demi mengesankan SID sebagai band ber-attitude—alih-alih memungkinkan dikisahkan menyisip pada dua tema sebelumnya saja.

Saya juga tak bisa menolak rasa jemu sejak beberapa puluh halaman pertama dari bab “Rasis!” dan “Pengkhianat!”. Tak banyak terdeteksi informasi-informasi anyar di “Pengkhianat!” pasca menuntaskan “Rasis!”. Beberapa subjek kupasan seperti diulang-ulang dan saling tubruk-silang. Saya tidak tahu Rudolf Dethu mengadaptasi model pengisahan ini dari referensi literatur apa, namun terlampau banyak cerita kronologi ihwal kerusuhan dan audiens tak bersahabat yang muncul di konser-konser SID. Ia atau beberapa sumber yang turut menulis nampak berapi dan emosional menceritakan adegan demi adegan kericuhan-kericuhan itu, tapi saya malah mendapati isi bukunya sendiri yang ricuh. Saya kira alangkah lebih nyaman andai diceritakan secara naratif langsung dengan detil-detil berkesan yang membedakan dari tiap tragedi panggung, tanpa harus memaparkannya satu demi satu secara ekstensif.

Konsep ciamik di Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! kurang tereksekusi dengan baik dari hemat saya. Padahal, Rudolf Dethu—yang memang merupakan mantan manajer dan figur krusial di balik kiprah SID—cukup mampu menunjukan keintimannya dalam perjalanan SID lewat gaya tuturnya. Penggunaan gaya bahasa kasual—yang walau bukan selera saya, namun sarat kemakluman agar kompatibel dikonsumsi Outsiders (fans SID) yang “terbiasa dengan 140 karakter dan berita ringkas”—juga tak kurang menunjukan karakter badung SID sendiri, plus dibalut sampul yang keren.

Menariknya, Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! juga tak berupaya menutupi deretan komentar miring dari para kritikus terhadap musikalitas album Kuta Rock City yang menurut saya memang sedikit anomali–dengan kualitas sound sepayah itu—bisa keluar dari label semapan Sony Music.

Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! memang hanya jadi memoar perjalanan Bobby Kool (vokal, gitar), Eka Rock (bas) dan Jerinx (drum) sampai di era album Kuta Rock City (2002). Ini perlu dibaca untuk Outsiders yang baru kenal SID semenjak perawak kekar mereka menerjang media massa dengan nomor “Jika Kami Bersama”. Namun, memang ada missing link belum tersampaikan antara SID dahulu sebagai kumpulan berandal glamor bernafas rock & roll menjadi SID sekarang yang responsif pada problematika sosial dan lingkungan. Konon sih, itu akan tertuang di seri terbitan biografi berikutnya.

Tapi jangan gundah gulana, Anda sudah bisa membaca suratan-suratannya di wawancara WARN!NG. Saya berulangkali mengapresiasi jawaban-jawaban Jerinx yang lugas, menyala, dan berdaya ledak. Sesuatu yang selalu saya dambakan dari mayoritas musisi nasional yang cenderung mengeluarkan pernyataan-pernyataan normatif (pertanyaan seatraktif apa pun, jawabannya selalu moderat). Bahkan, lantaran terlalu dimanjakan, sampai-sampai saya kelewatan dan tak kuasa untuk tidak menulis intro terlalu panjang. Anda memang prahara, bung JRX.

Simak -> Bala Prahara (Interview JRX)

Advertisements