Tags

, , , , ,

11372275_1633816173498828_733489280_n

Pic: Bukuakik

Dalam rangka menghadapi tes penerimaan beasiswa dari LPDP, saya tengah ketat-ketatnya menyeleksi buku atau literatur lain yang hendak saya baca. Soalnya ada beberapa tes wawancara yang konon amat selektif dengan arahan mencari “bibit-bibit pemuda dengan visi masa depan bangsa yang kuat sebagai pemimpin bangsa”. Nah, karena penyelenggaranya adalah badan-badan kementerian negara, maka saya lebih melihat mereka sejatinya mencari “bibit-bibit pemuda nasionalis yang doyan kuliah, patuh, jinak, buang air di pasir dan mudah dipelihara pemerintah“. Semoga mereka sadar saya kriteria mereka banget.

Yang pertama saya lakukan adalah mulai menjaga jarak dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Lekra dan buku-buku lain bersampul merah. Padahal, saya sudah diperas sejutaan sendiri buat nambah koleksi yang terpaksa harus saya karantina di pulau-pulau rak-rak pembuangan sementara itu. Belum satu pun yang akhirnya saya baca. Soalnya, bila sampai keceplosan mengutip Tan Malaka atau Semaun pas wawancara, paling pengujinya cuma tinggal diam-diam mencoret nama saya sambil mendesis pelan, “Ealah bocah, lha malah separatis.”

Akhirnya, saya sementara fokus baca-baca buku yang sekiranya mampu memper-akademis diri, atau memperkaya argumen-argumen untuk meyakinkan pihak LPDP bahwa saya adalah anak saleh yang pantas dikasih ratusan juta duit negara rakyat untuk menuntut ilmu ke negeri orang, dan pulang jualan es krim pot membangun Tanah Air. Tapi emang dasar sejawat setan, larinya tetap ke toko buku favorit, Resist Book. Perlu diketahui, Resist Book adalah toko buku dan penerbit dengan judul buku-bukunya seperti Rakyat dan Senjata, Kata Adalah Senjata, Protes, Kebangkitan Gerakan Buruh, Nalar Yang Memberontak, atau Bertuhan Tanpa Agama.

“Ealah bocah, lha malah separatis.”.

Syahdan, saya berencana memilih tujuan studi di bidang studi media. Salah satu prediksi pertanyaan yang akan keluar pas wawancara itu adalah “apa urgensi dari keilmuan bidang studi yang akan kamu ikuti untuk kebutuhan bangsa Indonesia?” Ini cukup menarik karena memang studi media lazim dipandang sebelah mata, apalagi jika dibandingkan dengan studi-studi teknik, ekonomi, kedokteran, atau yang belakangan paling seksi: jurusan Kehutanan, Asap, dan Salah Jokowi.

Terlebih, sudah sejak jaman dahulu adanya asumsi bahwa media bukan obyek keilmuan yang perlu dipelajari secara khusus, karena terlalu interdisipliner sekaligus spesifik. Mempelajari media dianalogikan seperti mempelajari flashdisk daripada ilmu komputer.

Mujur, pertanyaan itu sedikit banyak terjawab di buku ini, Membongkar Kuasa Media.

Yang pasti bakal—dan selalu—jadi argumen unggulan pertama sih pengaruh tak terbantahkan dari media massa. Bagaimana kita menghabiskan mayoritas hidup kita dalam media, dan bagaimana kesadaran hingga mimpi-mimpi jorok kita dibentuk media. Maka mempelajari media sama seperti mempelajari diri sendiri sebagai manusia. Mengubah media berarti mengubah segalanya: seluruh kondisi politik, literatur, dan masyarakat. Bahkan, sebuah komisi penyiaran Britania telah merekomendasikan studi media untuk masuk dalam mata pelajaran Sekolah Dasar. Hal ini salah satunya terkait keresahan akan serangan iklan dan propaganda-propaganda yang anjak menyasar anak-anak di bawah umur.

Semoga pengujinya juga enggak bakal mabok kalau saya kasih sejarah. Studi media muncul pada dekade 1930, namun baru menemukan bentuknya pada dekade 1940an sejak beroperasinya badan penelitiannya di Columbia University. Awalnya, studi media hanya berkutat pada studi efek media massa terhadap publik. Pada kisaran 1960an, media mulai dilihat sebagai ideologi—dipupuk oleh situasi Perang Vietnam. Efek media dilihat lebih kompleks. Salah satunya seperti munculnya teori kultivasi tentang media massa sebagai agen sosialisasi atau teori Uses and Gratification yang melihat peran lebih aktif dari penonton. Ada juga pendekatan sosiologis Marxis (salah satu pelakunya adalah Theodor Adorno) yang melihat media sebagai industri budaya yang mempertahankan relasi kausa dan mengurangi standar resistensi estetika budaya dengan mempopulerkan tipe-tipe budaya tertentu.

Menurut Adorno pun pendengar musik populer yang terindustrialisasi dan terkomodifikasi telah terjebak dalam serangkaian respons yang sudah distandarisasi dan dirutinisasi. Sudah terlampau berbeda dengan bagaimana orang menikmati musik-musik simfoni ala Beethoven yang lebih kompleks dan bersensasi intelektual di masa lampau. Di sisi lain, musik pop hari ini hanya menyajikan sensasi dangkal, superfisial, dan gampang didikte. Ini membuka peluang bagi dominasi sistem industri kapitalis terhadap selera konsumen.

Sementara ada pula Roland Barthes yang mempertanyakan tentang teks. Apakah makna bersemayam dalam teks, atau apakah audiens lah yang menjadi sumber makna. Yang ini selengkapnya nanti tunggu saya ada rejeki lebih buat beli bukunya, Imaji Musik Teks.

Sejak tahun 1980, latar belakang studi media berubah lebih signifikan, menjadi penelitian-penelitian empiris. Ini termasuk kajian tentang bagaimana konten diproduksi, ihwal dinamika organisasi media, proses seleksi, atau penyuntingan dan publikasi (Baru tahu deh kalau anak 80an berarti skripsi saya: “Manajemen Media Warning Magazine”)

Sebuah produk media juga menghadirkan makna yang berbeda bagi masing-masing kelompok sosial. Gagasan ini mencuat dari sebuah studi audiens yang dilakoni oleh Elihu Katz dan Tamar Liebes di tahun 1993. Obyeknya adalah film. Hasilnya, rata-rata negara Arab atau pun negara timur dan dunia ketiga—termasuk Indonesia berarti ini—cenderung menginterpretasikan film secara referensial, atau menghubungkan cerita dengan kehidupan nyata. Mereka juga melakukan tingkat analisis persepsi dengan jalan cerita yang linear (Enggak mau mikir lah sukanya). Sementara orang Rusia (tahun 1993 lho ini) terbudayakan melakukan interpretasi film secara kritis dan sadar secara ideologis. Mereka segera mempertanyakan akurasi dan pesan dari film. Sementara untuk penonton Amerika, biasanya akan mengadaptasi keduanya, serta bertendensi untuk menganalisis film dengan ketertarikan psikologis secara personal. Itulah mengapa mereka lebih sanggup ikhlas menerima bentuk-bentuk narasi yang open-ended (berakhir terbuka atau menggantung).

Sementara ada dua model representasi media, yakni model hegemonik dan pluralistik. Model hegemonik terasosiasi dengan aliran Marxis, dimana dipercaya bahwa kelas berkuasa menggunakan kekuasaannya bukan dengan kekuatan fisik atau kekerasan tapi gagasan-gagasan dalan pengaruh kultural. Dan salah satunya lewat representasi media. Inilah kenapa aliran Frankrut mengatakan bahwa kontrol kaum kapitalis terhadap media massa menjadi salah satu alasan mengapa kapitalisme tetap bertahan pada masa setelah perang.

Sebaliknya adalah model pluralistik. Konten media penuh dengan pilihan bagi konsumen. Ia memperlihatkan pluralitas masyarakat yang terdiri dari kepentingan-kepentingan berbeda. Nilai yang dominan memang adalah gema dari konsensus masyarakat. Representasi media adalah bentuk upaya media memuaskan kebutuhan audiensnya yang beragam.

Jadi, yuk mulai belajar studi media <— ending wagu menggantung biar kayak film-film Hollywood.

Advertisements