Tags

, , ,

 

33-tokoh-sastra-indonesia-208x300

Buku ini saya jumpai dalam kondisi naas. Sebatang kara di rak toko buku diskonan, sampul plastiknya terlepas dengan terdapat bercak-bercak gerilya tangan tidak bersahabat. Ternyata bukan cuma copet yang bisa dihakimi massa. Jika bikin jengkel, buku juga bisa bonyok-bonyok.

Alih-alih diakui sebagai dokumentasi ensiklopedis kesusastraan yang monumental (atau seburuk-buruknya dianggap sekedar sebuah buku biasa deh, tidak lebih) 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh diklaim sebagai sebuah kejahatan budaya dan pembodohan publik. Ramai-ramai sastrawan dan penikmat sastra menggugatnya. Isinya dianggap sesat dan menyesatkan. Bertolak dari itu, aksi saya membeli buku—yang sudah terlanjur terbit, daripada jatuh ke tangan yang salah—ini tidak lain merupakan sewujud aksi penyelamatan budaya. Nah.

Isu ini sebenarnya sudah marak sekitar awal tahun lalu, hingga melebar pada friksi antar kubu sastrawan yang tiada sebanding dengan seteru Lekra-Manikebu. Ada drama play victim dari Fatin Hamama yang menyeret pimpinan kubu protes: Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang ke bui via pasal karet ITE hanya—dan hanya—gara gara menulis kata “bajingan” dan “penipu” di media sosial. Sastrawan mana kok alergi pisuhan.

Bajingan, isu ini basi sekali sebenarnya. Tapi okelah saya memang baru baca bukunya sekarang. Biar basi demi konsistensi.

Lewat petisi yang diluncurkan oleh sekelompok sastrawan, terdapat beberapa aspek yang digugat. Namun, yang paling menarik tudingan dan tawa adalah tercantumnya sosok Denny JA di daftar nama sastrawan paling berpengaruh tersebut. Meski memang bergelut di bidang sastra, namun ia lebih dikenal sebagai sosok konsultan politik yang banyak uang.

Lha siapa bilang politikus tak bisa bersastra? Apalagi jika banyak uang. Label “diterima Tim 8 secara bulat, tanpa kontroversi dan tanpa perdebatan” yang tersurat di bagian Pramoedya Ananta Toer pun saya kira lebih pantas disematkan pada Denny JA. Kenapa? Karena Denny JA adalah SATU-SATUNYA sastrawan nasional sejak bangsa ini berdiri, yang sanggup meraih reputasi sebagai promotor buku tersebut. Kiprah yang jelas lebih dari cukup untuk menyingkirkan nama-nama medioker seperti Seno Gumira Ajidarma, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, atau Wiji Thukul.

Berawal dari indikator pengaruh dan kesuperlatifan dalam buku ini yang dipertanyakan, asumsi konflik kepentingan beranjak membongkar aspek-aspek lain, termasuk klaim palsu keterlibatan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan lukisan sampul rupanya yang dikabarkan diambil tanpa ijin dari pelukisnya.

Berikut nama-nama terpilih buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disajikan dengan urutan kronologis berdasarkan masa:

  1. Kebetulan Kwee Tek Hoay
  2. Kebetulan Marah Roesli
  3. Kebetulan Muhammad Yamin
  4. Kebetulan Hamka
  5. Kebetulan Armijn Pane
  6. Kebetulan Sutan Takdir Alisjahbana
  7. Kebetulan Achdiat Karta Mihardja
  8. Kebetulan Amir Hamzah
  9. Kebetulan Trisno Sumardjo
  10. Kebetulan H.B. Jassin
  11. Kebetulan Idrus
  12. Kebetulan Mochtar Lubis
  13. Kebetulan Chairil Anwar
  14. Kebetulan Pramoedya Ananta Toer
  15. Kebetulan Iwan Simatupang
  16. Kebetulan Ajip Rosidi
  17. Kebetulan Taufik Ismail
  18. Kebetulan Rendra
  19. Kebetulan NH. Dini
  20. Kebetulan Sapardi Djoko Damono
  21. Kebetulan Arief Budiman
  22. Kebetulan Arifin C. Noor
  23. Kebetulan Sutardji Calzoum Bachri
  24. Kebetulan Goenawan Mohammad
  25. Kebetulan Putu wijaya
  26. Kebetulan Remy Sylado
  27. Kebetulan Abdul Hadi W.M.
  28. Kebetulan Emha Ainun Nadjib
  29. Kebetulan Afrizal Malna
  30. Denny JA
  31. Kebetulan Wowok Hesti Prabowo
  32. Kebetulan Ayu Utami
  33. Kebetulan Helvi Tiana Rosa

Pihak Tim 8 pun sempat melayangkan pembelaan, utamanya terhadap kelayakan Denny JA untuk dicantumkan dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Yang paling istimewa ialah karena ia dianggap sebagai pelopor sastra kapital puisi esai. Indikator kredibilitasnya ialah banyaknya hits di laman karya-karyanya. Abaikan andai hanya 0,00001 persen dari jumlah hits itu yang benar-benar manusia, yang penting ini adalah cyber era. Hits—yang bisa dibeli di mana-mana itu—adalah satu-satunya kebenaran. Tak perlu risau juga andai popularitasnya didukung kecakapan bagi-bagi hadiah dalam bejibun lomba-lomba puisi. Paripurna sudah Denny JA sebagai sinterklas sastrawan.

Saya suka menamakan fenomena ini dengan istilah “sastra melawan arta”. Namun, saya terus berikhtiar untuk tidak suuzan. Saya kira tak ada niat buruk, hanya salah cetak judul saja buku ini. Semua akan ada pada tempatnya andaikan judulnya seperti rencana awal: 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh Bagi Tim 8

Toh, terlepas dari kontroversinya, isinya sendiri tidak merugikan untuk dibaca bijak. Dibekali kesadaran bahwa buku ini salah cetak judul, kita bisa mengantongi profil 32 sastrawan plus satu curriculum vitae konsultan politik. Lewat buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh Bagi Tim 8, setidaknya saya yang karbitan kesusastraan ini bisa tahu bahwasanya ekosistem sumurung sastrawan besar adalah di Pulau Sumatera (Marah Rusli, Hamka, Amir Hamzah, Idrus, Chairil Anwar, Iwan Simatupang, dll) atau fakta bahwa rumusan konsep ‘Tanah Air’ dan Sumpah Pemuda dahulunya digagas oleh Muhammad Yamin lewat karya puisi.

Kita juga mampu mengarungi pemahaman historis akan tren karakter narasi berbunga-bunga ala Siti Nurbaya dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, dominasi Balai Pustaka di era kolonial, api sastra buruh oleh Wowok Hesti prabowo, hingga keluhan Sapardi Djoko Darmono akan riwayat hidup dan kepenyairannya yang terlampau nyaman tiada terlintang oleh pedih, sengsara, dan petualangan.

Mujur, polemik seputar buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh Bagi Tim 8 sudah mereda. Saya kurang nyaman dengan situasi antagonisme yang sempat jadi medan tabur eksklusifitas dari ranah kesusastraan tersebut. Saling main copot gelar sastrawan atau bahwa sastrawan harus seperti ini dan tidak boleh seperti itu. Pun saya kira pada akhirnya seleksi sejarah akan mampu mempersaksikan siapa yang nian berpengaruh dan layak dimuliakan, atau apakah megalomaniak bisa disembuhkan. Dan jika ada kekhawatiran buku ini akan terproyeksikan sebagai buku diktat sekolah, mungkin juga tidak apa-apa, asal masuk mata pelajaran PPKn, tentang etika dalam mencari perhatian.

 

 

Advertisements