Tags

, ,

220px-Kerudung_Merah_Kirmizi

Aku anak manusia. Anak manusia memiliki apa yang tidak dimiliki anak binatang. Menurutku, yang dibutuhkan manusia untuk dimilikinya, bukan hanya seperti yang digembar-gemborkan oleh slogan-slogan politik, ‘sandang-pangan-papan’. Sebab, kalau cuma sekedar sandang, pangan, dan papan, binatang juga memiliki itu: binatang juga punya bulu-bulu indah, binatang juga makan, binatang juga punya sarang. Yang tidak dimiliki binatang, tapi dimiliki manusia, adalah yang Anda pegang ini: buku.

Aku anak manusia. Selain bulu-bulu aku tidak indah, yang kupegang ini adalah Kerudung Merah Kirmizi, novel pemenang Hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 yang menyisihkan empat finalis lainnya, termasuk novel Larung milik Ayu Utami. Aku lah penyelamat validitas orang tuaku sebagai manusia.

Kutipan di atas sendiri adalah milik Myrna Andriono, seorang janda pilot dan penyanyi hotel berbintang beranak ganda campuran, yang merupakan tokoh utama Kerudung Merah Kirmizi. Jika menurut Anda pernyataan—diambil dari bagian epilog—itu terasa terlalu bijak bagi profesinya, maka bisa jadi Anda kurang mbeling.

Sekitar 610 halaman sebelumnya, dalam bagian prolog, Myrna sudah mewanti-wanti kita akan sosoknya yang perseptif, berpikir mutakhir, dan sekeras batu karang, disertai janji perjalanan kisah yang pelik nan kontemporer. Ia mengkritisi era reformasi yang mencekik, Jakarta yang pahit, serta stigmatisasi penyebutan janda yang merendahkan harkat:

Mereka yang duduk di lembaga kerohanian mengartikannya sebagai pihak yang perlu dipelihara kadar keagamannya dengan merancang pemberian hadiah-hadiah pada hari-hari besar agar tetap eling dan saleh. Kemudian mereka yang duduk di lembaga sosial mengartikannya sebagai pihak yang harus mendapat pertolongan ekonomi, dan di balik alasan itu para birokrat menimba keuntungan dari korupsinya. Sementara mereka, lelaki yang menganut fornikasi (bersetubuh bukan hanya dengan satu pasangan), mengartikannya sebagai pihak yang sama dengan jalantol, rute bebas hambatan, untuk sasaran rayu dalam rangka melakukan selingkuh.

Myrna melakoni perjalanan romantika bersama Luc Sondak, duda bijak flamboyan asal Pulau Dewata. Asmara tumbuh di antara keduanya beriring bumbu referensi musik galau pra-Beatles seperti “Star Dust” milik Hoagy Carmichael atau “Autumn Leaves” dari Joseph Kosma.

Kerudung Merah Kirmizi menerapkan varian plot yang dijanjikan bertemu di satu titik yang sama. Diantara tokoh-tokoh pendukungnya adalah aktivis mahasiswa bernama Emha, putri Luc bernama Laksmi, Winata selaku polisi dan teman kecil Myrna, serta bos antagonis bernama Oom Sam dan antek-anteknya. Hanya kata ‘kebetulan’ yang sanggup mempertemukan mereka semua.

Ini kemudian membuat Kerudung Merah Kirmizi dianggap mencerminkan narasi cinderella metropolitan. Pengembangan karakter yang hitam-putih dibarengi koneksi plot yang serba disengajakan untuk tidak sengaja.

Jika saya uraikan, hasilnya seperti ini:

Kemenakan sekaligus kaki tangan sang antagonis ternyata adalah kakak kandung dari gebetan putri kekasih tokoh utama, sementara pemuja tokoh utama ternyata juga adalah anak buah kepercayaan dari kakak kandung sang antagonis.

Pusing? Jika saja Anda bayangkan saya sendiri hampir amnesia saking pusingnya menguraikannya. Itu belum lagi dengan tokoh-tokoh minor yang juga saling berelasi.

Narasi dalam Kerudung Merah Kirmizi memang memuat elemen heroisme yang kental. Tokoh protagonis diilustrasikan dengan kecerdasan dan kebijaksanaan, sementara antagonis adalah mereka yang selalu terlaknat sehabis berbuat. Tokoh Laksmi, Winata, Emha, Myrna, dan Luc mendapat jaminan kebahagiaan, sementara Oom Sam dan kaki tangannya adalah penjahat yang selalu dijanjikan kena batunya. Hingga, setiap muncul tokoh jahat baru, saya langsung penasaran wujud batunya. Apakah dunia sungguh seadil itu?

‘Prediktif’ seharusnya label haram bagi hikayat kesusastraan dari yang bereputasi eksentrik seperti Remy Sylado, sastrawan yang bernama asli Jubal Anak Perang Immanuel Abdiel Tambayong. Namun, siapa tahu jika ini lah representasi kuat dari era orde baru di mana sebening samudera bagi kita untuk melihat iblis dalam bayang manusia. Era di mana keji fiksi terdengar lebih masuk akal dibanding keji realitas.

Sisi kecohnya justru bagaimana antek-antek Oom Sam (Yus, Anton, Ananda, Dul Songkok, hingga Martinus) yang satu per satu dibangun karakter ‘petakanya’ sedemikian rupa, di akhir tidak menghadirkan ancaman berarti. Bisa jadi ini tindak tanduk semau gue-nya Remy Sylado. Secercah antiklimaks yang menarik.

Mendalami tokoh Luc Sondak atau Oom Sam juga membuat terbayang akan sosok Remy sendiri. Persona om-om flamboyan berbusana otentik dengan cakrawala luas, berpribadi kuat, dan berumbar untaian kata menggelitik. Simak apa yang dikatakan Oom Sam pasca mengenyahkan ponakan merangkap ‘penakan’nya:

Mengerti tidak kamu, mengapa perempuan-perempuan terhormat saat ini paling suka disebut Jeng menurut tatanan feodal: Jeng Anu dan Jeng Polan? Jeng itu dari kata Ajeng: raden Ajeng Anu atau Raden Ajeng Polan. Orang lupa, bahwa kata ajeng dalam bahasa Jawa itu artinya ‘mau’. Jadi diapakan saja, ya harus ajeng, harus mau, dan itu pengertiannya harus patuh, tidak boleh membantah.

Namun, apapun, saya belum menemukan apologi untuk ending kisah di Kerudung Merah Kirmizi yang sangat buruk. Sampai tidak tega mau menceritakannya. Secercah antiklimaks yang antiklimaks.

Kerudung Merah Kirmizi pada akhirnya belum saya percayai sebagai representasi kualitas kepengarangan sosok Remy Sylado, tetapi ini adalah novel yang menghibur. Buktinya, saya bisa baca sampai selesai.

Loh, jangan salah. Riwayat kuantitas keterbacaan literatur fiksi saya itu remah-remah. Mungkin bisa dihitung pakai jari ceker ayam. Sebelumnya, opsi untuk membaca buku fiksi dan non-fiksi itu bagi saya seperti ditawari Extra Joss Susu atau susu yang extra jos. Pilihan retoris.

Di mata saya, buku-buku sejarah, filsafat, teologi, politik, musik, film, porno, budaya, lebih menggiurkan (bukan berarti pasti paham juga) daripada novel-novel, cerpen, puisi, apalagi sastra lisan. Lebih suka baca kumpulan wawancara Pramoedya dibanding tetralogi-nya sendiri yang saya beli ¾ nya palsu gara-gara ketipu utuh lagi belum tersentuh.

Masa menghabiskan novel—yang sempat cuti sebulan—ini pun sudah sampai diiringi selesainya saya menamatkan buku Posmodernisme dan Budaya Pop, 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh, dan sederet buku-buku jurnalistik. Melihat jejak rekam dan kredibilitas opini kesusastraan saya yang masih tanda tanya, mungkin Anda jadi menyesal baca artikel ini. Itulah kenapa itu tadi saya bahasnya di akhir. Secercah klimaks di semaks-semaks.

Advertisements