Tags

, , , ,

foto0092

pic:kangenbukuindonesia.wordpress.com

Selaku anak postmodernisme kemarin sore, saya didera-ria kerutan dahi ketika membaca buku kumpulan esai Angela Mc Robbie, seorang pakar budaya dan feminisme ini. Sungguh, kiranya buku ini untuk akademisi disiplin budaya populer tingkat lanjut. Angkuhnya diri ini ketika berpikir sudah cukup dengan khatam film-film Quentin Tarantino dan melengkapi koleksi MP3 Radiohead.

Ada tiga konsep besar dalam buku ini: Postmodernisme, marxisme, dan feminisme (Sudah terdengar otakmu menjerit-jerit? “Tidaaaak, jauhi buku laknat itu!! Aku tidak sanggup!! Jangan paksa aku!! Husss!!! Husss!!!”).

Pertama, postmodernisme sendiri masih jadi obyek perang mulut oleh para pakarnya, karena sedemikian kompleks sekaligus samar, dan kabarnya hingga kini belum terkonstruksi dengan sempurna sebagai sebuah obyek kajian budaya. Mari curiga sejatinya yang disebut pakar-pakar itu juga tidak paham apa yang mereka bicarakan.

Lantas, feminisme, adalah teori sosial yang sejauh ini sengaja saya jaga jarak untuk menulis dan beropini di dalamnya. Ia rasa-rasanya begitu dekat dengan kita, kerap jadi materi rumpi tongkrong, namun juntrungannya tak pernah menentu. Baik di lingkaran obrolan yang dengan kawan-kawan yang melihatnya secara dangkal, sampai yang kritis tapi malah cenderung emosional. Apalagi banyak ‘polisi’-nya :).

Marxisme? Tak usah ditanya. Dari ada sampai tiada, cuma bikin muntah-muntah. Surealis.

Tapi tenang, di sini Mc Robbie juga bahas neo-marxisme. *oh.. sedia plastik sebelum hujan Supermie Ayam Bawang dari mulut*

Apa bekal pemahaman dasar saya sebelum nekat baca buku ini?

Postmodernisme adalah pandangan atau ekspresi kultural yang berkembang sejak akhir 1960an, namun baru mulai marak dikaji bersamaan dengan runtuhnya keemasan komunis di akhir 1980an.

Postmodernisme bertolak sebagai kritik pada modernisme. Ia berakar dari kekecewaan akan kegagalan modernisme mewujudkan ekspetasi-ekspetasi akan rasionalitas yang diusungnya (puncaknya perang dunia kedua).

Disebut oleh Anthony Giddens sebagai “modernisme yang berubah menjadi bijak”, postmodernisme memanen paham bahwa bukan pikiran dan rasio yang selaiknya dituhankan, namun hasrat atau emosi personal. Kebenaran dan moral adalah subyektif, tidak ada yang universal. Dunia penuh ketidakpastian. Paradigma menjegal teori, nihilisme dan relativisme berkumandang.

Dalam ranah seni, sebagian ahli budaya melihat eksistensi postmodernisme dari munculnya entitas-entitas seni yang dianggap remeh dan dangkal (hanya menyentuh permukaan) seperti budaya pop yang kita kenal saat ini. Seni tidak seserius dan seotentik pada era modernisme, diiringi perspektif kritik seni yang subyektif pula.

Udah.

Lantas, apa yang saya terima dari buku Posmodernisme dan Budaya Pop?

Sedari awal, Mc Robbie membela peranan postmodernisme sebagai kajian budaya. Ia menyangkal asumsi bahwa postmodernisme sepenuhnya membawa kemorosotan budaya hanya karena semua serba superfisial, tidak serius, palsu, dan mematikan budaya intelektualitas dan sosial, lantaran semua serba subyektif dan terfragmentasi. Menurutnya, hal-hal superfisial bukan berarti nihil makna, namun bisa jadi sebuah strategi politik-sosial yang cerdik dari lanskap budaya dan kemajuan teknologi. Glamor dan gemerlap bukan berarti apolitis.

Tentang ketiadaan universalitas, arena teori sosial seperti feminisme dan marxisme memang mulai kalang kabut. Modernitas sebelumnya dilihat memberikan ruang bagi diskursus tentang kebebasan, emansipasi atau kesetaraan. Kini, semuanya terancam pudar oleh postmodernisme. Gagasan-gagasan besar yang dibangun berabad-abad terjangkit wabah pemecah belah.

Misalnya, feminisme mendapat ancaman besar oleh fragmentasi yang dibawa postmodernisme. Siapa yang wanita-wanita tangguh itu perjuangkan ketika kebenaran adalah milik personal? Masih eksiskah gagasan tunggal keperempuanan? Apakah feminisme benar-benar mewakili suara seluruh perempuan di dunia? Politik representasi sebagai hak untuk bicara atas nama perempuan dipertanyakan. Bagaimana feminisme terus berlanjut dan berupaya memperbesar diri bersamaan dengan sekaligus mengakui sejarah, pengalaman, dan identitas pribadi menjadi cukup paradoks.

Via esai lainnya, Mc Robbie mengulas budaya pakaian loak di kalangan anak muda Inggris. Dalam perspektif awal postmodernisme, ada pendapat bahwa hilangnya keyakinan terhadap masa depan telah melahirkan kebudayaan yang hanya dapat menoleh ke belakang dan melihat kembali momen-momen penting pada sejarah sendiri dengan kekaguman sentimental. Tak ada yang baru kecuali serba-serbi lawas, loakan, atau barang bekas yang dIkumpulkan untuk diberi citra dan makna. Termasuk budaya pakaian bekas sebagai bagian dari konsumerisme. Masyarakat tidak mampu memproduksi citra serius atau teks yang memberi arah dan makna kepada manusia. Kesenjangan yang diperlebar oleh ketidakhadiran ini justru diisi oleh pernak-pernik budaya dengan citra lama yang didaur ulang dan diperkenalkan kembali dalam sirkulasi sebagai sebuah karya seni.

Sebagian besar gaya pakaian subkultur kala 1960an memang memanfaatkan barang bekas sebagai bahan mentah penciptaan gaya retro. Meski memiliki sejarah panjang, konon adalah album Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band yang menandai masuknya gaya pakaian anakronistik dalam bisnis fashion. The Beatles berada di titik tengah antara kemapanan pop dan kaum hipster. Seragam militer lalu kacamata murah John Lennon menjadi lambang anti materialis khas hipster. Ada peleburan kelas, dimana gadis kelas pekerja mengidolakan untuk berpakaian seperti Putri Diana, sementara gadis kelas menengah berlomba-lomba terlihat miskin.

Budaya anak muda di era postmodernisme memang dipandang sebagai dunia yang hanya dibangun oleh citra, citra, dan citra. Dipacu oleh media massa misalnya, fashion DIY (Do It Yourself) punk 70-80an juga mengalami depolitisasi dan komodifikasi yang kemudian benar-benar mengubah gaya berbusana menjadi seni pop.

Namun, Mc Robbie bersikeras menganggap bahwa segala tren itu sesungguhnya tak sekedar nostalgia atau nihil esensi. Budaya DIY merupakan gerakan politik identitas anak muda, termasuk demi melawan konvensi pakaian dewasa. Anak muda sebagai titik utama kegelisahan sosial dan politik adalah tempat inovasi budaya. Perbedaan dan subyektifitas masing-masing menjadi formasi historis, yakni ekspresi dari satu generasi ke generasi lain.

Mc Robbie sempat juga menyinggung bagaimana musik telah menawarkan dan melahirkan bahasa anti-rasisme. Ia hanya menyuarakan sedikit, namun tak dinyana ini kemudian menjadi suaka materi bagi misi agitasi saya, “musik adalah senjata perubahan”.

Saya tercetus, kulit hitam menunjukan pesona yang begitu berkilau lewat budaya dan musik. Musik hari ini tak akan pernah sama tanpa mereka. Seperti kita tahu, musik jazz, hip hop, reggae, R&B, dan blues berasal dari kultur kulit hitam. Menyebut ‘blues’ berarti juga bicara rock, metal, punk rock, grindcore, grunge, garage rock, dan rumpun distorsi lain.

Tatkala Hollywood masih didominasi kulit putih, apa lagi ruang budaya populer anak muda lain yang mematenkan paritas kaum kulit hitam selain industri musik? Mungkin pentas olahraga seperti basket dan sepakbola mampu menjaring jutaan anak muda sejagat, namun olahraga sejauh ini masih terasosiasi dengan fisik, bukan intelektualitas. Toh, tak pernah ada sejarah kulit hitam terdiskreditkan oleh perkara fisik. Urgensinya adalah bagaimana kulit hitam mampu menawarkan identitas mereka dalam balutan kebanggaan budaya dan akal budi. Musik adalah jawaban.

Bayangkan, andaikata kulit hitam tak punya kultur musik sedemikian kuat. Saya yang notabene tak punya kedekatan dengan orang timur, bukan tidak mungkin kian merasa asing dengan mereka. Terlebih bagi anak muda yang bahkan tak mau tahu dengan histori politik global, jauh dari nama-nama Malcolm X, Nelson Mandela, atau Martin Luther King, Jr. Mengingat Obama bukan Sultan yang nggak ada bosan sama kekuasaan, bisa saja generasi kelak hanya punya referensi seorang Pele dalam representasi kulit hitam, yakni manusia-manusia yang larinya kencang, jago salto, dan pasti menari kalau hati sedang bungah. Benih-benih rasis bisa tumbuh begitu inventif.

Jangankan mengidolakan, menjalin relasi akrab dengan kulit hitam saja bisa dianggap aib bagi kulit putih di masa lampau. Kini, bukan dongeng adanya kelas menengah kulit putih mengelu-elukan Michael Jackson, bermimpi bercinta dengan Beyonce, menyanyikan “No Women No Cry” dengan heroik, atau mengamini bahwa salah satu mukjizat Tuhan adalah jari-jari Jimi Hendrix atau pita suara Aretha Franklin. Musik menjadi sumber daya dan capaian yang tak selalu bisa diimbangi kulit putih. Semua berkat kekayaan kultural dalam menawarkan dan mengonfirmasikan identitas mereka. Musik mengubur kesenjangan warna kulit, dan memanusiakan mereka dalam bumi yang sedemikian setara. Musik mewujudkannya dengan elok dan indah, bukan kapak dan darah.

écrasez l’infame, believe in music

Advertisements