Tags

, ,

pic : colinkellymusicreview.com

Dengan jumawa, saya mengintroduksikan ‘Lagu Terbaik Sepanjang Masa’.

“Sympathy For The Devil”

Please allow me to introduce myself

I’m a man of wealth and taste

I’ve been around for a long, long year

Stole many a man’s soul and faith

Adalah sebuah cita-cita mini—tatkala referensi musik sudah setaraf Robert Christgau—untuk kelak membuat peringkat pribadi semacam 100 Greatest Songs of All-Time dengan lagu kepunyaan The Rolling Stones tersebut yang sudah mewarisi puncaknya. Namun, belum masanya blog penuh prahara ini berkisah kenapa lagu itu bisa superior bagi saya secara subyektif-estetis-rohani-birahi.

Belum masanya juga saya tahu apakah penghuni kos belakang rumah diam-diam menggerutu  tentang tetangganya ini yang tiada hari tanpa menyetel lagu musyrik tersebut di waktu duha.

Bagi saya, “Sympathy For The Devil” lebih dari sekedar tampuk kreasi musik. Ialah karya yang begitu dekat dan personal. Karya yang setiap jam bangun pagi siang selalu menyuara dari speaker hitam terhormat sebagai menu berdansa sesat (baca: joget-joget di kamar kerja almarhum Ayah sendiri tanpa peduli masa dan agenda).

Pertama, sumpah demi kegelapan, ”Sympathy For The Devil” merupakan lagu yang paling ampuh untuk bergoyang. Bahkan dengan segala varian posisi kaki, lengan, ekspresi, libido, dan nurani. Tapi bukankah saya tengah tak ingin bicara musikalitas?

Diri tak hidup sendiri. Diri butuh rekan. “Sympathy For The Devil” adalah ritual pemanggilan rekan yang teridamkan.

Iblis, sebut diri.

Saya percaya ada iblis dalam diri saya. Beliau adalah api dan terang saya.

 

“You must have the devil in you to succeed in any of the arts” – Voltaire

Tentu beliau iblis. Saya tidak bisa bilang beliau adalah malaikat. Lantaran semua teridentifikasikan dengan hal-hal negatif. Setiap laku dan karya saya  berakar dari motif yang tidak mulia: ketidakpuasan, ego, arogansi, curiga, amarah, skeptis, dan kebencian. Saya tinggal bermasa-masa dengan mereka. Dan begitu menikmatinya. Tidak, bahkan saya sering berucap “terima kasih”.

Sementara rasa syukur, rendah hati, kompromi, adalah nihil.

Bukan hanya abjad dan abjad. Seluruh sendi kehidupan saya adalah kesenian. Menulis, membaca, bicara, bercinta, semua adalah pilihan tanpa hitam-putih yang niscaya. Persepsi adalah hakikat. Semua selaiknya karya seni, dan saya mendambakan iblis yang tangguh dalam diri guna bertahan hidup di romansa moral–intelektual durjana ini.

Dunia adalah neraka yang tersemestakan. Hanya iblis yang terlahir dan tertakdir untuk tinggal di sana.

Lagu itu adalah awal segala aktivitas dan keseharian saya. “Sympathy For The Devil” punya yang saya butuhkan. Sebuah titian koalisi dengan beliau. Beliau punya energi itu. Ode yang agung: perspektif sosok iblis yang mempertontonkan cengkeramannya pada insan manusia. Ritme yang melelah nafsu, gitar solo kudus Keith Richard, dan tiap Mick Jagger meracau Pleased to meet you / Hope you guessed my name”, saya melayangkan simpati.

Lalu, saya melihat seringainya.

Advertisements