Tags

, , , , , , ,

Sampul1_Catatan_Seorang_Demonstran

Catatan Seorang Demonstran adalah kemujuran perdana saya dalam perburuan buku. Saya yang mulanya tidak ada wacana mencari-cari ikon bacaan teruna aktivis-idealis ini malah dapat cetakan pertamanya (terbitan 1983) di loakan buku Tanah Abang dengan harga miring. Atas nama mubazir, Catatan Seorang Demonstran masuk kategori buku yang saya asingkan paksa dari tradisi “membaca bersama stabilo”.

Popularitas buku ini sempat melonjak pula gara-gara karya layar lebar Gie garapan Riri RIza di tahun 2005 silam. Pas baca, teringatlah selalu wajah Nicholas Saputra yang jadi pemeran Soe Hok Gie. Makanya, saya selalu merasa ada yang salah. Nicholas Saputra itu ganteng. Padahal, laki-laki kalau sudah pintar jangan sampai ganteng, atau sesungguhnya ia adalah dajjal bagi kaumnya. Selain fatal seleksi pemeran, (Loh, jelas toh itu sebuah kesalahan!) film Gie gagal total di mata saya. Gie bagai sekadar kampanye kutipan-kutipan Soe Hok Gie dalam etalase barisan aktor terkemuka Indonesia.

Catatan Seorang Demonstran pada dasarnya juga bukan karya agung di preferensi kepustakaan saya, namun—selayaknya catatan harian—buku ini sanggup membawa kita menyelami dimensi paling personal dari Gie, seorang mahasiswa sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Menurut kabar burung, sosoknya masih begitu menggema di fakultasnya kini (meski sebagian mengklaim puisi-puisinya biasa saja). Di situ kadang saya merasa sedih, karena lulusan populer dari almamater saya adalah Roy Suryo. Sedih karena pertama, dia adalah Roy Suryo. Kedua, dia masih hidup.

Gie adalah cerminan ideal manusia baru Indonesia, jiwa-jiwa yang lahir di sekitar tahun 1945 dengan pergulatan sosial politik berbeda. Ia hidup di kondisi kemahasiswaan masa lampau yang alamak jauh bedanya dengan masa kini. Simak kesehariannya mengerjakan skripsi dan berpacaran di sela-sela permufakatan sosial politik, gemuruh demonstrasi, dan segala pencapaian misi revolusi generasinya. Di sisi lain, simak bagaimana mahasiswa sekarang mengerjakan skripsi di sela-sela berpacaran…

Menarik juga gagasannya tentang perjuangan mahasiswa dengan analogi koboi:

“Seorang cowboy datang ke sebuah kota dari horizon yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan dan ketidakadilan. Cowboy ini menantang sang bandit berduel dan ia menang. Setelah banditrnya mati, penduduk kota yang ingin berterimakasih mencari sang cowboy. Tetapi ia telah pergi ke horizon yang jauh. Ia tidak ingin pangkat-pangkat atau sanjungan-sanjungan dan ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit berkuasa. “

Menurut hematnya, mahasiswa wajib turut ke lapangan dan medan pertempuran ketika ada ketidakadilan. Sehabis menang, mereka akan kembali menduduki bangku-bangku kuliah memasrahkan diri pada rutinitas cakapan-cakapan dosen. Paham yang tersingkirkan oleh doktrinasi “Mahasiswa tugasnya ya belajar saja. Mengubah negara dilakukan setelah dewasa” yang mulai merasuk ke mahasiswa-mahasiswa keluaran reformasi yang justru doyan mengkritisi para demonstran dibalik tirai kepengecutan ala “demo cuma bikin kotor” “bikin macet” “bikin rusuh”. Mahasiswa itu seyogyanya dwifungsi, bukan cuma buku dan smartphone, tapi pun nyali dan keringat.

Beberapa bulan lalu saya menamatkan buku catatan harian Pergolakan Pemikiran Islam dari Ahmad Wahib, seorang intelektual muda yang hidup satu generasi dengan Gie. Ia juga mati muda. Adalah takdir untuk membandingkan keduanya. Faktanya, di bagian Kata Pengantar Catatan Seorang Demonstran, Daniel Dhakidae juga banyak menyenggolkan Gie dengan Ahmad Wahib.

Ada komparasi menarik. Gie lahir dari ras tionghoa di lingkungan Jakarta yang progresif dan padat pergulatan duniawi. Sementara Wahib tumbuh dalam lingkungan santri yang cenderung konservatif. Namun, kendati yang satu berangkat dari sekularitas dan satu dari religiusitas, keduanya berakhir mengalami pertemuan paham perjuangan ide dan cita-cita. Keduanya adalah penganjur moralitas dan penggawa semangat pemuda sebagai batu tapal (istilah yang hanya saya dapat dari Gie) pembaharuan generasi sebelumnya.

Jika Wahib banyak menggugat islamologi lingkungannya, Gie beberapa kali menunjukan antipatinya pada peranakan tionghoa yang disebutnya “Masyarakat sebagai sebuah golongan karena sikapnya yang middle class dalam pengertian money complex, atau tepatnya maniak” (Meski ia juga mempertahankan nama tionghoanya, tidak seperti sang ayah: Soe Lie Piet menjadi Salam Sutrawan).

Belum genap wawasan saya untuk membandingkan persona keduanya secara holistik. Namun, dari sektor karya, saya lebih suka Pergolakan Pemikiran Islam dibanding Catatan Seorang Demonstran. Gie jelas lebih ambisius, insan idealis yang membara dibekali kecendekiaan yang eksplisit. Bahkan, di masa pubernya ia tak jarang adu mulut dengan gurunya mempersoalkan validitas materi pelajaran. Beda dengan anak sekolah jaman sekarang yang berlomba-lomba mengangkat tangan demi menjilat iming-iming nilai keaktifan.

Namun, menurut saya uraian kontemplasi di Pergolakan Pemikiran Islam lebih matang dan inspiratif. Membaca Catatan Seorang Demonstran seperti memasuki isi kepala seorang jenius dengan gagasan berkobar-kobar, namun kadang lepas kontrol menjadi sekadar auman kaum idealis yang sulit didengar. Sementara membaca Pergolakan Pemikiran Islam seperti menemukan kegelisahan yang terpendam di benak sendiri sejak lama, menancap telak dari lamunan, memaksa saya menepuk-nepuk dada sembari bersumpah serapah.

Hingga ada sebuah joke internal vulgar kawan-kawan: “Gie lebih populer karena tewasnya lebih dramatis, terjebak gas beracun kawah Semeru satu hari sebelum tepat ulang tahunnya ke 27 (Nyaris saja ia masuk 27 Club bersama Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Jim Morisson dkk). Epik. Ahmad Wahib sialnya tertabrak motor di depan tempat kerjanya. Sederhana.”

Lupakan.

Faktanya, capaian Gie sebagai tokoh aktivis sekiranya memang lebih menggunung. Konon, ia adalah inspirator aksi ‘long march’ demonstrasi mahasiswa pada 1966, dan merupakan salah satu aktivis terdepan dalam menjatuhkan Bung Karno. Saya penasaran bakal seperti apa laman-laman Catatan Seorang Demonstran jika ia diberi usia lebih panjang di rezim Soeharto.

Riwayat kebenciannya pada Bung Karno memang bukan kelas karbitan. Ada banyak cerita. Misalnya, pengalamannya terlibat obrolan ‘selangkangan’ langsung dengan Bung Karno. Termasuk kala Bung Karno membayangkan bagaimana rasanya memegang payudara wanita yang diinjeksi plastik. “Sebagai manusia saya kira saya senang pada Bung Karno, tapi sebagai pemimpin tidak,” tulis Gie.

Gie juga merupakan pencetus utama (atau mungkin paling populer) dari Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di Indonesia. Ia mendirikannya pada tahun 1964 dengan nama Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam), sebelum kemudian diganti nama karena terlalu borjuis. Klaim pijakannya: Patriot tak bisa didapat dengan slogan, melainkan jika pemuda benar-benar mengenal tanah airnya, termasuk kekayaan alamnya. Cakep.

Mari singgah pada kesamaan antara Gie dan Wahib. Kendati memiliki banyak kawan dan pengagum, keduanya adalah individu-individu yang terasingkan. Taji dan nyali telah menenggelamkan mereka dalam derita sanubari. Sisi humanis ini diantaranya nampak dari kisah romansa Gie di Catatan Seorang Demonstran. Ia ditolak oleh orang tua kekasihnya. Kiprah berani dan berapinya membuat ia disanjung dan diciumi bagai tentara, namun ditolak jika meminta anak gadis atau keterlibatan lebih intim dengan orang-orang di sekitarnya.

Empati penuh dari saya. Tumbangnya cekalan orde lama hingga orde baru tak lantas membuat orang-orang masa kini berpikir terbuka. Setiap manuver pemikiran dan pengabaian kebiasaan masih kerap memaksa saya berhadapan dengan penolakan dan picingan mata. Dunia masih jijik melihat perbedaan dan ambisi.

Bukan begitu Gie?

“Kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”.

Advertisements