Aku adalah pembenci. Detik tak punya letih, dan kian ke sini, aku kian mudah membenci. Aku kian mudah merendahkan orang lain. Hatiku kian menggelap, menunggu hitam bukan lagi semata bola mata.

Bola mata, ada apa lagi hari ini?

‘Sepasang pemudi beradu gunjing menyaksikan wanita berpakaian terbuka’

‘Mahasiswa yang percaya peran mulianya hanya kuliah dan belajar’

‘Orang-orang tanpa cita-cita mengular melamar pegawai negeri’

‘Obrolan seputar pekerjaan yang cuma tersebut kapital, kapital, dan kapital’

‘Ritual atau budaya kejawen dimana pun kampungnya dan jawanya’

‘Unggahan artikel-artikel islami di media sosial yang tiada hentinya’

‘Percakapan penuh basa-basi kawanan pensiunan tentara di pelataran pengusaha kaya’

Sungguh, kapan mereka binasa?

Aku adalah pembenci

Kian banyak aku mengenal, kian banyak aku membenci. Kian luas belajar, kian luas kebencian. Apa aku belajar hanya untuk membenci? Atau justru aku kurang belajar? Aku kian kehilangan kontrol. Nurani berbantah dengan kompromi.

Aku menjadi kesulitan untuk berbincang dengan orang lain. Semua yang meluncur dari mulut orang lain terdengar salah. Aku pilih banyak diam. Bukan, aku berjuang untuk diam. Aku malas meladeni. Biarkan aku tahu, tapi biarkan aku diam. Anjak susah rasanya mendapat rekan bicara. Padahal aku ingin sekali bicara tentang Tuhan dari sudut pandang iblis dan kemanusiaan dari sudut pandang vagina.

Sukar mendengar orang lain bercakap tanpa benci menyeruak seraya memendam, “Hei, jika ingin bicara, mari kita mulai dengan pasang benar dulu otakmu kawan”. Bahkan terkadang ini bersifat apriori. Aih, jika aku sudah mulai sok pintar, snobisme bisa menunggu.

Kian merasa asing dengan cara berpikir orang lain.

Aku terasingkan

“They laughed at me because I’m different. I laughed at them because they’re all the same.” – Kurt Cobain

Kutipan yang terlampir di laman skripsi. Kutipan yang aku tempa dari tahun ke tahun, dari satu tawa ke tawa lain, hingga kini beralih membuatku ingin muntah. Kenapa aku selalu berbeda? Kenapa di mataku mereka semua salah? Kenapa begitu banyak orang yang salah? Apa memang seantero kebenaran sudah habis menguap ke atap langit?

Menguap, meninggalkanku sebatang kara. Hanya bersisa asmara antara kepercayaanku dan kebenaranku.

Terasingkan.

Advertisements