Tags

, , , , , ,

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Inilah konsekuensinya belajar jurnalistik secara otodidak dan trial and error. Buku sepenting Sembilan Elemen Jurnalisme—sepaket dengan semacam spin off nasionalnya: Agama Saya Adalah Jurnalisme karangan Andreas Harsono—saja baru kenal. Padahal setidaknya ada tiga atau empat mata kuliah berbau jurnalistik di kampus saya, tapi rasa-rasanya judul buku ini tak pernah kesebut, dan zzzzzzzzz… okay, ampun my darling… memang dasarnya saya yang enggak pernah dengerin kuliah. Sesalnya lagi, baru tahu setelah kelar baca kalau sudah ada versi revisinya: Sepuluh Elemen Jurnalisme. Brengsek.

Sembilan (atau Sepuluh, whatever) Elemen Jurnalisme bukan buku pedoman menulis, melainkan semacam kajian akan serba-serbi jurnalisme secara luas, meliputi juga media penyiaran. Ditulis oleh duo kuli tinta kawakan—Bill Kovach (18 tahun di New York Times) dan Tom Rosenstiel (Los Angeles Times)—buku ini menyajikan sembilan elemen yang dibutuhkan para jurnalis, redaktur, atau wartawan, agar di lapangan, mereka tak lagi menjadi sekedar “saksi kebetulan yang tak terlatih”.

Lantas apa saja sembilan elemen jurnalisme itu? Surprise!!! Selamat datang di satu-satunya artikel tentang buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang tidak menuliskan sembilan elemen tersebut.

Silahkan cari di blog lain.

Nah, teruntuk Anda yang masih punya harapan artikel ini ada gunanya, ijinkan saya barang sebentar mempromosikan jurnalisme. Dalam buku ini, Kovach dan Rosenstiel sanggup meyakinkan bahwa terlepas praktiknya yang carut marut, pada hakikatnya jurnalisme adalah aktivitas mulia. Jurnalisme melayani kebutuhan dasar manusia: kebutuhan informasi atau pengetahuan atas apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri individu. Distribusi berita faktanya sudah berlangsung sejak jaman primitif. Imajinasikan para pithecanthropus erectus di eranya saling berbagi info tentang lokasi hewan buruan, gua-gua tempat berteduh , skor liga champion dan sebagainya.

Tiap individu senantiasa mengambil keputusan dan melakukan tindakan apapun sesuai informasi yang ia miliki. Maka, esensi jurnalisme adalah resistansi dan perlawanan pada otoritas. Bayangkan, tanpa adanya pers dalam suatu komunitas atau bangsa, akses informasi adalah monopoli penguasa. Otomatis, penguasa mengenggam kendali penuh atas rakyatnya. Di sinilah peran media hadir. Ia ada agar rakyat juga berkesempatan mengantongi akses informasi yang mumpuni, hingga mereka punya modal mandiri untuk bertindak dan menentukan pilihan. Alhasil, loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat (Spoiler!! Elemen jurnalisme kedua)

“Ketika kau memiliki kekuasaan, kau menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kau punya kepemimpinan. Namun kalau kau seorang wartawan, kau menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka masing-masing” – Bill Kovach, mengutip opini presiden Jimmy Carter.

Saya tekankan, jurnalisme adalah perangkat kebebasan.

Kian tinggi kualitas jurnalisme sebuah masyarakat, maka kian tinggi kualitas persebaran informasi di dalamnya. Praktis, kian tinggi pula kualitas hidup masyarakat tersebut. Peran jurnalisme semakin otentik di sini. Media seharusnya tidak lagi dipandang—dan berlaku—ibarat pabrik dagang informasi dengan buruh-buruh outdoor (wartawan).

Tak ada hukum untuk berita. Itulah yang mendorong Kovach dan Rosenstiel sampai banting tulang melayangkan survei terhadap ratusan wartawan untuk memformulasikan sembilan elemen dalam buku ini. Dan satu elemen yang paling kerap didengungkan oleh Kovach adalah ‘verifikasi yang transparan dan sistematis’. Apa pun penyajiannya, berita itu harus benar. Ada jurang lebar antara komunikasi dan jurnalisme. Menyebarkan desas-desus itu komunikasi. Tapi melaporkan peristiwa yang ia saksikan langsung atau dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, itu baru jurnalisme. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi (Spoiler 2!! Elemen jurnalisme ketiga).

Sementara yang sejauh ini acap mengundang sesat paham, jurnalisme mesti bersikap. Ia tak harus netral. Objektif bukan tujuan, tapi metode. Objektivisme bukan berarti tidak berpihak dan dimaknai secara matematis. Netral bukan inti jurnalisme. Keseimbangan atau sikap tak berat sebelah bukan dari apa yang disajikan, tapi lebih ke proses. Jika kita tengah menyusun artikel tentang dua kandidat politik menjelang pemilu, tidaklah wajib memaksakan keduanya ditampilkan dengan ulasan yang sama positifnya atau sama negatifnya (demi memburu netralitas) andaikata kita menemukan fakta bahwa salah satu kandidat jauh lebih busuk dari yang lain. Ada kalanya berimbang bukan cerminan realitas. Unsur pentingnya adalah independensi semangat dan pikiran, verifikasi, serta metode reportase yang proporsional.

Ambil contoh kasus majalah WARN!NG edisi keenam (April 2015), kala kami mengangkat isu Religion Against Music? Sebuah respons akan gelombang musisi tenar yang angkat kaki dari wilayah bermusik dengan motif tuntunan agama islam. Industri musik geger lantaran mereka mengklaim musik itu haram. Edisi tersebut meraih sambutan pembaca yang amat positif, mayoritas karena kami dipandang mampu menangkap realitas dan menggarapnya secara proposional dan berimbang antara kubu yang menghalalkan musik dengan kubu yang mengharamkan musik.

Uniknya, saya sendiri tak yakin apakah persepsi ‘berimbang’ dari pembaca sepenuhnya serupa dengan saya. Memang, sedari semula kami mengambil sikap agar substansi artikel tidak serta merta menghakimi pelaku pengharaman musik sebagai bigot-bigot kurang piknik (meski jelas ada tendensi framing ke situ, karena WARN!NG diisi oleh anak-anak penghamba musik yang tidak pernah sholat huihihihi). Namun, ternyata kuncinya bukan di penulisannya, melainkan karena agaknya kami adalah satu-satunya media yang mampu tembus melakukan interviu langsung dengan pihak The Strangers (kumpulan mantan musisi yang mengharamkan musik dan bergerilya di aktivitas dakwah religius). Singkat kata, kami sukses merealisasikan proses reportase obyektif selaiknya yang disebut Kovach dan Rosenstsiel. Prestasi yang nampaknya sederhana namun bahkan gagal dilakukan majalah sekelas Rolling Stone.

Balik ke buku Sembilan Elemen Jurnalisme, memang kelewat utopis membayangkan polah jurnalisme hari ini benar-benar memenuhi kesembilan elemennya. Kungkungan komersialisme, tuntutan teknologi, serta mentalitas melempem makin ke sini makin ringkih guna membangun lingkungan pendukung ideal bagi gagasan Kovach. Namun, laiknya pernyataan Kovach sendiri, buku ini ibarat bintang di langit. Mungkin terlalu tinggi dan jauh digapai seluruhnya, tetapi—selayaknya bintang di langit—ia mampu berperan sebagai pedoman arah. Gelagatnya ini adalah kandidat buku yang bakal berumur pendek kondisi fisiknya karena sering saya buka-buka lagi di banyak momen. Boleh juga diresmikan sebagai buku diktat wajib anak-anak magang WARN!NG.

Advertisements