Tags

, , , ,

maxhavelaar-53ed6b1c40fbf

Sukar berpikir jernih (baca: menunda membeli) tatkala menemui buku ini di toko buku. Pertama, saya—dan semua yang pernah duduk di sekolah berbasis kurikulum sesat yang ‘memperdagangkan’ buku diktat sejarah (terutama Erlangga)—pasti familiar dengan judulnya. Kedua, Max Havelaar terbitan Qanita ini menampilkan testimoni paling dahsyat yang pernah saya temui di seantero literatur sejarah Indonesia:

“Kisah yang ‘membunuh’ kolonialisme”

Pramoedya Ananta Toer

(New York Times, 1999)

Pram tidak pernah sembarang mengumbar glorifikasi. Max Havelaar memang punya andil menghabisi kompeni. Empati Douwes Dekker alias Multatuli melihat bangsanya menggelontorkan kekejian pada bangsa lain membuatnya menjadi salah seorang pertama yang mengungkap bobrok pemerintahan dan kolonialisme tiada tara dari Belanda pada bumiputra. Kelahiran Max Havelaar membuat pihak Belanda halai-balai, (mungkin) menumbuhkan semacam rasa bersalah, hingga sempat sedikit melemahkan kebengisan kompeni. Puncaknya, resmilah penerapan Politik Etis atau Politik Balas Budi yang mengandung kebijakan irigasi, emigrasi, dan edukasi. Kendati tetap ada banyak penyimpangan, namun setidaknya inilah benih munculnya periode kekuatan resistan bangsa yang lebih matang, terutama atas berdirinya sekolah-sekolah yang melahirkan calon-calon penghuni makam pahlawan.

Dengan impak seperti itu saja—terlepas apapun kualitas sastrawi dan substansinya—sejatinya kita sudah punya beban motif untuk memuliakan Max Havelaar. Namun, kita orang Indonesia memang kadang punya ‘selera humor’ yang ekstrim. Secara ironis, Max Havelaar sempat jadi bacaan wajib sekolah-sekolah di Belanda. Sementara, di Indonesia yang dalam perspektif problematisnya lebih layak pro aktif melakukan kajian, cuma ada judulnya yang lalu lewat di buku-buku diktat sejarah sekolah. Mungkin menghafalkan tanggal berdiri VOC lebih dipercaya bisa mengatasi pengulangan sejarah.

Terdapat lebih dari satu sudut pandang pengisahan di Max Havelaar, sehingga alurnya berlapis-lapis, majemuk, dan rawan membingungkan, namun masih sangat logis diikuti. Kebanyakan pegiat resensi mengkritisi bagian-bagian awal (Bab 1,2,3,4) yang menjadi dunia cakap seorang makelar kopi bernama Droogstopel yang arogan, materialistis dan murah antipati—(konon) tipikal warga Belanda. Sementara kisah romantika Saidjah dan Adinda pada Bab 17 disebut-sebut sebagai mahakarya buku ini.

Nah, saya—yang sudah hidup 23 tahun dengan diri saya sendiri—tahu benar jika dari oroknya malah selalu lebih larut dalam dialektika sisi jalang manusia yang memengkalkan dibanding uraian roman melankolis rohaniah. Saya belum pernah menikmati penokohan fiksi literatur sebaik menyimak Droogstopel dengan gelora sinismenya yang dialamatkan secara cerdas pada hampir seluruh tokoh lainnya:

“Kau datang untuk bicara dengan Papa?’ tanyanya mendadak, dan aku langsung melihat bahwa ia telah dibesarkan dengan buruk. jika tidak, ia pasti akan menyebutku ‘Tuan’.”

“Stern adalah lelaki yang sangat pintar, kemajuannya pesat dalam bahasa Belanda, dan ia telah menerjemahkan puisi-puisi Jerman Sjaalman itu ke dalam bahasa Belanda. Kau tahu, orang belanda itu menulis dalam bahasa Jerman, dan bahasa Jerman itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Seandainya setiap orang tetap menggunakan bahasanya sendiri, banyak masalah akan terhindarkan.”

Kisah Max Havelaar—pengganti seorang Asisten Residen yang dibungkam sebab mencoba mengungkap kezaliman pemerintahan Lebak, Banten—sebagai tokoh bagi kita untuk menyimak kondisi kolonialisme Belanda yang korup memang baru dimulai di bab lima. Kita disajikan skema relasi yang terjadi di tataran elit antara Asisten Residen, Residen, Pengawas, Bupati, dan Gubernur Jenderal. Dari sini kita disadarkan bahwasanya kolonialisme berlabel 3,5 abad itu tidak sehitam putih ‘Belanda melawan Indonesia’. Elit pribumi, utamanya para bupati, pada realitasnya justru merupakan sang biang kerok. Anak bangsa mengorbankan bangsanya ternyata sudah mengakar sedari lampau.

Dan biang kerok lainnya adalah kaum Jawa sendiri (Eng ing eng! Inilah kenapa Pram begitu menggemari Multatuli). Bagaimana Jawa bisa begitu mudah takluk total oleh Belanda dengan sistem ketidakadilan yang sedikit banyak didukung oleh pembawaan dan tabiat orang Jawa yang terlampau patuh, rendah diri—ini bahkan sampai menjadi pekerjaan rumah bagi pejabat Eropa yang bekerja di pedalaman Jawa (Bahkan yang awalnya memanfaatkan saja sampai kesusahan???)—dan bagai kerbau dicocok hidungnya (yang kini masih sering dibangga-banggakan sendiri, yeah kearifan lokal). Pengaruh monarki mengakar akan pemujaan pada bupati dan raja di Jawa inilah yang dimanfaatkan sedemikian rupa. Bupati yang sama sekali tidak berpihak pada rakyat secara tidak langsung menjabat sebagai boneka kompenian, dan penduduk Jawa bisa dikontrol secara sukarela.

Ouch, Sssst.. pola relasi jelata lugu dan raja lalim ini nyatanya juga masih berlangsung di tanah kelahiran saya hingga saat ini. Viva La Java!!

Advertisements