Tags

, , ,

CJNwaNYUsAEEGEs

Momen dengar perdana band indie rock asal Jakarta ini adalah tatkala mereka mengirim lagu bertajuk “One Eyed-Jones” untuk kompilasi digital Warning Magazine edisi lima. Serta merta pun perhatian saya tercuri di 20 detik pertama yang mengingatkan pada album Humbug-nya Arctic Monkeys, dan beralih sambung ke komposisi raw ala “Perharps Vampires Is a Bit Strong But…”. Sound-nya memang ciamik, yang terbaik di antara selusin lagu yang kami loloskan seleksi kala itu.

Setengah tahun berlalu, tiba-tiba mereka jadi favorit salah satu rekan saya—yang habis membawa pulang Rue Massena. Tak beda dengan “One Eyed-Jones”, materinya memang dibungkus sound dan warna musik modern dance rock yang berkelas. Senada dengan itu, packaging album Rue Massena juga elegan dan ‘mahal’, hingga berkesan salah jika Anda mendapatinya di rak penjualan CD lokal. Kovernya sepasang wanita bule yang ‘gesek-gesek bibir’ dan (sepertinya) tiada penggunaan bahasa Indonesia sama sekali di sleeve, sehingga The Young Liars bisa rentan dicap sebagai artis budak ‘kebarat-baratan’. Makanan empuk seniman-seniman budaya ini wakakak. Anyway, saya sendiri tak peduli.

Toh, setidaknya mereka tidak hanya gaya, karena memang sudah punya portofolio internasional, yakni—yang saya tahu—tampil di Midem Festival, Cannes, Perancis, pada 2012 silam. Titel Rue Massena sendiri dicomot dari nama jalan tempat mereka menetap di sana.

Hanya saja di hemat saya, Rue Massena dengan garapan musik dan ‘kelengkapannya’ yang apik dan tidak main-main, justru agaknya minus hal terpenting. Yakni penulisan lagu berbasis melodi yang kuat. Tak terdeteksi lagu-lagu yang ‘nendang’ berdaya ampuh, sehingga rawan kebanyakan pendengar akan sekadar terkesima dalam impresi dini semata.

Advertisements