Tags

, , , , ,

Pergolakan_Pemikiran_Islam_Catatan_Harian_Ahmad_Wahib

“Pinjam buku yang keislam-islaman dong, mumpung bulan Ramadhan,” ujar saya ke seorang Kawan yang tengah habis berbuka puasa di azan zuhur. Ia menyodorkan sebuah buku kecil berwarna hijau dengan kover yang tak cukup memikat. Pun saya terima tanpa banyak tanya lantaran yakinlah ia sudah paham bahwasanya “buku yang keislam-islaman” yang saya harapkan bukan berarti semacam La Tahzan atau Subhanallah, Lima Jam Terampil Berpuasa.

Pergolakan Pemikiran Islam merupakan kumpulan catatan harian Ahmad Wahib, seorang pemikir (dan pembaharu?) islam yang wafat di usia 30 tahun akibat kecelakaan. Seorang eksakta di UGM yang beralih menggeluti dunia filsafat. Seorang didikan santri yang di tiap sesi doa sehabis sholat bukannya tak sabar bertemu Tuhannya untuk memohon, melainkan untuk protes. Seorang anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang lantas menarik diri karena menganggap organisasi itu tertutup, fobia pada pemikiran bebas, apriori, dan cenderung melemahkan tataran berpikir.

Ahmad Wahib: Anak muda yang bergulat dalam pencarian

Pergolakan Pemikiran Islam bagai kitab kritik terhadap agama islam. Beberapa diantaranya bahkan tergolong radikal, apalagi di zamannya—1969, belum lama dari tragedi PKI—dimana sekularitas bisa berakhir dengan leher terpenggal. Ia mempertanyakan teologi islam, shalat lima waktu, presensi Nabi Muhammad SAW, bahkan kedudukan Al-Quran dan Al Hadist.

Membacanya membuat gemetar—selain akibat lapar pas puasa—lantaran saya menemui banyak sekali kegelisahan dan renungan yang sangat akrab di batin sendiri. Sangguplah membayangkan tangan sendiri yang menulis kalimat-kalimat seperti:

”Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri?”

“Bagaimana orang disuruh dengan sukarela percaya bahwa Tuhan ada, kalau tidak boleh memikirkan kemungkinan benarnya ‘kepercayaan’ bahwa Tuhan tidak ada.”

Saya mengimani bahwa Tuhan mesti dicari dengan akal sehat. Bagaimana saya berkemungkinan terdorong membenarkan Islam dibanding agama Zoroastrian misalnya, kalau bukan dengan akal sehat? Menunggu Ilham? Ilham mesti diburu, dan rasio—bekal dari Tuhan sendiri –adalah senjatanya. Pengikut agama non-islam memilih keyakinan mereka seharusnya juga bertolak dari gejolak nurani dan ilham personal masing-masing. Lantas, darimana akar tesis bahwa mereka yang keliru dan kita yang benar?

Itu andai yang esa dan benar memang ada.

Syahdan, gagasan terkeras dari Ahmad Wahib adalah ketika ia menyatakan hukum islam itu tidak kekal. Adalah sejarah Muhammad SAW yang sesungguhnya merupakan sumber agama islam dengan Al-Quran selaku puisi ilahiah yang umat seyogyanya melakukan penghayatan rohaniah terhadapnya. Islam bukan satu-satunya petunjuk untuk menjawab persoalan-persoalan hidup muslim, baik pribadi maupun masyarakat. Al-Quran dan Hadist tak boleh dilihat lagi secara abstrak dan filosofis, tapi dikaji keseluruhan dengan konteks ruang dan waktu sejarahnya.

Ia juga menghimbau untuk memahami adanya perbedaan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul utusan Allah SWT dengan Nabi Muhammad SAW sebagai insan yang menjalani kehidupan seorang suami, panglima perang, kepala negara dan lain-lain. Sebagai Rasul, ia melaksanakan ajaran-ajaran yang mesti dicontoh. Namun, sebagai manusia dengan peran lainnya, ia punya modus dan kepentingan yang sifatnya manusiawi dan kondisional.

Tesis itu mengedepankan kebutuhan akan konstelasi penafsiran islam di zaman nabi dan zaman kini. Menurutnya, hukum-hukum islam tak seluruhnya fundamental atau mesti diikuti sepanjang jaman, melainkan ada yang sebijaknya diserap nilainya untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tidak ada hukum yang melepaskan diri dari ruang dan waktu hukum itu dilaksanakan, jika memang hukum itu dimaksudkan untuk menyejahterakan masyarakatnya. Alih-alih memaku sikap anti kebudayaan, umat seyogyanya membangun hubungan kreatif dengan Al Quran dan Al Hadist.

Ahmad Wahib juga mengkritisi praktik pelekatan predikat ‘islam’ pada sistem sosial seperti sistem pemerintahan islam, sistem moneter islam, sistem ekonomi islam dan sebagainya, yang mana berpotensi kuat mengislamkan hal-hal yang non-agama dan meng-transedental-kan yang imanen. Termasuk fatwa-fatwa sembarangan dan vonis-vonis keagamaan.

Selain perihal ketuhanan, saya juga kembali tersedak mengetahui ia juga meributkan makna dan eksistensi ‘kaum intelektual’, perkara yang terus saya pertanyakan sejak dua tahun terakhir. Wahib menuturkan jika kaum intelektual adalah mereka yang educated, kreatif, memiliki gairah pengabdian dan bertanggungjawab. Menurut Rosihan Anwar, intelektual merupakan mereka yang berpengetahuan luas, memikirkan tentang hari depan umat manusia dan kemanusiaan. Atau bahkan menurut S.Tasrif, intelektual adalah ‘professionals rebels against all authority’. Kurang lebih, pegangan kaum intelektual secara umum adalah kemanusiaan.

Ini lantas kian mengukuhkan keputusan saya untuk tidak sudi ikut prosesi wisuda (yang esensinya ‘perayaan lahirnya intelektual-intelektual bangsa yang baru’) kelulusan saya yang harusnya dihelat bulan depan. Berapa persen lulusan mahasiswa yang punya intensi pada kemanusiaan? Yang lebih pada “Apa yang akan saya lakukan untuk masyarakat?” dibanding “Setelah ini saya kerja dengan gaji berapa?” Beberapa teman yang sudah sarjana dan bekerja, bahkan berpengetahuan luas saja tidak. Dikasih tahu pun tidak mau tahu, bebal mencari aman di ketiak kepegawaian mereka. Pertanggungjawaban kesarjanaan mereka sudah menguap entah kemana. Dan saya tidak mau Ibu saya berbangga dan umbar pamer anaknya menjadi peserta dari perayaan simbolik omong kosong itu.

Mengingat cukup polemis, buku ini ditutup dengan sejumlah artikel resensi serta respons akan buah kontemplasi Ahmad Wahib. Mulai dari Tempo yang menganggap Wahib sebagai seorang pencari muslim sejati yang mempertebal keimanan dengan metode ‘menggugat’, hingga menteri agama pertama Indonesia (Mohamad Rasjidi) yang malangnya (sebagai pihak kontra) seolah berupaya mengkritisi tanpa benar-benar membaca bukunya, hingga berakhir sibuk mengulas kisah-kisah tidak penting di luar isi buku (Dari sedemikian banyak substansi besar yang bisa diperdebatkan, justru yang ia ambil contoh sebagai masalah adalah ketika Wahib menyebut kenalan-kenalan nasraninya sebagai orang yang ramah). “Bukankah ini suatu pandangan yang sangat dangkal?” tulis Bapak Menteri yang saya kira tengah membicarakan dirinya sendiri.

Sementara, mungkin, kini Ahmad Wahib sudah menemukannya:

“Adakah Tuhan besar karena manusia merasa kecil di hadapan ombak yang gemuruh bergelora? Adakah Tuhan Agung karena manusia merasa tidak berdaya di hadapan alam yang luas, laut yang tiada bertepi? Kalau begitu Tuhan besar karena kekecilan manusia. Alangkah sederhananya ketuhanan yang demikian.

Aku tak mau Tuhan yang seperti itu!

Bagiku Tuhan tidak kontradiksi dengan manusia. Aku mencari Tuhan yang lain.”

Advertisements