Tags

, , ,

Republik Plato

“Anjing adalah seorang filsuf sejati. Karena ia membedakan wajah teman dan wajah musuh hanya dengan kriteria tahu dan tidak tahu”.

Republik merupakan salah satu literatur paling mahsyur di zaman pra-masehi, khususnya dalam tataran keilmuan filsafat. Sebuah karya yang memberi gambaran mencengangkan (setidaknya buat saya) akan kondisi sosial-politik era kuno. Plato membicarakan hal-hal yang faktanya masih sedemikian relevannya di masa kini, seperti tatanan negara, perangkat hukum, feminisme, sensor literatur anak di bawah umur, hingga kampanye pendidikan musik dan olahraga di sekolah. Ini yang lantas membuat saya sempat menderita gagap haluan pemikiran tentang alur peradaban di kepala. Plato dengan Republik (400 SM) sudah bicara banyak tentang negara, hukum, astronomi, dan geometri, sementara hampir satu millennium setelahnya, Nabi Muhammad SAW baru sibuk menguraikan halal-haram dan surga-neraka. Bahkan—koreksi jika salah—sang Rasul agaknya belum pernah kedapatan menyebutkan istilah ‘sekolah’. Paling banter ya ‘Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Komunis Cina’.

Serupa dengan sebagian pustaka-pustaka kuno lainnya, olah pemikiran Plato di Republik dituturkan dengan gaya dialog antar tokoh-tokohnya. Protagonisnya adalah sang guru, Socrates, yang membuka perdebatan perihal definisi dan makna keadilan, hingga bergerilya ke ranah problema lain. Dalam merembukkan hal ihwal kesenian, diantaranya ia juga sempat merespons ilham karya-karya sastrawan legendaris, Homer, serta melayangkan konsep menarik bahwasanya kekayaan dan kemelaratan menjadi salah satu penyebab timbulnya kemerosotan seni.

Gagasan paling riil dari Republik adalah usulan Plato tentang struktur pemerintahan terbaiknya, yang berwujud aristokrasi. Bukan sekedar aristokrasi turun-menurun atau monarki, melainkan aristokrasi kepiawaian, dimana kekuasaan di tangan orang-orang terbaik di negerinya yang dipilih tidak lewat pemungutan suara. Keanggotaan dalam kelas penguasa itu sengaja dirancang agar tak menjadi rebutan banyak pihak, karena orang-orang di dalamnya tidak boleh kaya. Kekayaan pribadi begitu dibatasi dan mereka tak boleh memiliki keluarga sendiri. Mereka hanya boleh memiliki pasangan dari kalangan yang sama. Kompensasi bagi mereka bukan harta, tapi kepuasan melayani publik. Saya sendiri percaya orang-orang aneh mulia semacam itu selalu ada. Coba aja cari di Jawa.

Kendati sempat diadaptasi oleh sistem Gereja Katolik di Eropa abad pertengahan yang terdiri dari jajaran elit yang tidak memiliki keluarga, namun sistem politik yang disarankan di Republik tersebut belum benar-benar pernah diterapkan sebagai model pemerintahan sipil manapun. Apa yang saya rasa menarik dari konsep tersebut adalah bahwasanya Plato mungkin telah meyakini sepenuhnya bahwasanya tamak merupakan sifat induk manusiawi, hingga kekuasaan seyogyanya memang hanya diserahkan atas iktikad dan dedikasi pengabdian. Iming-iming dan peluang penguasaan harta benda hanyalah cikal bakal dari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Tuhan, kalau dia baik, berarti bukanlah pencipta dari segala sesuatu yang ada, seperti sering dikatakan orang. Ia hanyalah penyebab atau pencipta dari beberapa hal saja, bukan semua hal yang terjadi pada manusia. Karena hanya sedikit kebaikan yang dialami oleh manusia, sedangkan kejahatan yang dilakukan manusia sangat banyak.”

Advertisements