Tags

, , ,

The-Art-Of-War_314x480

Dibanding meramaikan euforia serial televisi drama fantasi Game Of Thrones—yang nyimak jumlah episodenya aja udah bikin mundur teratur—saya lebih memilih baca buku The Art of War. Kontennya sedikit banyak sama-sama ihwal perang dan politik. Selain kovernya apik, buku ini adalah barang paling berkesan, tercinta, dan BERMANFAAT yang pernah diberi oleh calon Ibu dari anak-anak saya (Njiiing, ayo seks!!). Pasca biasanya mengado bunga-bungaan nggak jelas, tiba-tiba dia memberi saya buku perang. Jelas ada udang di balik batu ini. Jangan-jangan dia sengaja biar saya terobsesi bertempur, lalu berangkat ke Timur Tengah, keserempet rudal, dan akhirnya dia punya kesempatan dan kebebasan penuh mengado saya bunga-bungaan (kubur) lagi setiap tahun tanpa mendengar saya mengeluh. Taktis.

Biar saya cari tahu itu nanti. Yang pasti The Art of War adalah karya salah satu penulis jagoan saya, Machiavelli, pemikir politis modern pertama. Jika The Prince—mahakaryanya yang sudah saya baca dengan maha susah gara-gara terjemahan maha kacrut—memperbincangkan manuver politik secara lebih luas, buku ini fokus pada salah satu perangkatnya, yaitu peperangan. Seorang Voltaire bahkan ikut menyumbang testimoni, dimana Machiavelli dipandangnya sebagai sosok yang mengajarkan seni berperang di Eropa, terutama dengan The Art of War selaku karya militer klasik yang menjadi sumber pengetahuan kemiliteran modern. Konon, buku ini juga bacaan favorit Napoleon Bonaparte, panglima perang yang kadang overrated itu.

Kala Aristoteles dan pengikutnya masih sibuk mengulas perebutan kekuasaan sebagai sesuatu yang tabu, Machiavelli berulang kali menegaskan bahwa kekuatan militer adalah landasan dari masyarakat sipil, dan seni berperang memiliki gaya yang sama dengan seni politik. Dari kacamatanya, kedamaian hanyalah salah satu manuver konflik. Kedamaian sipil—seperti yang kita alami sekarang—sejatinya sekedar jeda antara masa-masa kontak senjata. Ia hanya di bawah permukaan dan menunggu waktu untuk meledak sewaktu-waktu.

Sedari The Prince, Machiavelli terus mengampanyekan perlunya prioritas mengandalkan pasukan perang dari warga sendiri (milisi atau laskar rakyat) dibanding pasukan bayaran (condotteri). Baginya, tentara bayaran laksana bom waktu yang lebih berbahaya untuk penyewanya daripada musuh penyewanya. Lantas, ia menganjurkan program wajib militer bagi warga negaranya, dengan preferensi merekrut orang-orang dari pedesaan yang diasumsikan lebih terbiasa untuk bersabar dengan hidup keras dan keletihan, serta tidak korup.

Dalam The Art of War, Machiavelli banyak menyinggung kebesaran bangsa Romawi sebagai bangsa petarung, dan menurutkannya dalam berbagai referensi taktiknya. Disiplin adalah esensi terpenting dari garis besar strategi Machiavelli. Hal ini yang dianggap paling memberikan pengaruh bagi perkembangan ilmu militer selanjutnya. Max Weber bahkan menaksir bahwa kultur disiplin dalam jagat seni perang lantas melahirkan jenis-jenis senjata baru, termasuk bubuk mesiu.

Saya sendiri memilih memintas dan enggan membaca ulasan-ulasan di The Art of War yang bersifat teknis seperti paparan formasi, penempatan kuantitas pasukan, set-set pergerakan atau perhitungan matematis lainnya. Toh konteks strateginya tak lagi relevan untuk jaman sekarang (Era sudah menyambut perang drone, dia masih memperbincangkan strategi membunuh kuda). Mau formasimu 4-4-2, 3-5-2, 6-6-6, atau berapa pun, kalau kejatuhan nuklir juga mau jadi apa?

Ulasan yang paling saya nikmati di The Art of War adalah penuturan trik dan siasat-siasat perang yang pernah dilancarkan dalam kasus pertempuran-pertempuran riil (terutama di bab 4). Kadang lebih berkesan daripada menonton film-film perang kuno Hollywood ala Braveheart atau Toy Story Gladiator. Makan tuh beberapa di antaranya:

• Marius mempercundangi orang-orang Cimbri dengan taktik mengacaukan kavaleri musuh dengan suara bising, gajah, unta, atau gerobak sapi yang dibakar, serta menghindari posisi perang yang berlawanan dengan arah angin (yang membawa debu) dan sorot sinar matahari yang menyilaukan.

• Setelah bertempur dari pagi hingga malam dan kehilangan sejumlah besar prajuritnya, Titus Didius dari Romawi memerintahkan agar prajuritnya yang gugur dikuburkan malam itu juga, sehingga esok harinya, musuh yang melihat bagitu banyak anak buahnya sendiri—dan begitu sedikitnya orang Romawi—yang terbunuh, mengira pihaknyalah yang kalah, dan dengan serta merta mulai mundur.

• Beberapa upaya taktis dalam meningkatkan spirit bertempur pasukan juga mengesankan. Misalnya Philip dari Macedonia, sengaja menempatkan sepasukan kavaleri di garis belakang tentaranya dengan perintah membunuh siapa pun yang berusaha meninggalkan barisannya. Alhasil, tentaranya mau tak mau bertempur berapi-api dan nothing to lose demi mengejar sisa peluang hidupnya.

• Sertorius, dalam sebuah pertempuran melawan orang-orang Spanyol, membunuh salah seorang anak buahnya yang menyampaikan kabar bahwa salah seorang jenderalnya terbunuh agar berita itu tak memadamkan semangat tempur pasukannya.

• Untuk menambah semangat tempur, beberapa jenderal Romawi bahkan mencabut sepasang panji-panji pasukannya dan melemparkannya ke tengah-tengah musuh seraya berjanji akan memberikan imbalan yang setimpal bagi orang-orang yang bisa mengambilnya kembali.

• Agesialus, seorang Sparta mempertontonkan beberapa orang Persia yang sudah ditelanjangi, agar pasukannya yang melihat kulit mereka yang lembut dan putih tak akan lagi punya alasan untuk takut pada orang Persia.

• Menghadapi insiden seperti penghianatan, seorang Lucius Sulla menyebarkan desas-desus di kalangan pasukannya bahwa itu merupakan tujuan rahasia dari perintahnya sendiri. Alih-alih pasukannya ketakutan, mereka justru bertempur gagah berani. Saat pasukan kirimannya terbunuh dalam sebuah serangan, ia juga segera mengatakan bahwa ia sengaja mengirim mereka dalam tugas agar dihabisi musuh karena mereka penghianat.

Advertisements