Enam cendekiawan melingkar tengah malam

Tapi jangan harap esok ada perang

Ini bukan temu pahlawan

Aku bisik komunis saja cendekiawan kocar kacir

Cendekiawan bertoga tersangkar buku sejarah sekolah

Apalagi penjaja nasi goreng sebelah

 

Cendekiawan bilang ceritaku ngeri

Bagaimana aku tak balas ngeri?

Cendekiawan punya otak tak punya nyali

Yang dusta dibisukan asal kepala masuk toga

Yang bangsat disahajakan asal gelar masuk kuasa

Yang lampau dilupakan, yang esok diredupkan

Asal yang kini ada dasi dikenakan

 

Lalu apa kelak ananda bersedia lahir?

Beralas tangan-tangan rapuh

Kami bisa baringkan kasur paling lembut

Dan kelambu paling ayu

Tapi masa depan kami tak punya

 

Lalu untuk apa ananda kemari?

Andai memeluk ananda pun kami tak berhak

Untuk jadi korban?

Untuk pedihkan egois kami?

Untuk saksikan nista kami?

 

Putraku tak butuh rongsok ijazah

Putriku tak butuh cendekiawan

Kelak di rengek pertamamu

Kubalas “Maaf”

Advertisements