10. Tori Amos – America


Sebagai nomor pelopor konsep besar Unrepentant Geraldines, “America” mengambil inspirasi dari karya-karya Diane Arbus, fotografer yang termahsyur dengan potret-potret kaum termarjinalisasi. Dan masih secara anggun, Tori Amos sukses menyuarakan kegagalan warga Amerika Serikat di generasi modern untuk menjadi orang tua, pekerja, dan pemerhati politik yang baik secara bersamaan.

9. Sam Smith – Stay With Me


“Saya ingin berterimakasih pada laki-laki yang menjadi sosok yang dibicarakan di lagu ini dan membuat saya jatuh cinta di tahun lalu. Terima kasih telah menghancurkan hati saya karena saya jadi mendapat empat Grammy,” tukas Smith di podium kemenangan Record of The Year-nya. Jika saja lagunya tidak sebagus itu, tidak ada rasa hormat untuk sosok pria secengeng ini.

8. Warpaint – Love To Die


Bagaikan permukaan air tenang yang tersedak riak-riak kecil, Warpaint mengawinkan indie rock dengan gelombang dream pop yang buahnya begitu emosional, terutama di bagian refrain: “Love is to die / love is to not die / love is to dance”

7. The War On Drugs – Red Eyes


Kita membuka mata, dan adalah perjalanan Adam Granduciel yang terhampar luas dengan gelimang synth yang bertahap membawa kita ke tingkat sublimasi, melewati sorot-sorot Smiths dan sedikit new wave. Ada rona juang yang coba ia lampaui.

6. The Black Keys – Turn Blue


Lagu yang ditulis di pertengahan proses perceraian Dan Auerbach dan istrinya ini membuat kita tak bisa melupakan spiral ungu-biru di kover album Turn Blue. Blues, pop dan soul saling beriringan dalam alunan mid-tempo remang, dan it’s definitely turn blue.

5. Against Me! – Transgender Dysphoria Blues

“Transgender Dysphoria Blues” sekilas hanya seperti intro atau pembuka album, namun bagi tiap-tiap mereka yang terombang-ambing dalam identitas jender, sebuah pembuka adalah hal terberat yang mesti ditempuh. Dan penantian akan datangnya messiah bagi mereka tersambut lantang di lagu ini. (“Your tells are so obvious / Shoulders too broad for a girl / Keeps you reminded / Helps you to remember where you come from”)

4. The Antlers – Intruders


Terompet yang menjadi pengawal terhormat di mayoritas konten Familiar mesti mempersilahkan pattern bas funky nan elegan untuk menjalankan tugas mulianya di “Intruders”. Sebuah iringan anggun bagi rintihan agung Peter Silberman pada “Why’d you let me let you in when I was younger? And why’d I need to?”

3. Damon Albarn – Everyday Robots


“Saya sedang menyaksikan orang-orang di sekitar saya dan semuanya tersasar di dunia kecil mereka: telpon, dan mendengarkan musik,” tukas Albarn, dalam sebuah kemacetan jalan yang menyadarkannya akan semakin dekatnya ramalan “The Universal” yang ia karang sendiri hampir satu dekade silam. “We are everyday robots on our phones”, lantunnya bersama biola ganjil dan bebunyian perakitan massal android yang mencekam.

2. Jack White – Lazaretto


Adanya fakta bahwa salah satu lagu terbaik di tahun ini juga merupakan pemegang rekor rekaman dengan proses produksi tercepat di dunia tak akan terlalu memeranjatkan jika White adalah dalangnya. Kurang dari dua jam, ia menyamar menjadi Tom Morello dan Zack de la Rocha untuk mengacak-acak amplifier Rage Against The Machine, lengkap dengan groove-groove, solo gitar, dan permainan biola yang nyelekit.

1. Lana Del Rey – Brooklyn Baby

Rasa jengkel terus mendera kala mesti menentukan yang terbaik dari “Brooklyn Baby”, “Ultraviolence”, dan “West Coast” . Tak ada yang berbeda dari ketiganya–pun seluruh materi pada Ultraviolence—dalam hal lanskap sinematik sephia beraransemen kaya namun gersang. Akan tetapi, “Brooklyn Baby” memuat kocokan gitar lugu dan vokal terengah Lana Del Rey dalam kegetiran yang paling menyayat nestapa, terutama tiap ia melagukan “I’m a Brooklyn baby”. Saya suka Adele, Lorde, dan pernah mencoba menghafalkan lirik lagu-lagu Avril Lavigne, namun Lana Del Rey adalah kali pertama saya meminggirkan ego pemadat musik rock demi seorang bintang pop wanita.

Advertisements