10. Yura Yuanita – Yura

Yura lebih besar dari sekedar kolaborasi dengan Glenn Freddly, “Cinta dan Rahasia” sebagai hit album ini yang sukses menjerat para pendengar radio. “Balada Sirkus” dan “Kataji” misalnya, punya aransemen riang bernuansa festival yang belum tentu sanggup disentuh solois lain. Sebuah album pop yang ramah namun tetap punya daya kejut.

9. Vague – Footstep

Post hardcore yang lebih memilih canggih mendetail dibanding luluh mewujud emo yang melodrama. Kompleksitas permainan gitar dalam Footstep terjahit mengalir, disertai beberapa momen disonansi yang apik. Ada sekelebat Joy Division dan atmosfer shoegaze yang merayap perlahan di setiap plot lagu. Beginilah kalau post hardcore dimainkan oleh tangan-tangan dingin.

8. VA – Memobilisasi Kemuakan

memobilisasi kemuakan

Album kompilasi para golongan putih ini merupakan kutub lain dari fenomena euforia kesadaran berpolitik musisi di pemilu tahun lalu. Dan jika golput adalah semata apatisme banal, tak akan ada kompilasi radikal serapi ini. Selusin kolaborator di dalamnya tak hanya asal melagukan orasi. Genderang  propaganda ditabuh bergantian dengan konten musik yang matang oleh Eye Feel Six, Milisi Kecoa, Ayperos, dan sebagainya. Terlepas apa jadinya akhir relasi tiap pendengar dengan tinta pemilu, Memobilisasi Kemuakan merupakan metode pernyataan sikap politik yang mengagumkan, terutama diantara kepungan lagu kampanye tolol Ahmad Dhani.

7. Rabu – Renjana

album_art_yesno075

Diantara umat musisi minimalis berlabel folk yang membanjir belakangan di Nusantara, saya kira tak ada yang semudah Rabu untuk diidentifikasi. Atmosfir gersang, vokal dark-baritone Wednes, petikan gitar temaram, dan hingga di titik ini saya sudah bosan untuk mencari kata-kata yang berasosiasi dengan ‘mistis’ setiap kali mesti mendeskripsikan Renjana. Kali ini saja, biarkan saya menggantinya dengan kutipan nasehat seorang kawan, “Jangan dengerin Rabu pagi-pagi, nanti sehari itu rasanya bisa jadi galau terus“

6. Matajiwa – 1 ( Part 2)

361b8-mata-jiwa

Ada perserupaan antara Jack White dan Anda Perdana: musisi orbitan awal milennium yang beranjak menjadi gitaris merangkap komposer bertalenta dengan segala karisma dan kreasi yang tak pernah biasa. Sepadan dengan Part 1, Part 2 dari album 1 bagaikan The White Stripes dari timur. Folk rock bluesy dengan eksplorasi etnik rancak yang tidak mungkin terwujud jika ia tak memilih Reza Achman sebagai tandemnya. Praktis, Matajiwa masih adalah duo terbaik tahun ini.

5. FSTVLST – Hits Kitsch

fstvlst

Laksana sebuah karnaval gemerlap yang dihelat oleh kuartet seniman girang kerasukan yang ranjing menertawakan kemunduran dunia, Anda akan mendapat suguhan pesta dansa terayan (“Tanah Indah Untuk Para Terabaikan Rusak dan Ditinggalkan”) orkes balada Jawa (“Akulah Ibumu”), panggung syair terarak (“Hal-hal Ini Terjadi”),  garage rock huru hara (“Hari Terakhir Peradaban”) dan sebagainya. Segala varian hingar bingar itu tersatukan oleh melodi-melodi yang ramah.  Hits Kitsch membantah logika awam bahwa art rock mesti sulit dinikmati.

4. Sangkakala – Heavy Metalithicum

sangkakala

Glam rock 80an tinggal menyisakan sepasang nabinya di tanah air, yakni Sangkakala dan Gribs. Keduanya merilis album di tahun ini, dan—kecuali aspek perfeksi vokal dan sound—Heavymetalithicum telak melibas Thunder milik Gribs. Album berkonsep live gadungan ini menyuguhkan packaging yang lebih berkobar, lirik yang lebih amoral, riff-riff yang lebih murka, dan substansi heavy metal yang lebih primitif, definitif, dan meluluhkan seluruh medan laga. Jika kemudian Anda pun menyukai gegap gempita konser dan bebodoran panggung mereka, maka itu adalah bonusnya, bukan sebaliknya.

3. Maliq & D’Essential – Musik Pop

maliq - musik pop

Tak selalu ada kelompok seperti Maliq & D’Essential yang berhak sekalian berkenan mengajarkan kembali bagaimana memainkan musik pop yang membanggakan. Contohnya dengan menawarkan eksperimen ciamik ala Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band  dari The Beatles lewat instrumen 60an seperti mellotron atau tangan dingin Indra Lesmana di intro “Ananda” dan solo synth panjang di “Nirwana”. Secara komersil, Musik Pop mungkin kalah berjaya dibanding Sriwedari misalnya, namun karya seperti ini memang tengah diidam-idamkan musik pop yang makin kehilangan derajatnya.

2. Navicula – Love Bomb

lovebomb

Jika ada album yang boleh saya taruh di meja kerja presiden anyar kita, maka itu adalah Love Bomb, yang bagaikan rangkuman problema, kelalaian dan ketamakan negara. Semakin ke sini—hingga album ketujuh—Navicula  justru makin menemukan tajinya. Dan bukan semata studio Amerika yang membuat album ganda tersebut begitu meletup-letup, melainkan memang materi di dalamnya yang solid, ditunjang juga deretan single lama yang berhulu ledak tinggi seperti “Mafia Hukum”, “Mafia Medis”, dan “Metropolutan”. Belum lagi andai kita bicara kemasan albumnya terbuat dari apa.

1. Tulus – Gajah

tulus-gajah

Adu mulut tak banyak diperlukan untuk memilih Gajah sebagai yang terbaik. Sosok raksasa Tulus begitu menyembul tahun ini, baik di kancah bawah tanah maupun Top 40. Pada Tulus—album  perdana, rilis tahun 2011—ia masih hanya terdengar setingkat lebih baik dari tren pop jazz klise oleh RAN, HiVi!, band-band kampus, dan semua pengekor Maliq & d’Essentials. “Inilah aku yang baru / Nikmatilah kejutanku,“ begitulah Tulus membuka Gajah dengan “Baru”. Ia sukses menciptakan buaian pop yang segar, dengan sentuhan soul dan motown pada gaya bernyanyi yang rileks namun intuitif. Pun ketika “yang penting jujur” jadi pembenaran paten bagi para penyanyi pop berlirik norak, Gajah menunjukan bahwa jujur dan kualitas bisa berkawan karib. Simak piihan kata sederhana namun menolak rima dan tak mudah diterka pada“Gajah”, “Sepatu”, atau lagu yang paling kerap diunggah di media sosial tahun ini, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”. Malang, ia tampil apa adanya dan nyatanya kita begitu mencintainya.

Advertisements