10. Tune Yards – Nikki Nack

Nikki_Nack_artwork
Merrill Garbus kembali dengan Tune Yards, proyek musik eksentrik yang sesuai dengan kebiadaban seni yang selalu ia tampilkan sebelumnya. Nikki Nack membawa wahana worldbeat playful yang kadang kala terdengar seperti bunyi pinball, video games Windows 98, balita yang berebut mainan listrik, hingga tarzan yang tersasar di sebuah panggung musik elektronik.

 

9. St Vincent – St Vincent

St_Vincent_artwork
Salah satu pakar instrumen wanita terbaik di generasi ini, Annie Clark alias St Vincent, masih dalam performa puncaknya. Ia mengisi jagat indie pop dengan guntur-guntur noise seperti pada “Birth In Reverse”, “Bring Me Your Loves”, dan solo gitar ala Brian May—dengan sound antariksa—di “Regret” atau “Rattlesnake”. Di momen lain, ia turun ke bumi dan bersimpuh pada Ibunya lewat “I Prefer Your Love”. St Vincent menemukan singgasananya di album ini.

8. Tori Amos – Unrepentant Geraldines

UnrepentantGeraldines
Menyebut Unrepentant Geraldines sebagai album tiga dimensi, Tori Amos memetik pengalaman-pengalaman terluhurnya dengan seni visual sebagai inspirasi. Digarap secara sembunyi-sembunyi, kita dapat membayangkan biduan agung ini menghadap piano klasik di ruang teduh bermandikan alunan komposisi chamber pop dan nada-nada vokal elok seraya mengimajinasikan karya-karya lukis termolek. Ia percaya bahwa apa yang ia lihat mampu mengingatkan kembali esensi sebuah pesona, laiknya kita percaya pada apa yang kita dengar di album ini.

7. The War On Drugs – Lost In The Dreams

homepage_large.9419e472
“Ini bukan rekaman band. Ini adalah rekaman solo. Saya tahu itu. (Album The War on Drugs) semuanya merupakan rekaman solo,” ujar Adam Granduciel tentang Lost In Dreams, yang terbangun dari peperangan depresi dan paranoia personalnya. Album ini menggelora bak U2 atau Bruce Springsteen dengan atmosfer ambience yang lebih berkaca-kaca. Ada kala vokalnya terdengar seperti Bob Dylan. Granduciel mampu membuat dirinya benar-benar kelihatan sebatang kara, namun begitu nyaman disana.

6. The Antlers – Familiars

homepage_large.abc5c942
Di album kelima ini, The Antlers menyajikan atmosfir duka dengan bisikan terompet yang menambah kegundahan epik pada lorong-lorong dream pop. Sejak dibuka dengan “Palace”, kita terbangun dalam sebuah kastil arkais Eropa di film-film serumpun Beauty and The Beast atau Robin Hood. Adegan mengendap-endap tak akan lolos dari pattern bas menawan di “Intruders”, sementara“Director” mengalirkan aroma shoegaze yang subtil. Peter Silberman, selaku pemuka The Antlers, nampak tak kesulitan mengendalikan produktifitas tinggi bandnya.

5. Damon Albarn – Everyday Robots

Damon-albarn-everyday-robots

Dari seorang kreator proyek musik berandalkan futuristisme seperti Gorillaz, Albarn tiba-tiba malah membawa topik nature versus technology di album solo perdananya. Tak semata dari segi lirik, ia juga sengaja membangun atmosfir sayu dari pertengkaran antara unsur mutakhir elektronik dengan instrumen kodrati seperti gitar akustik, biola, piano, kora (semacam kecapi dari Afrika) dan segala perangkat untuk ‘memanusiakan’ Gorillaz. Pada akhirnya Everyday Robots masih menampilkan Albarn yang sama: seorang penanti distopia yang brilian.

4, The Black Keys – Turn Blue

kflyfm.com (The Black Keys)
Tatkala baru di album keenam (Brothers) dan ketujuh (El Camino) The Black Keys singgah di zona band kelas satu, tuduhan pembebek The White Stripes pun baru mencuat. Entah apa itu kemudian yang membuat mereka melakukan pergeseran musikalitas impresif yang sepintas mirip dengan album paling spektakuler tahun lalu, AM (Arctic Monkeys). Bedanya, Turn Blue punya solo-solo gitar dan—masih menyisakan—garage blues yang candu. Persamaanya, keduanya beralih lebih gelap dan lamban tanpa menjadi tabu untuk kita berdansa di dalamnya.

3. Against Me! – Transgender Dysphoria Blues

Against-Me-Transgender-Dysphoria-Blues1

Dengan realitas bahwa mereka adalah band punk tenar yang banyak bicara tentang kaum transgender dan memang dipimpin oleh seorang vokalis pria yang berganti jender menjadi perempuan, Against Me! sudah punya modal besar untuk didengar. Namun, Transgender Dysphoria Blues tak hanya menjual itu. Bersama teriakan Laura Jane Grace yang berkobar-kobar dan pergolakan anthemic ala White Crosses, album ini bak badai kencang bagi pranata suratan hidup umat manusia. Kian lama sudah, akhirnya punk rock punya ancaman baru.

2. Jack White – Lazaretto

jack-white-lazaretto

Berdua di The White Stripes, ia begitu bergema. Namun, kala sendirian, ia malah punya kendali penuh yang ajaib akan seantero elemen aransemen blues, folk, hip hop dan lo-fi di Lazaretto. Setiap lagu di album mengerikan ini seolah merupakan pentas dari kawanan instrumen bernyawa yang melayang dan punya kehendak sendiri. Tak karuan namun cemerlang. Lazaretto membuktikan bahwa seberapapun White dikucilkan dan diisolasi, ia selalu membuat not-not virtuoso atau keselarasan dalam bermusik makin tak ada artinya.

1. Lana Del Rey – Ultraviolence

lana-del-rey-1403216007
Sejak Amy Winehouse, silih berganti mulai lahir figur solois wanita yang menjadi mawar tumbuh diantara pop dance bokong tak bermakna di tiap tahunnya. Sebut saja, kita punya Adele, Lorde, dan kini Lana Del Rey. Saya memantau proses penggarapan Ultraviolence dari awal 2014, dimana ia menjalin kerjasama spontan dengan salah satu produser—merangkap musisi—terkompeten saat ini, Dan Auerbach (The Black Keys) “Lagu-lagu demonya sangat bagus dan sangat kuat. Saya tak ingin merusaknya. Seperti itulah rekamannya, tujuh instrumen band dan nyanyiannya. Itu gila,” ungkap Auerbach. Ultraviolence menanak ulang Born To Die—yang banyak dicerca— dengan pengoptimalan sound reverb dan vokal jazzy yang rapuh untuk menghasilkan lagu-lagu patah hati terbaik tahun ini (“Ultraviolence”, “Cruel World”), ode untuk Lou Reed (“Brooklyn Baby” ),“Royals” versi Del Rey (“Money, Power, Glory”) serta pesona sinematik dari layar lebar klasik seperti Sunset Blvd., Casablanca, atau Lolita. Setengah dari daftar Album of The Year ini ditempati penyanyi wanita (termasuk Laura Jane Grace), namun Lana Del Rey merupakan satu-satunya yang benar-benar bernyanyi sebagai wanita. Jelita bersama rasa sakitnya.

Advertisements